Showing posts with label Indahnya Menikah. Show all posts
Showing posts with label Indahnya Menikah. Show all posts

Thursday, February 16, 2012

Miliki 'Jujur dan Sadar Diri' dalam Memelihara Hubungan

Sumber:
http://hsb.wikipedia.org
Apa yang dilakukan seseorang jika bosan kepada sesuatu?
Hm ... barangkali ia akan membuangnya atau menggantinya dengan yang baru.

Mengapa seseorang bisa bosan kepada sesuatu?
Bisa jadi karena sudah tidak  menarik lagi karena ada yang lain yang lebih menarik lagi atau sudah tidak bermanfaat lagi.

Lha kalau bosan kepada pasangan, bagaimana? Masak mau dibuang, diganti dengan yang baru dengan alasan sudah tidak menarik lagi, ada yang lebih menarik, atau sudah tidak bermanfaat? Tidak semudah itu kan?


Bagi saya, seseorang berjodoh atau tidak itu sebenarnya ada tanda KLIK di hati, namun KLIK itu bisa saja tertutup oleh hal-hal lain, oleh orang lain yang kelihatan lebih ‘menyilaukan’ misalnya. Kalau Allah ridha, sehingga kita bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan, rasa KLIK itu akan tetap ada seiring dengan penyesuaian diri di mana-mana. Rasa KLIK itu tidak akan hilang.

Bukan hal yang mudah bagi dua orang berbeda latar belakang dan karakter untuk menyatu di dalam mahligai pernikahan. Keduanya haru sama-sama menyadari proses penyesuaian diri dan bergerak bersama untuk mendapatkan irama yang sama. Jangan harapkan pasangan berubah sesuai kemauan kita, itu mustahil. Lebih baik sama-sama menyadari perbedaan yang ada dan seirama dalam mengarungi hidup dengan perbedaan itu. Toh di samping perbedaan, ada persamaan yang bisa menautkan kita? Sama-sama suka buku, atau sama-sama suka makan makanan berbumbu misalnya?

Kesadaran kedua belah pihak mutlak dalam hal ini.

Begitu pun dalam mengakui kelebihan dan kekurangan pasangan. Sebaliknya, diri kita juga harus mampu mengakui kekurangan kita – bukan hanya kelebihan kita. Jangan larut dan tenggelam dengan memaknai frasa, “Kalau bukan saya yang ... tentu ia tak ...”

Berhenti lakukan itu jika kita termasuk orang yang suka memperbandingkan diri kita dengan pasangan seperti itu. Yang benar adalah jujur mengakui kita sama-sama punya kekurangan dan sebaliknya, juga sama-sama memiliki kelebihan. Dan kekurangan kita mampu ditutupi oleh pasangan kita, sebaliknya pula kekurangan pasangan kita mampu kita tutupi. Itu makanya menikah berarti juga melengkapi diri kita, membuat diri kita utuh sebagai manusia. Dengan demikian bahtera rumahtangga dapat kita arungi dengan baik. Meski ada badai sekali pun, badai itu tak berarti apa-apa dibanding keselamatan rumahtangga kita.

Bagaimana jika rasa BOSAN melanda?
Coba teliti, barangkali kita bosan pada perilakunya saja, bukan pada orangnya?
Barangkali rasa bosan itu hanya bentuk lain dari rasa kesal?
Coba jujur mengintrospeksi diri, barangkali kita saja yang terlalu menuntut banyak darinya?
Coba tanyakan, apa yang ia inginkan dari diri kita. Sebagai gantinya, komunikasikan baik-baik apa yang kita inginkan darinya.
Coba ingat-ingat lagi segala kebaikannya dan tulis di dalam daftar. Barangkali saja dengan demikian kita sadar bahwa kebaikannya jauh lebih banyak daripada hal yang menyebalkan dalam dirinya?

Kalau tidak bisa juga, bagaimana?
Coba pikirkan, renungkan baik-baik dengan jujur segala manfaat dan mudharat hidup bersamanya karena sejatinya pernikahan diinginkan siapapun untuk kekal, sampai di kampung akhirat. Tetapi jika mudharatnya lebih banyak, bagaimana?
Hanya satu caranya, tanyakan kepada Sang Pemilik Hidup. Minta ampun, menyadari diri begitu kerdil di hadapan-NYA, dan berdo’a sebanyak mungkin, berulang kali. Shalat istikharah dan tahajud sebanyak mungkin, berulang kali. Sampai IA memberikan kita jawaban harus bagaimana.

Makassar, 17 Februari 2012

Tulisan ini diikutkan pada program BLOGGER BICARA CINTA di Blogdetik.

Silakan dibaca juga tulisan-tulisan ini

Monday, January 23, 2012

Kubutuhkan Ia Untuk Melengkapiku

Setelah Athifah pergi sekolah, saya keluar hendak membeli kopi di warung. Tiba-tiba lewat penjual ikan bersepeda yang menarik perhatian saya. Ya, perhatian saya sampai tertarik begitu kuat hanya karena ia menyebutkan nama ‘ikan layang’ sebagai salah satu makhluk jualannya. Hmm .. sudah lama tak makan ikan layang. Kebetulan, saya pingin sekali makan ikan rebus khas Sulawesi Selatan. Kalau di daerah Makassar dikenal dengan nama pallu mara, di daerah Bugis dikenal dengan nama nasu bale. Penjual ikan itu rupanya sangat tanggap. Ia menangkap hasrat menggebu melalui lirikan mata saya ke arah makhluk dagangannya. Maka ia berhentilah di dekat saya.

Saya pun kepincut dengan harga yang diusung oleh penjual ikan itu, “Sepuluh ribu, lima ekor,” katanya. Cukup murah. Dasar ibu-ibu, saya mencoba menawar, “Ditambah satu ya?” Si bapak penjual ikan menolak, “Tidak bisa Bu. Ini ulu balu, jadi saya kasih ki’ sepuluh ribu untuk lima ekor. Sebentar lagi naik jadi dua puluh ribu per tujuh ekor.” Wah, beruntung saya menjadi ulu balu – pembeli pertamanya. Pembeli pertama memang biasanya mendapat diskon.


***

Kepada suami yang masih menggeletak di tempat tidur saya berpesan, “Pa, ada ikan layang. Tolong dibersihkan ya.” Iya mengangguk terkantuk-kantuk. Sepagi ini ia masih mengantuk. Kasihan, semalam ia sendirian meladeni anak-anak karena saya teler diserang flu.

Alhamdulillah, suami saya seorang family man. Ia tahu mengerjakan ikan sehingga istrinya yang senantiasa bergidik dengan darah dan sisik ikan ini bebas dari rasa tidak nyaman dalam membersihkan makhluk satu itu. Ia bersedia sekali bila diminta mengerjakannya. Ya iyalah. Kan setelah itu saya yang mengerjakan bumbunya, saya yang masak, dan saya yang cuci piring? Kalau hanya dimintai tolong mengerjakan ikan masak iya tidak mau? Itu kan hanya bagian kecil dari ‘urusan’ ini?

Eh, bukan hanya ikan lho. Kalau ia ingin makan kangkung tumis pun, ia sendiri yang mengerjakannya. Ia yang mencuci dan memotong-motongnya. Terkadang ia pula yang menyiapkan bumbunya, saya tinggal memasaknya saja.

***

Pagi itu saya bisa kembali cuci piring dan membuat sarapan. Ikan yang baru saya beli, saya letakkan di dalam sebuah mangkuk plastik. Seabreg pekerjaan rumah mengantri untuk di kerjakan. Ada berember-ember pakaian hendak dicuci, dua tumpuk pakaian bersih hendak diseterika, lantai kamar mandi hendak disikat, makanan anak-anak yang hendak dimasak, tumpukan piring kotor yang hendak dicuci dan tentu saja ikan itu akan dimasak juga. Bukan hanya itu, ada juga de el el es be ge (dan lain-lain sebagainya) tetek-bengek kecil-kecil yang harus diselesaikan.

5 ekor ikan layang yang sudah dibersihkan oleh suami saya
Asam mangga
Ikan direbus dengan bumbu

Setelah suami saya membersihkan ikan dan memotong-motongnya:
“Pa, tolong ya, seprei dan selimut yang di kamar mandi itu mau dikucek dan dibilas.” 
Mencuci tidak tiap hari saya minta tolong kepadanya, wajar dong sesekali minta dibantu.
“Iya.”
“Nanti tolong disikat lantai kamar mandi ya.”
“Iya.”

Lalu ia bertanya, “Terus pakaian anak-anak ini mau diapakan?”
“Baju Athifah mau disikat, ada nodanya. Yang di ember yang satu itu mau direndam kembali dengan sabun,” kata saya.

Maka ia pun menyelesaikan urusan mencuci pakaian. Saya melanjutkan mengiris-iris bumbu (bawang putih dan bawang merah). Bumbu yang lain juga disiapkan, asam mangga pemberian ibu mertua, sereh yang dikeprek (sebenarnya aslinya tidak pakai sereh, tapi saya pribadi menyukainya), kunyit bubuk, sedikit gula merah, dan garam. Setelah semua siap, dilanjutkan  dengan memasak ikan.

Setelah ikan masak:
“Afyad BAB ini, mau dicebok,” katanya.
“Oke, sini.”
Kami pun bergotong-royong menghadapi Afyad J
“Habis itu, Mama yang ganti celananya.”
“Wah, Saya masih mau masakkan telurnya anak-anak ini. Papa saja yang ganti.”

Singkat cerita, setelah anak-anak makan, menjelang pukul dua siang saya dan suami menghadiri pesta pernikahan kerabat. Pulangnya saya masih harus menghadiri pertemuan orangtua murid/santri TPA Babul Jannah di dekat rumah hingga pukul 5.


***

Hari itu saya sangat kelelahan. Fisik saya drop hingga radang tenggorokan dan flu menyerang. Tentunya saya butuh istirahat setelah serangkaian pekerjaan rumah dan menghadiri acara keluarga membuat saya tidur pukul 1.30 di malam sebelumnya. Maka saya mengambil posisi memeluk guling selepas maghrib. Suami saya pun dengan rela wara-wiri mengurus anak-anak. Ia memasakkan yang diminta anak-anak, dua kali mencebok Afyad yang BAB, menyuapi Athifah, menjerang air, masak nasi, dan mengurus makanan yang ditumpahkan Afyad di meja makan dan lantai.

Alhamdulillah, saya bangun pukul 22 dengan perasaan lebih enak. Baru shalat isya dan kembali melanjutkan mencuci piring dan beberapa pekerjaan kecil yang harus dikerjakan malam itu. Kami baru naik ke pembaringan pada pukul 1.

Nasu bale

***

Dalam kondisi tak memiliki asisten seperti ini, suami harus rela bahu-membahu dengan istrinya mengurus pekerjaan yang oleh sebagian laki-laki dianggap pekerjaan perempuan. Saya bersyukur, beberapa kali mendengar gumaman iri dari ibu-ibu lain terhadap istri yang memiliki suami macam suami saya ini. Ada bahkan yang mengatakan, “Biarpun melahirkan dua puluh kali Saya rela kalau suami Saya seperti ini,” saat melihat suami saya menggendong anak kami – membiarkan saya melenggang santai. Tak jarang mereka mengatakan, “Enaknya kalau suamiku seperti itu. Suamiku tidak tahu apa-apa soal mengurus anak.”

Setelah bertahun-tahun menikah baru saya menyadari bahwa perilaku suami yang ringan tangan membantu istrinya dalam melakukan pekerjaan rumahtangga itu baru terdeteksi setelah menikah, bukan sebelum menikah. Mana pernah saya memikirkan hal ini dulu sebelum menikah? Tetapi Allah sungguh Maha Bijaksana, ia menjodohkan saya dengan lelaki yang rela membantu istrinya, bahkan membelikan pembalut ke warung pun ia tak sungkan. Pst, buat adik-adikku yang belum nikah, tambahkan ke do’a kalian ya: mohon diberikan suami yang ringan tangan membantu istrinya melakukan pekerjaan rumahtangga.

Sebuah hadits menyebutkan: Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud)
Ada pula hadits berikut: dari Al-Aswad, ia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah ra., ‘Apa yang Rasulullah lakukan untuk keluarganya?’ Ia berkata, ‘Beliau selalu membantu urusan rumahtangga dan apabila datang waktu shalat, beliau bergegas melakukannya.” (Bukhari)

Lalu, apakah suami saya adalah seseorang yang sempurna dengan kisa saya di atas? Come on, mana ada manusia yang sempurna. Seperti tak sempurnanya saya, tak sempurna pula ia. Tapi kan tak pantas saya mebeberkannya di sini. Biar saja kekurangannya menjadi konsumsi saya pribadi, tersimpan dalam sebuah bilik terkunci dan tak ada yang boleh memasukinya. Kami sama-sama tak sempurna tetapi kami sama-sama saling membutuhkan. Oya, hanya satu hal lagi yang bisa saya bagi: biarlah kelebihannya melengkapi kekurangan saya karena kelebihan saya – insya Allah melengkapi kekurangannya.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Ia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (Ar-Rum: 21).

Subhanallah, alhamdulillah. Terimakasih tak terkira ya Allah. Terimakasih ya suamiku atas segala pengertianmu meringankan bebanku. Maafkan kalau mendapatkanku bersikap tak manis kala beban rutinitas sedemikian besar menghimpit.

Makassar, 23 Januari 2012

Boleh dibaca juga tulisan-tulisan yang ini ya:


Monday, December 26, 2011

Pengalaman Tak Terlupakan di Masa Pengantin Baru

Masa pengantin baru tentu saja menjadi masa yang tak terlupakan. Karena di saat itu terjadi transisi besar-besaran dari kehidupan lajang kepada kehidupan bersama. Meski sudah mengenal suami di kampus, pelan-pelan muncul hal-hal nyata mengenai diri suami saya yang diikuti kalimat ‘Oooh ternyata dia itu aslinya seperti ini ...’ dalam benak saya (pastinya dia pun demikian he he he). Saya dulu sering kesal setengah mati sama suami saya karena sepulang kerja ia kembali sibuk dengan rutinitasnya sebagaimana yang ia jalani sebelum menikah: menekuni buku-buku, komputer, dan tontonan yang ia anggap menarik di televisi seolah-olah saya ini hanya penjaga rumahnya saja. Padahal seharian saya hanya ditemani tembok-tembok dingin dan acara televisi. Sesekali saja saya keluar rumah yang terletak di kawasan kota mandiri di tengah hutan Sumatera itu. Ingin sekali rasanya memecahkan komputer dan televisi itu, serta merobek-robek buku-bukunya. Tapi apa itu hal yang bijak? Absolutely not. Barang-barang itu kalau ditotal, harganya mahal, saya sangat yakin bakal menyesal di belakang hari jika berani melakukannya. Hmm, ini cerita saya. Ia pun pasti punya cerita mengenai emosi saya yang bisa tiba-tiba berubah ^_^. Oya, kisah lengkap tentang ini bisa di baca di sini.


Suatu hal yang memalukan, saya baru getol belajar masak setelah menikah. Saat itu adalah pengalaman pertama saya membeli tempe. Saya yang sangat awam soal masak-memasak sangat terkejut saat hendak memasaknya demi melihat ada bahan putih serupa bulu menyelimuti tempe itu. Dengan panik, saya langsung menelepon suami saya di kantor. Suami saya masih lebih pandai daripada saya dalam urusan masak-memasak. Saya ‘terpaksa meneleponnya’ karena saya belum punya kenalan baik di lingkungan baru kami. Kalaupun punya kenalan, malu dong meneleponnya untuk bertanya masalah ini ...
“Kak, kenapa tempenya begitu? Apa masih bisa dimasak kalau begitu?” tanya saya.
“Memangnya kenapa?” suami saya balik bertanya.
“Berbulu dan terasa panas,” jawab saya.
“Oooh tidak apa-apa, masih proses fermentasi itu. Dimasak saja,” jawab suami saya sambil tertawa ringan.
“Dimasak bagaimana?” saya masih bertanya.
“Terserah,” jawab suami saya
“Digoreng saja?” saya masih gigih bertanya.
“Boleh,” kata suami saya.
Belakangan baru saya tahu ternyata suami saya menggunakan speaker telepon saat menjawab telepon saya. Dan ia tidak sendiri saat itu, ada seorang kawan yang sedang bersamanya.

Sebelum menikah, calon suami saya mengajak saya untuk membaca buku-buku pernikahan. Beruntung ia maniak buku jadi ia tahu mana buku yang bagus untuk kami baca. Berdasarkan rekomendasinya saya membaca buku-buku yang ditulis oleh Fauzil Adhim (sejujurnya buku-buku itu milik dia yang dipinjamkannya kepada saya J). So, saya menghimbau kepada para lajang supaya melakukan yang sama karena banyak hal yang akan membuat kalian terkejut-kejut setelah menikah, maka banyak-banyaklah berbekal, di antaranya melalui buku-buku dan belajar dari banyak rumahtangga di sekeliling kalian, insya Allah akan sangat banyak membantu. Persiapan pernikahan bukan hanya persiapan secara materi dan persiapan kelengkapan hari H tetapi juga persiapan mental. (Saya punya tulisan tentang filosofi pernikahan, kalau berminat silakan baca di sini).

Buku ini baru terbit, judulnya 'Rahasia Pengantin Baru'
Cocok buat para lajang yang hendak memperbanyak bekal
penulisnya adalah seorang kawan saya
bernama Leyla Hana


Bagaimana berbaur dengan keluarga suami adalah sebuah prioritas bagi saya. Saya serius mengusahakan hal ini. Selain itu, sebagai orang yang lahir dan besar di ibukota provinsi, saya menyadari akan mudah bagi saya dicap sebagai ‘perempuan kota’ yang tak bisa mengerjakan pekerjaan rumahtangga oleh keluarga suami yang bermukim di daerah. Jika berada di rumah ibu mertua, saya tak pernah sungkan membantu beliau di dapur, mencuci piring, menyapu rumah, ataupun menyuguhkan minuman kepada tamu yang datang.

Beberapa kali ibu mertua saya datang membawa bahan-bahan yang masih harus diolah/dimasak. Adik ipar saya sering kali mewanti-wanti ibu mertua untuk mengajar saya mengolahnya, ia sudah yakin saja saya tak bisa melakukannya. Beberapa kali itu pula beliau menanyakannya dulu, “Bisa ji masak/bikin yang seperti ini?” Alhamdulillah, meski tak mahir setelah belajar banyak di awal pernikahan, saya bisa melakukannya.

Kalau pun saya belum pernah mengolah bahan yang beliau bawa, saya sudah pernah melihat orang lain melakukannya. Seperti pada suatu ketika beliau membawa tepung beras untuk dibuat putu pesse – kue khas Bugis. Dengan bahagia dan mantap saya mengatakan bahwa saya tahu caranya karena pernah melihat kakak dari ayah saya membuatnya sewaktu saya berkunjung ke kampung ayah di kabupaten Soppeng bertahun silam (bahagia dong  karena bisa pamer sama ibu mertua kalau saya bisa mengolahnya). Saya mengatakan kepada beliau, “Tepung ini kan dicampur dengan kelapa agak muda yang diparut dengan gula merah yang dicincang, terus dimasukkan ke dalam cetakan ...” Ibu mertua saya mengangguk dan berkata, “Oh, Saya kira Kamu tidak tahu ...” (Oya saya juga punya kisah mengenai hubungan saya dengan ipar, bila berminat klik saja di sini dan di sini  ^__^).

Saya berusaha untuk bisa berbincang akrab dengan ibu mertua, ipar-ipar, dan keluarga besarnya. Kalau pun tidak bisa berbincang akrab, sebuah senyuman hangat setidaknya bisa mencairkan suasana. Sebuah senyuman yang berasal dari hati yang tulus juga akan sampai ke hati. Bukan begitu?

Makassar, 27 Desember 2011

Silakan dibaca juga tulisan saya yang lain:

Thursday, November 17, 2011

Ketika Venus dan Mars Menikah | Welcome Trouble

Laki-laki dan perempuan berbeda. Ya iyalah .. jenis kelaminnya berbeda. Kalau yang itu semua orang juga tahu he he he. Tapi ada situasi dan kondisi di mana perbedaan laki-laki dan perempuan nyata sekali, di saat itulah kita bisa salah menilai malah bisa menjadi penyebab retaknya hubungan suami-istri.
Saya yakin bukan hanya saya yang mengalami. Saya pernah menanyakan kepada beberapa orang dan juga mengamati beberapa orang. Saat baru menikah, dalam beberapa bulan saya dan orang-orang (baca: istri-istri) ini terkejut-kejut dengan kenyataan mengenai suaminya.
Misalnya saja ya, saya dulu sering kesal setengah mati sama suami saya karena sepulang kerja ia kembali sibuk dengan rutinitasnya sebagaimana yang ia jalani sebelum menikah: menekuni buku-buku, komputer, dan tontonan yang ia anggap menarik di televisi seolah-olah saya ini hanya penjaga rumahnya saja. Padahal seharian saya hanya ditemani tembok-tembok dingin dan acara televisi. Sesekali saja saya keluar rumah yang terletak di kawasan kota mandiri di tengah hutan Sumatera itu. Ingin sekali rasanya memecahkan komputer dan televisi itu, serta merobek-robek buku-bukunya. Tapi apa itu hal yang bijak? Absolutely not. Barang-barang itu kalau ditotal, harganya muahal bo, saya haqqul yakin pasti menyesal di belakang hari jika berani melakukannya.
Beberapa kali kejadian, kami bertandang ke suatu tempat, ia melenggang di depan saya. Begitu saya hendak melangkah masuk tiba-tiba saja pintu itu tertutup tepat di depan hidung saya. Oh God, itu dilakukan oleh suami saya. Ia tak membukakan saya pintu secara gentle seperti para lelaki di film-film itu!
Sebagai pengantin baru, saya ingin menjalani hari-hari saya ‘lebih baik’ dari itu. Mengapa ia tidak memperhatikan saya? Koq menikah rasanya seperti jadi pembantu? Melayani segala kebutuhan lelaki ini, mengabdi kepadanya sementara ia tak peduli kepada saya? Beberapa kali ia pulang kerja, saya sambut dengan wajah kecut. Saya lontarkan kalimat-kalimat ‘tidak langsung’ yang sama kecutnya dengan wajah saya dengan harapan ia bisa mengerti. Tapi apakah ia mengerti? Tidak. Ia sama sekali tidak mengerti. Maka tinggallah saya dengan perasaan dongkol selama berhari-hari.
Beruntung saya senang mengamati kawan-kawan saya di sana, para perantau juga, pasangan muda pula. Beberapa dari mereka sudah menikah, setahun, dua tahun atau tiga tahun lebih dulu daripada saya. Ternyata bukan hanya saya mengalami hal serupa ini. Kawan saya bahkan ada yang suaminya tetap dengan rutinitasnya pulang malam dari kantor dan sepulang kantor sibuk dengan game komputernya. Masih mending saya, jika saya menelepon suami saya pada pukul 16.30 atau pukul 17.00 (karena setahu saya jam pulang kantor adalah pukul 16.00), maka suami saya akan tiba di rumah 5 – 10 menit kemudian.
Kawan saya itu sempat stres juga apalagi saat itu ia tengah mengandung anak pertama mereka. Karena masih menyelesaikan kuliahnya, ia belum menetap di kota itu. Ia hanya datang saat liburan. Dan yang ia dapati adalah suami yang sibuk dengan dirinya sendiri, mirip dengan suami saya.
Bahkan ada kejadian, sepasang pengantin baru pergi berbelanja ke kota provinsi yang berjarak dua jam perjalanan dari kota tempat tinggal mereka. Mereka terpisah di tempat itu, mungkin berbagi ‘tugas’. Saat selesai berbelanja, sang suami pulang. Ia makan sambil nonton televisi. Kemudian ia masuk ke kamar mandi. Di situ ia melihat baju istrinya tergantung. Gubrak. Baru ia sadar, istrinya ketinggalan di tempat belanja! Buru-buru ia menempuh perjalanan selama dua jam untuk menjemput istrinya yang pasti sudah ‘mengering’. Jangan bertanya, ‘kenapa tidak menelepon’ kawan! Saat itu HP masih merupakan barang super mewah sehingga belum ‘mewabah’ seperti sekarang. Yang jelas, saat itu telekomunikasi dari kota ke tempat tinggal mereka di kota mandiri di tengah hutan itu masih teramat sulit.
Setelah mendengar kisah serupa lagi dari kawan yang lain, dan merenung, akhirnya saya sampai kepada kesimpulan bahwa ternyata ada perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan dalam hubungan khusus di antara mereka. Saya mulai bisa melihat bahwa suami saya dan suami-suami lainnya tentu tidak mengerti apa yang saya dan istri-istri mereka inginkan.
Kaum pria jadi termotivas dan bersemangat kala mereka merasa dibutuhkan.
Kaum perempuan jadi termotivasi dan bersemangat kala mereka merasa dicintai.
Dan yang membuat perempuan merasa dicintai adalah ‘perhatian’. Perhatian adalah jenis cinta yang merupakan ‘kebutuhan primer’ perempuan.[i]
Kalau tidak menyengaja mengkomunikasikan keinginan saya, apalagi dengan hanya menunjukkan wajah kecut. Apakah suami saya mengerti? Jawabannya: tidak. Jadi, bagaimana supaya saya tidak makan hati dan suami saya tidak makin ‘egois’? Ya tentu saja dengan membicarakan hal ini baik-baik. Bukan dengan mengomel dan marah-marah yang tidak jelas. Jujur saja, perempuan suka ‘ke mana-mana’ kalau sudah mengomel. Kreatif sekali menghubung-hubungkan apa-apa yang sejatinya tak berelasi.
Sebaliknya bagi suami saya dan suami-suami lain, kalau tak ada pembahasaan dari istrinya tentang suatu masalah, bagaimana mereka juga bisa menangkap adanya masalah? Bagi mereka, tak ada pemberitahuan apa-apa dari istri mereka, berarti tak ada masalah. Berarti kita sedang tak membutuhkan mereka, dan mereka sah-sah saja melanjutkan hidup mereka. Iya kan ?
Nah dalam hal ini, saya harus membatasi masalah. Apa yang menjadi masalah, itu saja yang dibicarakan. Kalau merasa perlu marah, ya marahnya di situ saja, dan harus dibatasi marah hanya sekali. Jangan diulang-ulang. Karena banyak perempuan kalau sudah merasa ‘dizalimi’ oleh hal remeh sekali pun, bisa menjadikannya topik hangat dengan mengulang-ulanginya hingga beberapa kali, beberapa hari, beberapa bulan, bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya saat mereka sudah bercucu padahal masalahnya sendiri sebenarnya sudah lama ‘ketok palu’.
Saya tak mau penjadi perempuan yang seperti ini. Saya sendiri suka sebal jika mendapati perempuan-perempuan seperti ini, masa saya mau menjadi bagian dari mereka? Iiiih.
***
Seperti biasanya, beberapa hari yang lalu saya mempublikasikan tulisan di blog saya ke facebook. Agar banyak yang tergerak untuk membacanya, sengaja saya tag beberapa nama, seperti adik saya, teman-teman saya, dan tentu saja suami saya.
Meski tanggapan ‘like’ bukan tujuannya. Senang juga jika ada yang dengan ikhlas mau melakukannya. Apalagi kalau ada yang memberikan komentar. Kawan-kawan sudah pada nge-like, ada juga yang sudah berkomentar. Bersyukur dan senang karena tulisan kita diperhatikan, dibaca, dan dihargai, berharap mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membacanya, kira-kira seperti itu rasanya.
Ketika suami saya membuka FB-nya khusus di bagian kiriman tautan ke tulisan saya, saya perhatikan reaksinya. Ia kelihatan datar-datar saja membaca komentar seorang kawan, cenderung membiarkan tulisan itu berlalu tanpa kesan apalagi pesan. Saya mulai khawatir ia akan segera menutup tabulasi kiriman saya sehingga dengan spontan saya berkata, “Kalau di-tag sama istrinya ya di-like dong!
Suami saya menjawab, “Memangnya perlu? Tanpa saya like pun kan kita’ sudah tahu saya perhatikan ki’.” Ia memang selalu menyapa saya dengan kita’, dalam dialek Bugis/Makassar, ini kata ganti orang kedua yang paling sopan, biasanya ditujukan kepada orang-orang yang kita hormati atau yang lebih tua dari kita. Ia tidak menyapa saya dengan ‘Kamu’ apalagi ‘Kau’ yang secara bahasa berada di bawah tingkatan kita’.
Saya tertawa dan berkata, “Jelas dong, itu perlu.”
Ia pun tertawa dan mengeklik tombol Like.
Masih tertawa, saya berkata, “Dasar laki-laki.”
Ternyata saya masih membutuhkan bentuk perhatian seperti itu darinya. Tetap rasanya beda jika yang nge-like suami sendiri. Kalau dengan 'paksaan' seperti ini? Hm ... yang jelas, saya puas setelah ia menekan tombol like he he he. Sudah 12,5 tahun kami menikah, hal-hal itu masih harus dibahasakan secara verbal. Tak mengapa, hingga seumur hidup pun jika itu memang harus dilakukan untuk menjaga hubungan kami, akan saya lakukan. Saya berharap ia menegur saya jika suatu saat saya lupa dengan janji saya.
Makassar, 18 November 2011


[i] John Gray, Ph. D., “Men Are from Mars, Women Are from Venus|Pria dari Mars, Wanita dari Venus| Petunjuk Praktis untuk Memperbaiki Komunikasi dan Memperoleh Apa yang Anda Inginkan dari Hubungan-Hubungan Anda”, Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Baca juga:



Jatuh dari Sepeda

Monday, October 24, 2011

'Istri Patuh Suami' dan 'Suami Sayang Istri'

      Menurut klub ini, menghibur dan membuat suami merasa nyaman dengannya merupakan kewajiban bagi setiap istri. Mereka juga menilai bahwa terabaikannya kewajiban itu menjadi salah satu penyebab utama mendasar atas munculnya sikap keras, tak betah di rumah atau bahkan penceraian suami atas istrinya.      Kabar terbaru yang datang dari Istri Patuh Klub ini yaitu kini klub itu kembali membuat heboh dengan menerbitkan buku panduan seks Islami. Dalam kata pengantarnya, buku tersebut menuliskan bahwa studi menunjukkan wanita hanya memberi suami mereka 10 % dari apa yang diinginkan pria dari tubuhnya. Karenanya, buku ini dimaksudkan untuk hadir sebagai panduan bagi para istri untuk memberikan ‘pelayanan’ terbaik bagi suaminya. Dalam buku ini juga dimuat satu bab khusus yang membahas bagaimana seks menjadi sebuah ibadah dalam Islam. Namun, buku saku setebal 115 halaman ini sontak menuai reaksi dari banyak Muslim, atau bahkan non-Muslim. Mereka yang Muslim biasanya bereaksi karena klub itu berserta buku yang diterbitkannya bukan merangkum ajaran Islam sebagaimana diklaim oleh klub itu. Adapun para non-Muslim menilainya sebagai suatu langkah yang bias inferioritas jender. Bahkan, Menanggapi buku ini, komunitas yang menamakan dirinya “We do not want sexist nonsense from Global Ikhwan Sdn Bhd” yang dikomandari oleh Matthew Ong angkat suara dengan menyebut Istri Patuh Klub hanya menjadikan wanita sebagai objek seksual. Sehingga, mereka meminta Menteri Wanita, Keluarga dan Pembangunan Komunitas, Datuk Seri Shahrizat Abdul Jalil, untuk melakukan intervensi. Menanggapi hal itu, Shahrizat Abdul Jalil, meminta para pejabat pemerintah untuk memantau klub itu, terutama untuk memastikan tidak akan membuat 'berantakan’ pikiran generasi muda Malaysia. Tapi Shahrizat mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa membatasi kegiatan klub, dengan dalih Malaysia adalah negara demokratis.[i]
Ini adalah cuplikan dari artikel yang saya dapatkan sewaktu browsing di internet. Menurut seorang kawan yang tinggal di Malaysia – negara asal klub ini, para pendahulu jamaah pengajian ini termasuk ahlul sunnah wal jamaah yang sekitar abad 18-19 masuk ke Malaysia dan sebagian besar berasal dari Indonesia keturunan Timur Tengah. Namun semenjak tahun 1980-2004 ajaran yang disampaikan mulai ada penyimbangan dan kultus individu hingga dibubarkan tahun 2004 oleh pemerintah Malaysia. Namun usaha yang dirintis tidak hanya dalam dakwah tapi juga ekonomi yang kini berkembang pesat sehingga banyak yang berubah nama dan bentuk salah satunya sepeti yang ditulis pada artikel di atas. Cara berdakwahnya tidak terbuka namun tetap mempersilahkan siapapun untuk bergabung. 
Saya tak hendak menelusuri asal-muasal ataupun sesat-tidaknya klub itu. Saya pribadi beranggapan, sah-sah saja jika ada sekelompok perempuan berstatus istri dalam sebuah klub yang mencari cara bagaimana membahagiakan suami mereka dalam hal seks. Alangkah bahagianya jika seandainya suami-suami mereka pun berlaku sama: membuat buku panduan bagi para suami untuk dapat membahagiakan istri-istri mereka dalam hubungan intim.
Karena sesungguhnya hubungan intim dalam sebuah rumahtangga adalah kebutuhan kedua belah pihak (suami dan istri). Istri memang berkewajiban memberikan ‘pelayanan’ tetapi ia berhak untuk dipenuhi kepuasan batinnya oleh suami. Oleh karena itu sudah seyogianya pula jika suami sebaiknya berkewajiban memenuhi hak suaminya. Seperti komunikasi verbal yang membutuhkan ‘kesadaran’ kedua belah pihak dalam berkomunikasi, demikian halnya dalam hubungan intim antara suami-istri.
Allah SWT dan nabi kita Muhammad SAW telah memberikan tuntunan dalam ayat al-Qur’an dan hadits-hadits sebagai berikut:
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 222: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah gangguan.’ Oleh karena itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita pada waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang  yang mensucikan diri.” Yang dimaksudkan gangguan di sini adalah keadaan yang membuat kesehatan mereka terganggu karena keluarnya darah kotor dari rahimnya
 “Jika seseorang di antara kamu bersenggama dengan istrinya, hendaklah ia lakukan dengan penuh kesungguhan. Kemudian kalau ia menyelesaikan kebutuhannya (puas) sebelum istrinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (penisnya) sampai istrinya menemukan kepuasannya.” (HR. Abdur Razaq dan Abu Ya’la, dari Anas)
Rasulullah saw bersabda: “Seseorang di antara kamu janganlah sekali-sekali menyenggama istri seperti seekor hewan bersenggama, tetapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan.” Lalu ada yang bertanya: “Apa gerangan perantaraan itu?” Sabdanya: “Yaitu ciuman dan ucapan (romantis).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda, “Barang siapa menyenggamai istrinya pada masa haid atau menyenggamai pada duburnya atau mendatangi dukun, lalu membenarkan ramalan-ramalan itu, maka berarti ia telah kufur kepada syari’at yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Dalam hal ini Rasulullah menyejajarkan kedurhakaan orang yang menyenggamai istrinya pada waktu haid dengan seseorang yang mempercayai ramalan dukun[ii].
Nah, kedudukan istri bukan hanya sekedar obyek kan? Istri pun berhak mendapatkan seperti yang didapatkan suami. Alangkah mulianya istri yang menyadari fungsinya dalam hal ini dan rela berbuat apa saja asalkan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Begitu pun suami yang menyadari kebutuhan istrinya dan memenuhinya, ‘mulia’ pula dirinya.
Makassar 24 Oktober 2011




[ii] Drs. Muhammad Thalib, “20 Perilaku Durhaka Suami Terhadap Istri”, Irsyad Baitus Salam, 1997 (cetakan ke-5)

Sunday, September 25, 2011

Selingkuh Oh Selingkuh ...

Karena mencari bahan untuk lomba bertema ‘Selingkuh’, saya pun mencari di Google kata kunci ‘alasan selingkuh’, siapa tahu saya bisa menyusun esai mengenai hal ini. Pilihan materinya adalah kisah nyata, esai, atau tips. Beberapa menit, bermunculanlah hasil pencarian dengan kata kunci ini.

            Yang mengejutkan adalah yang dirilis oleh Kaltim Today :
Data Pengadilan Agama Kota Bontang (Kaltim) tampaknya menjadi lampu kuning bagi para pasangan keluarga untuk lebih memperhatikan kualitas hubungannya, mengingat kasus perselingkuhan cukup tinggi di "Kota Khatulistiwa" itu.
"Hampir 40 persen penyebab perceraian pasangan suami-isteri akibat adanya keterlibatan dan campur tangan pihak ketiga (perselingkuhan), 20 persen akibat adanya wanita idaman lain (WIL) atau pria idaman lain (PIL)," kata Panitera Muda Hukum pada Pengadilan Agama Bontang, Hamran, di Bontang, belum lama ini.
Sedangkan penyebab perceraian lainnya yaitu 20 persen alasan ekonomi dan 20 persen akibat kurangnya rasa tanggung jawab yang rata-rata terjadi pada pasangan suami-isteri usia 30-40 tahun.
            Di sini ada dua poin yang berbeda tetapi menurut saya kelihatannya sama yaitu: "Hampir 40 persen penyebab perceraian pasangan suami-isteri akibat adanya keterlibatan dan campur tangan pihak ketiga (perselingkuhan), 20 persen akibat adanya wanita idaman lain (WIL) atau pria idaman lain (PIL)". Nah, WIL dan PIL yang menyebabkan perceraian, bukannya perselingkuhan juga? Jadi sebenarnya angka perceraian di Bontang karena perselingkuhan sebenarnya ada 60%? Bontang itu kota kecil lho. Logika sederhananya, kalau di kota kecil saja separah itu, bagaimana di kota besar? Ck .. ck .. ck.

            Kemudian perhatian saya beralih kepada hal-hal yang menyebabkan perselingkuhan, maka simaklah hal-hal berikut yang diungkap ginekolog dan konsultan seks Boyke Dian Nugraha pada seminar bertema "Love, Sex and Harmony" di Jakarta, pada bulan Maret 2009:
8 Alasan Kenapa Pasangan Selingkuh:
  • Pelarian emosional dari pasangannya.
  • Rasa ingin tahu tentang seperti apa seks dengan orang lain yang bukan pasangannya. Semuanya itu bermula dari rasa penasaran akan apa yang ada di balik itu (maksudnya di balik celana dalam pria). Bagaimana sih rasanya bercinta dengan pria kulit hitam karena suaminya berkulit putih," Boyke mencontohkan.
  • Kemarahan atau permusuhan yang terpendam dengan pasangannya.
  • Keinginan untuk merasakan lebih banyak seks atau jenis seks yang berbeda dari yang didapat dari pasangannya.
  • Dorongan ego.
  • Ketidakmampuan membentuk komitmen yang dalam.
  • Menghindar dari masalah perkawinan atau pribadi.
  • Untuk menghilangkan rasa sakit akibat kehilangan, sebagai contohnya, kematian orang yang dicintai atau anak yang pergi sekolah ke tempat lain.

    Menyimak kedelapan alasan ini, saya merasa yakin ‘warna paling terang’ dari kesemuanya adalah nomor 5 : dorongan ego. Bukankah nomor 1 hingga 8, kesemuanya adalah pengejawantahan dari egoisme[1]?
      Memperhatikan ini semua dan hasil-hasil pencarian lain, makin terasalah bagi saya betapa pernikahan itu tidak mudah tetapi sebenarnya tidak sulit juga karena komunikasi yang harmonis menjadi kunci dalam hal ini. Namun komunikasi yang harmonis nyatanya tidak dimiliki semua pasangan, sehingga hal ini menjadi sulit.
      Akhirnya, karena kesulitan menarik benang merah, saya memutuskan untuk menuliskan kisah nyata seseorang saja untuk diikutkan lomba itu. Bahan-bahan ini, saya tuliskan di blog ini untuk dijadikan bahan renungan, terutama untuk saya dan untuk siapa pun yang bersedia merenung bersama saya, mereka yang sudah menikah ataupun yang belum menikah.
      Kepada karib dan kerabat yang belum menikah, ada baiknya hal-hal seperti ini dimasukkan ke dalam ‘bank wawasan’ anda, guna memperkaya diri sebelum memasuki gerbang pernikahan. Wawasan itu penting, bukan hanya yang positif dari sisi pernikahan melainkan juga yang negatif karena perceraian itu ada dan perselingkuhan itu nyata di sekeliling kita.
Makassar, 26 September 2011



[1] Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Egoisme berarti: tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain.