Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts

Wednesday, March 7, 2012

Kopdar IIDN - di Rumahku

Nunu, Uty, dan Ayu
Ada yang berbeda dengan kopdar Ahad 4 Maret ini. Untuk pertama kalinya teman-teman dari IIDN Makassar – sebuah komunitas yang para anggotanya aktif ‘bertemu’ di dunia maya, ngumpul di rumah untuk kemudian bergerak menuju panti asuhan Annur yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari rumah.

Karena terhalang cuaca yang tidak bersahabat, cerah dan hujan berganti-ganti, kopdar yang sedianya dimulai pukul 10.30 terpaksa molor. Teman-teman yang naik sepeda motor harus berteduh beberapa kali sebelum sampai di rumah. Belum lagi mencari alamat rumah di daerah yang penomorannya ambradul ini. Mursyidah yang bertempat tinggal di kabupaten Maros membutuhkan waktu hingga lebih dari dua jam di perjalanan. Padahal jika cuaca cerah, waktu yang ditempuhnya hanya sekitar 30 – 40 menit.


Pukul 12 akhirnya kami ngumpul juga. Ada Phuji Astuty Lipi (Uty), Marisa Agustina (Icha), Nur Sahadati Amir (Nunu), koordinator IIDN wilayah Makassar: Erlina Ayu (Ayu) beserta suami dan kedua jagoannya, Mursyidah (Ida) beserta kedua balitanya, dan saya sendiri.

Dengan suguhan seadanya (maluuu J), kami membicarakan mengenai dunia penulisan. Lebih banyak seputar ide menulis dan menerbitkan buku. Menurut Ayu yang pengalaman dalam menerbitkan buku anak (buku-buku karyanya kebanyakan diterbitkan oleh penerbit Mizan), ide menulis banyak. Tak ada ide yang benar-benar baru. Ide yang sama pun akan menjadi tulisan yang berbeda bila dituliskan oleh dua orang. Karena masing-masing orang memiliki sudut pandang yang unik. Tinggal bagaimana mengolah ide itu hingga menarik untuk dibaca.

Akbar dan Fikri, ikut kopdar ^__^
Agensi naskah menjadi pilihan yang tepat untuk orang yang baru dalam dunia menulis tetapi serius ingin menerbitkan buku. Karena agensi naskah akan menyeleksi outline yang dibuat, memberi masukan, lalu menawarkan kepada penerbit yang kompeten. Ini jauh lebih baik ketimbang mencari sendiri penerbit. Karena sekarang ini penerbit luar biasa banyaknya. Jika tak hati-hati penulis bisa saja ditipu oleh penerbit yang tak berkompeten. Sudah banyak kasus penulis yang tertipu.

IIDN Makassar memang perpanjangan tangan sebuah agensi naskah bernama Indscript Redaksi yang dipimpin oleh ibu Indari Mastuti asal Bandung. Maka sebenarnya kami-kami ini sudah sangat dekat dengan penerbit yang kompeten. Tinggal mencoba saja.

Ayu melempar ide-ide dan memotivasi agar anggotanya lebih progresif. Nampaknya kawan-kawan (termasuk diriku) masih malu-malu. Masih perlu ‘dibakar’ lagi rupanya he he he. Maklum, sebagian besar dari kami bergabung dalam grup ini karena bermula dari kesukaan menulis di blog pribadi, bukan karena kesukaan menulis untuk menjadikan ‘penulis’ sebagai sebuah profesi. Tetapi sebenarnya blogger sekaligus penulis, keren juga. Bagaimana menurut Anda?

Makassar, 8 Maret 2012

To be continued ....

Silakan dibaca juga:

Monday, March 5, 2012

Memimpikan Jadi Blogger Seumur Hidup

Hore ... saya bukan blogger semusim!

Berapa sih lamanya satu musim? Paling lama 6 bulan. Musin penghujan dan kemarau kan masing-masing (seharusnya) lamanya 6 bulan. Zaman dulu, musim hujan itu mesti dari Oktober - April dan musim kemarau dari April – Oktober. Sekarang saja yang siklus musim ini kacau, karena perubahan iklim secara global dan sebab-sebab lainnya.

Wah malah jadi membicarakan musim he he he.

Jadi ceritanya, awal ngeblog saya itu sebenarnya tahun 2006. Sebelumnya, pada tahun 2008 menjelang ulangtahun Komunitas Blogger Anging Mammiri yang pertama (HUT-nya tanggal 25 November 2007), suami saya bertemu dengan blogger senior pak Amril Taufik Gobel. Saya, suami, dan pak Amril dulu sekampus di FT UNHAS. Pak Amril menginformasikan tentang acara ulangtahun komunitas blogger Makassar ini yang kala itu diadakan di MTC.


Beberapa hari setelahnya saat suami saya mendatangi warnet milik kawannya di bilangan jalan Urip, ia kembali mendapatkan informasi itu dari sang kawan. Waktu itu papanya Sedja yang bekerja di warnet tersebut juga menginformasikan mengenai acara itu. Maka suami saya tergerak dan datanglah ia pada hari H-nya.

Di situlah pengetahuan tentang blog banyak diperoleh oleh suami saya. Ia kemudian berusaha supaya saya bisa mengaktifkan blog. Maka saya pun memasukkan tulisan-tulisan yang kebanyakan berupa diary mengenai sulung kami Affiq ke blog itu.

Seingat suami saya ia mulai membuat blog untuk dirinya dan untuk saya itu setelah perhelatan itu. Tapi kalau dilihat tahunnya, tayangan perdana di blog lama saya pada tahun 2006. Entahlah, ingatannya yang benar, atau tahun itu yang menunjukkan kejadian yang sesungguhnya. Soalnya ingatan saya tak bisa diandalkan karena lebih parah lagi J.

Yang jelas, sejak sebelum ngeblog sebenarnya saya sudah mulai menulis diary tentang si sulung dan tentang hal-hal yang menjadi bahan renungan sambil sesekali ikut lomba di media massa.

Penampakan blog lama
http://mugniar.blogspot.com
Arsip blog tahun 2006 - 2009
Singkat cerita saya ngeblog dengan tersendat-sendat sampai tahun 2009 karena kami belum memiliki akses internet sendiri. Sesekali saya ke warnet di temani suami, sesekali itu pula saya update blog. Tetapi saat itu saya belum mengenal yang namanya blog walking, tahunya hanya nulis, update, nulis, update sehingga blog itu hanya saya nikmati sendiri (huu tidak seruuu DK). Rasanya lumayan lama saya ngeblog, setidaknya bukan blogger semusim-lah J.

Akhirnya blog lama mati dengan sendirinya. Penyebabnya karena ia tak menginginkan diriku untuk mengutak-atiknya. Tak pernah mengganti password tapi saya tak bisa masuk lagi untuk posting. Jadi ya .. terbengkalai begitu saja. Pelan-pelan kesukaan saya menulis berkurang dan akhirnya berhenti seiring dengan pertambahan jumlah anggota keluarga kami.

***
Awal tahun 2011 -  saat memiliki akses internet sendiri, saya mengaktifkan blog ini yang juga dibuatkan oleh suami. Maka isi blog lama dipindahkan di sini, menempati arsip November dan Desember 2010. Saya pun menemukan semangat di blog ini, berkenalan dengan banyak blogger di seluruh Indonesia bahkan manca negara, bergabung dalam beberapa komunitas blogger (termasuk Warung Blooger), menambah wawasan dalam banyak hal, mengikuti banyak lomba, refreshing dari kepenatan sehari-hari, dan sharing berbagai hal yang menarik bagi saya.

Ternyata ngeblog bukan sekadar menulis dan posting seperti yang dulu saya lakukan. Begitu banyak manfaat dan hal membahagiakan yang saya peroleh. Saya pun bermimpi dan bertekad akan menjadi blogger selamanya – mudah-mudahan aamiin, selama hayat masih dikandung badan.

Makassar, 6 Maret 2012


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Tiga Kata Bukan Blogger Semusim di BlogCamp.


Baca juga yang lainnya ya:


Thursday, February 23, 2012

Rumah Keduaku

Tak terasa sudah setahun saya ngeblog yang benar-benar ngeblog. Dulu, tahun 2006 – 2009, pernah ngeblog di blog lama. Tapi karena tidak punya akses internet sendiri (harus ke warnet untuk update blog), dan entah kenapa -  saya sendiri tak bisa masuk lagi untuk ngedit. Akhirnya blog itu seperti berkarat saja.

Maka suami saya membuatkan blog yang ini. Isi blog lama dipindahkan ke sini, menempati arsip bulan November – Desember 2010. Begitu ada akses internet sendiri maka ngebloglah saya dengan nikmat J.

Blog ini bagaikan rumah kedua bagi saya. Di dalamnya saya merasa nyaman beristirahat. Blog bagaikan petirahan bagi saya dari rutinitas sehari-hari yang menguras fisik dan psikis. Sebagian kelelahan batin seperti melayang pergi setelah menulis, mempublikasi, blog walking, dan membalas komentar teman-teman dunia maya.

Sumber:
http://lolobua.blogspot.com
Menyenangkan sekali rasanya berkenalan dengan banyak blogger dari segala penjuru negeri bahkan dari luar negeri. Bisa bertukar wawasan dengan mereka dan menjalin keakraban. Bergabung di beberapa komunitas blogger seperti Kumpulan Emak-Emak Blogger yang beranggotakan perempuan-perempuan blogger, bukan hanya emak-emak tetapi juga emak ‘wanna be’ (calon emak, alias lajangwati), makin memperluas pergaulan di dunia maya.

Teman-teman saya semakin banyak dan yang menyenangkan dari mengunjungi blog mereka adalah mendapatkan kenyataan bahwa ternyata begitu banyak hal-hal positif yang mereka bagi di dunia maya.

Dengan demikian, saya yakin pengaruh dari blog-blog negatif (misalnya blog-blog yang mengumbar pemuasan syahwat) bisa ditepis karena banyak alternatif materi positif yang bertebaran yang bisa diakses para pengguna internet.

Segala pikiran, renungan, dan curhat saya tuangkan ke dalam blog ini. Semoga bisa mendatangkan perbaikan dalam diri saya. Syukur-syukur jika bisa turut menginspirasi para pembaca blog ini. Selain itu, komentar mereka bisa menjadi umpan balik yang inspiratif bagi saya.

Salah satu hal yang membuat saya bersemangat ngeblog (dan mudah-mudahan selamanya membuat saya bersemangat) adalah keinginan saya untuk mendokumentasikan ‘sejarah’ keluarga saya dalam bentuk tulisan di blog ini. Hingga suatu saat nanti ketiga buah hati saya bisa membacanya dan memperoleh manfaat darinya. Minimal mereka mengetahui betapa saya menyayangi mereka.

Ternyata ‘efek samping’ ngeblog ada juga. Bukan sekadar menulis, saya mendaftarkan diri ke dalam sebuah social media marketing di Indonesia yang memediasi blogger dengan perusahaan yang hendak beriklan. Juga mengikuti berbagai lomba menulis di blog. Kesemuanya memungkinkan saya memperoleh sejumlah barang dan uang J.

Itulah hal-hal yang membuat saya nyaman menghuni rumah kedua ini sekaligus menjadi magnit bagi saya – seorang emak beranak tiga dalam ngeblog. Bagaimana dengan anda?

Makassar, 24 Februari 2012

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Ngeblog di Mata Perempuan yang diselenggarakan oleh EmakBlogger.

Silakan dibaca juga yang lainnya yaa ...


Tuesday, February 21, 2012

Takdir Cinta dan Kehendak Bebas

Sumber:
http://dailyclipart.net
Bagi saya, cinta adalah takdir. Namun menuju takdir, sang pencari cintalah yang memilih jalannya. Kira-kira sama dengan rezeki. Rezeki adalah takdir, tetapi jalan menuju takdir dipilih oleh sang pencari rezeki.

Dalam perjalanan ABG saya, saya bukan tipe orang yang ingin mencoba-coba pacaran. Sejak SMP sudah saya tanamkan dalam benak saya, jika tiba waktunya, saya menginginkan mendapatkan seseorang yang baik yang bisa mendampingi saya hingga ke jenjang pernikahan. Mungkin pilihan ini pula yang membawa saya kepada takdir cinta saya.

Jauh sebelum kami menikah, saya dan suami tercatat sebagai mahasiswa pada jurusan yang sama di kampus kami. Ia lebih senior empat tahun dari saya. Sosok senior yang cerdas, baik, peduli walau tanpa motif, dan tidak pecicilan adalah karakter yang bisa saya tangkap darinya setelah berbagai interaksi di kampus.


Ada hal yang aneh ketika itu. Entah kenapa saya suka sekali bila melihat tiga hal ini ada pada diri seorang lelaki: rajin shalat, memakai sarung, dan menggendong anak kecil. Ketiga hal itu saya lihat pada diri teman-teman secara terpisah. Namun hanya ia yang saya lihat melakukan ketiga-tiganya sekaligus. Sampai sekarang saya tak habis pikir akan ketiga hal aneh itu. Yang jelas itu membuat saya bertambah terpesona padanya ketika itu.

Takdir membawa kami ke pelaminan pada tahun 1999 lalu. Membawa kami mengarungi bahtera kami. Melalui angin sepoi-sepoi, hujan, bahkan badai yang siap menghempas. Siapapun akan mengira semuanya mulus-mulus saja. Padahal yang kami alami tidak seperti kelihatannya.

Secara perlahan takdir itu membawa saya kepada pengertian filosofis tentang sebuah hubungan yang didasari niat untuk ibadah. Bahwa satu sama lain dari kami sejatinya saling melengkapi, saling menguatkan. Bahwa kelebihan  masing-masing kami sejatinya menutupi kekurangan yang lain. Dengan demikian bahtera kami akan tetap berlayar mantap sebengis apapun alam yang dilaluinya. Insya Allah menuju tempat indah di mana semua kebahagiaan bermuara: surga.

Kawan, manusia adalah makhluk yang diistimewakan Sang Mahapencipta dengan satu hal: ‘kehendak bebas’. Pilihlah jalanmu dengan baik, maka engkau akan menemukan takdir cintamu.

Makassar, 21 Februari 2012

Silakan dibaca juga:

Thursday, February 16, 2012

Yang Unik, Award dan Pucuk

Kali ini saya mau cerita tentang dua hal unik, yaitu award dan pucuk.

Award, adalah sebuah istilah yang sekarang lazim di dunia blogging. Rupanya ini semacam wujud saling mengapresiasi di antara sesama blogger. Wujud perhatian yang menggugah. Entah dari mana asal-muasalnya, beredar disain-disain unik award di antara teman-teman blogger. Banner award didisain dengan indahnya dan ‘disampaikan’ kepada rekan-rekan yang dianggap layak menerimanya.

Baru-baru ini saya menerima dua award sekaligus dari teman-teman blogger saya, Hima-Rain  dan pak Harun Ar. Saya tak bisa menebak filosofi award ini namun demikian saya merasa terharu dan tersanjung mendapat penghargaan dari mereka berdua.

Baiklah, ini dia penampakan award-nya:

Award dari Hima

Award dari Hima
Terimakasih ya Hima yang baik, kasih saya dua sekaligus :)
Award dari pak Harun
  
Akhir kata, terimakasih banyak kepada Hima dan pak Harun. Dengan terpajangnya award ini, resmi sudah saya terima penghargaan dari anda berdua.

***

Pucuk itu dulu senang saya pandangi, begitu hijau dan rimbun. Sebagai penyuka warna hijau, warnanya yang begitu alami ditambah kerimbunannya bisa membuat saya terpana.

Sekarang pucuk itu nampak seperti ini:

Pucuk yang dulu banyak 'hijau'-nya itu kini kecoklat-coklatan

Aduh, ke mana hijaunya yang indah dulu?
Saya memperlihatkan foto itu kepada suami. Suami saya berkata bahwa itu tanda-tanda akan ada perubahan besar padanya.

Ah, betapa naifnya saya. Saya memang tak pernah mengamati hal demikian.
Oya, perhatikan saja foto-foto berikut agar anda paham apa yang saya maksud.






Sekarang sudah jelas?
Pucuk itu adalah pucuk pohon mangga tetangga yang berjarak sekitar sepuluh meter dari rumah kami. Saya senang memandanginya dari tempat jemuran pakaian kami di sisi kiri rumah. Kelihatannya sebentar lagi musim mangga, sebentar lagi pucuk-pucuk itu akan digantungi buah-buah mangga. Tak lama lagi ia akan menghijau alami lagi seperti warna yang saya kagumi. Subhanallah. Maha Suci Allah, pencipta warna.


Makassar, 16 Februari 2012

Baca juga tulisan-tulisan berikut ya ..

Monday, February 13, 2012

Timur ke Barat, Selatan ke Utara

Sumber:
http://ameliabelindasilviana.blogspot.com/
Seperti dunia ghaib, dunia maya merupakan dunia paralel bagi kita. Seperti dunia ghaib pula, luas dunia maya tak ada yang tahu. Bagi kita yang makhluk nyata ini, dunia maya yang dapat dimasuki melalui pintu ajaib bernama internet[i] ini seakan lautan tak bertepi yang maha luas di mana berenang di dalamnya, bertahun-tahun pun tak akan ada habisnya. Setiap hari selalu saja ada hal baru yang bisa diperoleh dari dunia maya. Setiap hari selalu saja berubah.

Seperti dunia nyata yang memiliki ‘dua sisi mata uang’ terang dan gelap, atau positif dan negatif, begitu pula halnya dengan dunia maya. Tinggal memilih saja, inginnya berenang di sisi yang mana. Toh resiko ditanggung sendiri, hanya peselancar dunia maya dan Tuhan saja yang tahu apa yang diaksesnya. Hal ini terutama karena makin maraknya berbagai situs jejaring sosial (social network sites)[ii] dewasa ini.

Saya menemukan realita, mengumpulkan massa di dunia maya melalui facebook ternyata tidak begitu sulit. Jika sebuah grup/halaman diminati banyak orang maka dengan cepat grup itu dapat berkembang. Entah grup itu bermuatan positif atau negatif. Lalu bagaimana dengan grup-grup pilihan saya? Sudah tentu saya memilih yang positif dong, yang bisa membawa saya ke arah yang lebih baik lagi. Minimal bisa memberikan informasi berguna bagi saya meski itu hanya berupa info produk J.

Sebagai orang yang baru setahun ini eksis di dunia maya, saya sudah bergabung dengan 40 grup dan banyak halaman (page) di facebook. Sebanyak 22 grup merupakan grup yang dapat mendukung minat saya dalam dunia menulis. Sebuah grup pro ASI yang saya ikuti beranggotakan sebanyak 10.348 orang, beberapa grup yang lain beranggotakan sekitar 1.000 hingga 3.000-an orang. Beberapa lagi beranggotakan sebanyak ratusan orang. Ada juga yang hanya beranggotakan sebanyak 20an orang saja. Salah satu halaman yang saya sukai malah mencapai angka fantastis, disukai hingga 20.000-an orang!

***

Coba saya ingat-ingat apa saja manfaat yang saya peroleh dalam menggunakan internet selama setahun ini ya ...

Hmmm ... yang jelas, pengetahuan tentang menulis banyak saya peroleh. Baik itu melalui berbagai milis (mailing list), grup facebook, dan blog yang saya ikuti. Bahkan ada sebuah halaman facebook – namanya AQM Rumah Buku yang suka mengadakan kuis berhadiah buku sudah berhasil mengirimkan buku ... eh maksudnya, saya berhasil memenangkan tiga buah kuisnya sehingga sudah tiga kali pula halaman milik dari sebuah toko buku di Lamongan ini mengirimkan buku-buku hadiah ke alamat saya di dunia nyata.



Hadiah-hadiah buku yang diperoleh
sejak eksis dengan internet ^__^
Beberapa hadiah lomba yang lain juga sudah mampir ke alamat saya. Bukan hanya itu, ada juga yang sudah mampir ke rekening saya. Beberapa tulisan saya turut diterbitkan dalam empat buku antologi (kumpulan tulisan). Sementara itu beberapa sedang proses terbit.

Bahkan ada seorang teman penulis - nama penanya Arrifa'ah meminta saya mengisi endorsment di buku solonya yang baru saja terbit, berjudul Jeda Sejenak. Sebelumnya saya ragu. Apalah saya ini, hanya seseorang yang baru bergelut dalam dunia tulis-menulis. Tetapi saat saya menanyakan, "Layakkah Saya?" ia menjawab, "Ya." Wedew ... berasa orang penting deh J. Maka bertambahlah koleksi buku saya dengan buku Jeda Sejenak yang dikirim Diena Rifa'ah (nama asli dari Arrifa'ah) plus dua buah majalah al-Firdaus sebagai bonusnya.

***

Banyak orang dapat ‘ditemui’ di dunia maya. Secara tak terduga, saya bertemu keluarga yang terhitung sepupu empat kali saya yang berdomisili di Duri - Riau, namanya kak Naomi. Sepupu empat kali? Apa pula itu? Itu istilah kami di Makassar ... J

Begini maksudnya, jika dua orang bersaudara memiliki anak, anak-anak mereka itu dikatakan bersepupu satu kali. Lalu jika orang-orang yang bersepupu satu kali ini memiliki anak maka anak-anak mereka bersepupu dua kali. Jadi sepupu empat kali maksudnya adalah ... kakek-kakek dari kakek-kakek kami bersaudara kandung.

Mengapa bisa terusut? Begini ceritanya. Suatu hari saya menerima permintaan pertemanan seseorang yang berasal dari Gorontalo.Walau secara fisik Gorontalo jauh dari saya tetapi saya merasa sangat dekat dengan kota/propinsi itu karena ibu saya asli orang sana. Jadi saya menyapa teman baru saya itu dengan bahasa Gorontalo: wolo habari (apa kabar). Saya sebenarnya tidak menguasai bahasa ini secara aktif tetapi saya bisa menggunakannya jika hanya untuk menyapa seseorang.

Melihat ini, kak Naomi yang juga teman dari teman baru saya itu, mengajukan permintaan pertemanan kepada saya keesokan harinya. Ia pun mengatakan kedua orangtuanya berasal dari sana, hanya saja ia lahir dan besar di Jakarta. Singkat cerita, kami saling memberitahu nama ‘fam’ (marga) keluarga. Saya terkejut karena ia memberitahu fam yang sangat familiar bagi saya karena ibu pernah bercerita bahwa fam itu merupakan keluarga dekat dari opa saya. Setelah saling menginformasikan mengenai keluarga masing-masing dengan lebih detil, kami pun bertukaran nomor HP dan mengakhiri ‘pertemuan’ di dunia maya.

Lalu saya menceritakan kepada ibu saya mengenai perbincangan saya dengan kak Naomi di facebook. Ibu saya mengatakan bahwa beliau mengenal baik ibu kak Naomi dan semua saudaranya. Ibu juga menjelaskan hubungan kekerabatan kami. Begitulah, internet ternyata bisa menjaadi media yang mempertemukan kami di dunia maya. Mudah-mudahan suatu saat bisa bertemu di dunia nyata.

Foto keluarga di Gorontalo pada tahun 1940-an,
di situ ada ibu saya dan tante dari kak Naomi
***

Saya teringat sebuah informasi penting yang saya peroleh dari facebook. Suatu ketika teman-teman saya memperbincangkan tentang kelainan seksual seseorang terhadap ibu hamil. Saya mendengar beberapa jenis kelainan seksual tapi yang satu ini, betul-betul baru saya tahu, bahwa ternyata ada laki-laki yang sangat terobsesi dengan perempuan yang tengah hamil. Makin besar perut perempuan itu, makin menarik baginya.

Hati-hati saja karena laki-laki jenis ini mengincar ibu hamil di dunia maya. Facebook menjadi salah satu media mereka. Salah satu triknya adalah dengan mengaku sebagai konsultan kehamilan. Ada dari mereka yang mengajak berkenalan kemudian buntutnya mengajak phone sex, meminta foto saat melahirkan, mengambil foto ibu hamil tanpa izin, atau yang paling gila mengajak berhubungan layaknya suami istri. Ada kisah seorang ibu yang hampir diceraikan oleh suaminya karena orang sakit jiwa ini kerap menelepon bahkan nekat datang ke rumahnya. Na’udzubillah!

Kesimpulan dari perbincangan itu adalah supaya hati-hati dalam memasang identitas diri di profil facebook. Hindari menuliskan nomor telepon, e-mail, dan alamat rumah untuk lebih mewaspadai hal-hal yang tak diinginkan karena dunia maya amat luas dan bisa saja terjadi kemungkinan identitas diri kita diakses oleh orang-orang yang tak bermoral. Selain itu sebenarnya kamungkinan buruk bisa juga dihindari dengan mengutak-atik setting privasi.

Saya sempat browsing di internet, penasaran dengan komunitas aneh ini (mereka punya komunitas juga). Hasilnya .... huek ... jijay bajay. Astaghfirullah. Cukup sudah. Yang penting saya sudah tahu ada orang aneh macam begini.

Meskipun tulisan saya kali ini seolah ke sana ke mari, timur ke barat selatan ke utara, benang merahnya adalah, sebenarnya banyak hal positif yang bisa diperoleh dengan eksis di internet. Dari hal menjijikkan sekali pun, sebenarnya ada sedikitnya satu hal yang bisa dipetik yaitu kita menjadi tahu lalu sadar akan adanya hal tersebut. Selanjutnya, informasi itu bisa kita pakai untuk menjadi rambu-rambu dalam meningkatkan kewaspadaan dalam berselancar di dunia maya dan tentu saja di dunia nyata. Karena orang jahat pasti ada di dunia nyata.

Bukan begitu?

Makassar, 14 Februari 2012

 Tulisan ini diikutkan pada Blog Writing Competition: Eksis dengan Internet



Silakan baca juga tulisan yang lain:






[i]  Internet (kependekan dari interconnection-networking) ialah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia (Wikipedia). TCP/IP sendiri adalah istilah teknis.

[ii] Situs jejaring sosial (social network sites) ialah web berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut. Web berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs yang bersangkutan.

Monday, February 6, 2012

Dua Kopdar dalam Sehari (2)

Daeng Ipul sedang menyajikan presentasinya
tentang Anging Mammiri

Sudah pukul setengah enam lewat ketika kami tiba di gedung miring Telkomsel - tempat acara Gathering Awal Tahun komunitas blogger Anging Mammiri. Saya, Phuji Astuti Lipi, dan bu korwil IIDN Makassar – Erlina Ayu beserta kedua jagoan ciliknya menumpang mobil sedan merah milik mama dan papa Sedja. Saya sampai berpikir acara telah selesai karena melihat dua orang berbaju kaos ungu -  seragam baru komunitas blogger Anging Mammiri, sedang berbincang di teras gedung.

Untungnya acara bahkan baru hendak dimulai. Maksudnya, daeng Ipul – ketua komunitas ini baru hendak menyajikan presentasinya mengenai kegiatan Anging Mammiri selama lima tahun usianya. Screen yang terletak dekat sekali dengan pintu masuk dan komputer yang digunakan masih sementara diutak-atik sewaktu kami memasuki ruangan di lantai satu gedung milik Telkomsel itu.


Untungnya kami masih kebagian tempat duduk. Beberapa menit setelah duduk nyaman, daeng Ipul menyajikan presentasinya. Dipaparkannya mengenai pembentukan Anging Mammiri lima tahun yang lalu yang diprakarsai oleh tujuh orang blogger aktif, kegiatan-kegiatan, dan harapan-harapannya.

Ada anak-anak juga. Ah, seandainya Affiq tahu, ia
pasti pingin ikut. Dia kan blogger juga ...
Kegiatan kopdar komunitas blogger ini ternyata tidak melulu rekreasi atau kopdar yang asal ngumpul. Biasanya dalam kopdar bulanan ada tema spesifik yang diusung, misalnya tentang belajar fotografi, pernah juga tentang sebuah sekolah alternatif RUMA SOKOLA yang disebut juga ‘sekolah pesisir’ untuk anak-anak kurang mampu di kecamatan Mariso. Bahkan bukan hanya sekadar mengusung tema mengenai Ruma Sokola, Anging Mammiri pun membantu penggalangan dana – minimal penyebaran berita mengenai sekolah alternatif yang terancam tergusur ini.

Seperti komunitas blogger lain, komunitas blogger ini juga mengadakan lomba menulis dan foto di blog yang baru-baru ini diselenggarakan dengan tema ‘Makassar Tidak Kasar’, berhadiah dua tiket Trans Studio untuk setiap pemenang. Tema ini digagas karena banyak pemberitaan sepihak mengenai Makassar yang diidentikkan orang dengan kata ‘kasar’. Alhamdulillah tulisan saya (Tentu Saja Makassar Tidak Kasar) diapresiasi juri menjadi salah satu pemenang di ajang ini.

'Ruma Sokola'
Sumber gambar:
http://sekolahpesisir.wordpress.com/
Pengalaman saya ke Trans Studio, berdua dengan putri saya Athifah pun menjadi kenang-kenangan indah dalam hidup kami dan saya tuangkan ke dalam tiga buah tulisan di blog ini (Perjalanan Menuju Trans Studio, Trans Studio yang Selalu Malam, dan Ada Pertolongan di Trans Studio). Bagi saya, tidaklah berlebihan jika mengatakan pengalaman ke Trans Studio ini adalah kenang-kenangan indah karena ternyata pengalaman di sana tak sekadar jalan-jalan, juga merupakan sesuatu yang berhikmah bagi saya. Tak percaya? Silakan deh dibaca tulisan-tulisan saya itu J.

Oya, Makassar - Anging Mammiri khususnya, ditetapkan menjadi tuan rumah pertemuan Blogger Nusantara kedua yang insya Allah akan diselenggarakan bulan November nanti. Daeng Ipul dinobatkan sebagai ketua panitianya. Acara ini diestimasi akan dihadiri oleh 700 – 800 blogger dari seluruh Indonesia.

Gathering yang berakhir menjelang isya itu rupanya belum berakhir sampai di situ. Rupanya ada undangan dari sekolah blogging pertama di Asia – Asta Media untuk menghadiri acara syukuran ulangtahunnya yang ke-3 di rumah makan Ulu Juku’. Teman-teman Anging Mammiri yang berbaju ungu juga mengajak kami yang newbie ini. Sayangnya saya tak bisa. Kali ini saya sudah terlalu lama meninggalkan rumah.

Pergi pukul 15.30 dan pulang saat jama’ah masjid sedang shalat isya adalah waktu yang amat lama, tak pernah selama ini saya tinggalkan anak-anak. Hati saya kebat-kebit. Dan betul saja, di pintu rumah saya disambut oleh Athifah yang menangis keras. Tak jauh darinya, Afyad pun tengah menangis dengan volume dan power suara yang amat keras. Air mata mereka mengalir deras seakan sudah bertahun-tahun tak bertemu dengan saya. Ibu saya pun menyambut dengan ucapan, “CEPAT AMBIL ANAKMU, SUDAH DUA KALI DIA MENANGIS!”

Nasib emak-emak yang jarang ikut kopdar .... J

Makassar, 6 Februari 2012

Dibaca juga tulisan saya yang lain yah: