Showing posts with label Pelita. Show all posts
Showing posts with label Pelita. Show all posts

Thursday, March 8, 2012

Kopdar IIDN – ke Panti Asuhan

Andika - salah seorang
penghuni panti
Lanjutan dari tulisan sebelumnya ...

(Kopdar IIDN - di Rumahku)

Teman-teman setuju berjalan kaki menuju panti asuhan Annur yang terletak dekat kanal Rappocini. Panti asuhan itu hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah. Titik-titik air hujan menemani langkah kami di bawah naungan payung-payung reyot. Payung-payung di rumah nyaris tak ada yang beres karena terlalu sering dipakai bermain kemah-kemahan sejak Affiq belum memiliki adik. Dari 7 payung, hanya satu yang anatominya masih bagus.

Sebuah becak yang mengangkut aneka barang sudah berangkat duluan ke panti. Sempat terbersit ketakutan si pengayuh membelokkan becaknya entah ke mana karena ia mengemudi begitu cepat meninggalkan kami. Ayu, Icha, dan Uty yang berada lima meter di depan menunjuk arah yang dituju becak itu. “Sepertinya lurus,” kata Uty. “Belok kiri,” kata saya. Memang bisa lurus ke depan tetapi itu hanya memperpanjang waktu tempuh karena jalan yang diambil jadi memutar.

Untungnya pengemudi berkaus kuning itu akhirnya terlihat juga. Ia menunggu kami di depan tempat yang dituju sambil memasukkan barang-barang itu ke dalam panti.

Panti asuhan ANNUR. Saya sudah pernah menuliskan tentangnya di blog ini, pada tulisan berjudul Mendulang Amal Melalui 63 Orang Anak. Saya sudah pernah ke sini, jadi saya langsung mencari ibu Hj. Mari - pendiri sekaligus pengelolanya, karena sudah pernah bertemu sebelumnya.

Papan yang memuat data
para penghuni panti
“Ada Haji?” tanya saya pada seorang pengurus.
“Keluar ki,” jawabnya, sambil mempersilakan kami duduk di kursi usang yang berderet di situ.
“Kalau anaknya?”
“Keluar juga.”

Ya sudah. Tanpa mereka pun tak apa. Maka kami berbincang dengannya mengenai keadaan panti yang menampung 63 orang anak itu. Di antara mereka ada 9 anak yang belum sekolah, 20-an duduk di bangku SMP. Ada juga yang duduk di bangku SD dan SMA.

Status mereka, ada yang yatim, piatu, yatim-piatu, dan tidak mampu. Ayu sempat berbincang dengan seorang gadis yang masih duduk di bangku SMP. Ia berasal dari Majene (Sulawesi Barat) dan masih punya orangtua. Kemungkinan orangtuanya tak sanggup menyekolahkannya.

Andika berkaus tangan agar
kukunya tak melukai dirinya
“Mana Andika?” saya menanyakan seorang anak usia 8 tahun. Ia penyandang disabilitas. Matanya sudah tak berfungsi dengan baik, ia lumpuh, dan tak mampu berbicara layaknya anak normal. Ia hanya bisa bereaksi seperti bayi, menangis, tertawa, atau diam.

Pengurus panti itu masuk ke dalam sebuah kamar dan menggendong Andika. Ia memangku Andika sambil berbincang dengan kami. Sepertinya Andika mengerti sedang dijenguk, ia sering sekali tertawa, bahkan sampai terkekeh-kekeh.

Tak lama kemudian ibu Hj. Mari datang. Ia menyalami kami. “Baru-baru ini Andika tiga kali masuk rumah sakit,” katanya. Hj. Mari tak segan membawa Andika ke rumah sakit untuk berobat walau harus diopname sekalipun. Kasih sayangnya kepada Andika begitu tulus, jauh melampaui kasih sayang keluarga kandung anak berhidung mancung lagi berkulit putih bersih itu.

Menyimak penuturan pengurus panti
“Dulu di mata Andika hanya ada sedikit bintik putih,” ujar Hj. Mari. “Saya bawa ke rumah sakit. Dokter yang menangani mengatakan ia bisa mengoperasinya. Setelah operasi dan kami pulang ke rumah malah tambah parah. Sepertinya dokternya bukan dokter spesialis,” kata Hj. Mari.

Cacat pada mata Andika tambah menjadi setelah beberapa lama ia keluar dari rumah sakit. Sekarang nyaris semua bidang di matanya seperti tertutup selaput. Sesekali kami melirik Andika. Sepertinya teman-teman sedang merasakan hal yang sama dengan saya, terharu dan terenyuh melihatnya. Ia tampak bahagia. Suara tawanya sering sekali terdengar.

Kami meminta izin untuk melihat-lihat kamar anak-anak panti. Haji Mari mempersilakan kami naik ke lantai atas panti yang berdinding dan beralaskan lantai papan.

Seperti inilah sebuah kamar di lantai atas
Sumber gambar: hasil jepretan Marisa (Icha)
Melalui tangga kayu yang cukup curam, aroma apek tercium dengan jelas. Sirkulasi udara di situ tidak begitu bagus. Di atas ada 5 kamar tidur, tempat anak-anak itu beristirahat. Selasar yang mengantarai kamar-kamar yang berhadap-hadapan itu tampak gelap karena cahaya matahari tak masuk ke dalamnya. Hanya ada sedikit cahaya matahari yang menerobos ke dalam tiap kamar. Suatu hari nanti jika dana memadai, haji Mari pasti akan merenovasi lantai ini.

Dengan ketulusannya yang bersahaja haji Mari berani menampung sebanyak itu anak-anak orang lain di rumahnya, mengurus mereka, mengusahakan mereka menempuh jenjang pendidikan formal hingga SMA, dan merawat mereka jika sakit selayaknya ibu kandung sendiri.

Hal berat ini dijalaninya tanpa beban. Hanya berdasarkan keyakinan bahwa Allah SWT akan membukakannya jalan. Pembaca, mari kita do’akan ia supaya senantiasa diberi kesehatan dan keridhaan oleh Allah SWT dan segala yang dilakukannya membukakan jalan ke surga-NYA. Aamiin yaa Rabb.

Ibu Hj. Dg. Mari


Makassar, 8 Maret 2012

Sehari setelah kopdar, Nunu mempublikasikan tulisan Mendulang Amal Melalui 63 Orang Anak ke beberapa grup FB. Alhamdulillah ada seorang dermawan yang langung tanggap dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening ibu haji Mari guna dibelikan kursi roda bagi Andika. Supaya ia tak perlu lagi digendong ke sana ke mari oleh ibu haji. Alhamdulillah. Semoga Allah meridhaimu, dermawan yang baik hati.

Jika Anda ingin berpartisipasi dengan menyumbangkan sebagian rezeki Anda kepada Panti Asuhan An-Nur ini, donasi Anda dapat ditransfer ke nomor rekening berikut:
0082854865, BNI cabang Mattoangin, atas nama Hj. Dg. Mari
0050-01-053078-50-8, BRI Ahmad Yani, atas nama panti asuhan An-Nur



Silakan dibaca juga yang berikut:

Wednesday, February 29, 2012

Pengemis, Sebuah Profesi?

Pengemis beroda
di sebuah ruas jalan
Beberapa tahun terakhir ini Makassar disemarakkan lagi oleh pengemis. Tengok saja taman segitiga di penghujung jalan Sultan Hasanuddin, berjejer mereka duduk di pinggir taman – di tepi jalan, menunggu belas kasihan.

Ada masanya beberapa ruas jalan diwarnai dengan pengemis buntung beroda. Mereka menyatroni ruas jalan, dengan menggelindingkan roda-roda dari sebidang kayu yang dijadikan tempat duduk mereka. Beberapa bulan yang lalu saya melihat beberapa orang di sepanjang jalan H. Achmad Saleh (jalan ini sejajar dengan jalan Haji Bau, tegak lurus dengan jalan La Madukelleng).

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan meneruskan SMS yang diterimanya kepada saya: Anak jalanan, bayi – 5 tahun disuruh ngemis. Mak-maknya nggosip sambil main hape. Duh, mereka mungkin merasa sedang mengerjakan sebuah profesi ya.

Ada lagi lanjutan SMS-nya: di deket mal Panakukang serem banget, anak umur 5 tahun gendong adeknya yang baru berumur bulanan. Kurus kering, rambut merah sementara emaknya gemuk-gemuk, dandanan menor – badan item muka putih. Anaknya menangis di antara mobil-mobil. Emaknya ndatangin, tidak menolong malah mencubit.

Untuk SMS yang terakhir itu, saya lupa menanyakan apa anak-anak itu mengemis juga. Yang jelas kontras, anak dan ibu (hm, sebenarnya apa iya itu anaknya?) berpenampilan bagaikan langit dan bumi. Yang jelas ini sama-sama memprihatinkan.

Kembali ke soal pengemis itu lagi.
Menurut saya kompleks. Apakah pemerintah harus disalahkan dalam hal ini? Entahlah. Rasanya koq capek ya setiap saat menyalahkan pemerintah. Soalnya ada orang-orang yang betah mengemis karena mudah. Tinggal menengadahkan tangan sambil memelas-melaskan wajah maka uang akan berpindah tempat, dari kantong orang yang menaruh iba ke tangan mereka.

Ada pengalaman seorang teman saya. Ia susah sekali mencari asisten rumahtangga. Suatu kali ada pengemis – ibu-ibu mengetuk pintu rumahnya. Ia memberikan sekemampuannya. Kemudian ia bertanya kepada ibu itu, “Mau tidak Bu kerja di sini? Nanti Saya gaji. Daripada  ibu minta-minta.”
Coba tebak, apa jawaban ibu itu? Tepat, menolak. Rupanya ia lebih suka mengemis.

Seorang pengemis di sebuah taman kota
Sudah pernah ditayangkan di TV trik-trik pengemis supaya kelihatan berkaki buntung. Atau trik-trik lain, seperti mengambil anak-anak jalanan kemudian dibawa mengemis. Saya pun pernah mendengar anak-anak jalanan diorganisir, diturunkan di sebuah persimpangan dengan mobil di pagi hari lalu mobil itu pergi dan datang kembali untuk menjemput mereka menjelang malam.

Teman saya SMS lagi: Iya lo, mereka ada yang pake HP. Malah di tempatku ada yang koordinir, semacam bosnya. Nah, bosnya ini yang beliin pulsa, maybe potong setoran. Ada juga nih pengemis yang ngakalin, sebelum sampe rumah sewaan, dia sembunyiin sebagian pendapatan mereka ke lipatan-lipatan baju. Pokoke tempat tersembunyi. Aku pernah lihat.

Benar-benar memprihatinkan.
Tetapi saya kemudian teringat sosok seseorang.
Setiap tahun ia mencari orang yang betul-betul tidak mampu dan memberikan sedekah. Ia bukan orang kaya. Baru-baru ini, setelah mendapatkan rezeki ia menyiapkan 500 lembar amplop dan mengisinya, masing-masing dengan pecahan Rp. 50.000. Ia mencari sendiri orang-orang yang berhak itu, hingga ke pelosok-pelosok kota.

Dan kali ini ia memberikan kepada sejumlah orang yang tinggal di daerah Panakukang, daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di Makassar karena di daerah itu ada beberapa mal dan banyak pusat bisnis. Sosok ini menyisihkan rezekinya bahkan bukan hanya dua setengah persen, lebih dari itu. Hingga puluhan persen pun ia tak berkeberatan. Itulah salah satu cara ‘berdagang di jalan Allah’ menurutnya.

Sementara itu, kebanyakan orang menghitung pas dua setengah persen.
Atau malah lupa.

Ah, bagaimana kalau kita tak membicarakan orang lain. Bagaimana kalau kita menilik diri kita sendiri?

Makassar, 29 Februari 2012

Bisa dibaca juga:

Wednesday, February 22, 2012

Cinta yang Lengkap

Apa rasa cinta?

Cinta itu hangat juga dingin.
Manis juga pedas.
Akrab tapi renggang.
Renyah tapi alot.
Cerah juga suram.
Lurus tapi berbelok.
Terang tapi gelap.


Karena ia meliputi sepasang insan.
Yang saling melengkapi.
Maka rasanya pun berpasang-pasangan.
Karena rasa pun saling melengkapi.

Namun kalaupun rasa yang tak diharap yang mengemuka.
Ia kan cepat tenggelam.
Berganti dengan rasa yang diharap.
Karena cinta sejati itu dimiliki, tak memiliki.
Ia tak bersyarat.
Penuh syukur.
Tak bermotif.
Ia tulus.
Ikhlas.
Sabar.

Tak lengkap cinta tanpa itu semua.

Dan tak sah ia tanpa kehalalan.




Makassar, 22 Februari 2012


Sumber: really-cute-backgrounds.com














Silakan dibaca juga:

Monday, February 20, 2012

Bahagia di Kesempatan Kedua

Saya melihat dengan mata kepala sendiri, perempuan itu berlalu di hadapan saya sambil menutupi rambut dan wajahnya dengan kerudung. Hampir saja saya menyapanya tetapi seperti ada yang menahan saya sehingga saya membatin, “Jangan sapa ia, mungkin ia sedang ‘bersembunyi’.”

Seorang kawan mengatakan, “Ia malu.”
“Malu? Kenapa malu?” tanya saya.
“Sebab ia telah menikah lagi.”
“Hei, itu kan bukan hal yang memalukan?”

Saya pernah bertemu dengan suami terdahulunya. Saat itu lelaki itu membawa putra kedua mereka berobat, bersama dengan pengasuh sang buah hati. Perempuan itu tak tampak bersamanya, pasti sedang tak bisa menemani putranya karena sebenarnya perempuan itu ibu yang baik, biasanya ia yang menemani buah hatinya.

Sumber:
http://clipartof.com
Saya mendapat giliran lebih dulu dari lelaki itu. Saat saya hendak pulang, saya menghampirinya yang sedang ber-HP ria di dalam mobil miliknya. “Pak, giliran anaknya sekarang,” saya memberitahu. Reaksi lelaki itu di luar dugaan, dengan mimik cuek, ia memberi isyarat dengan tangannya. Seolah mengatakan, “Sudah ada yang menemani anak saya.” Sambil berjalan, saya memperhatikan lelaki itu. Ia tetap asyik dengan HP-nya, tak kelihatan keinginan beranjak dari jok mobilnya. Heran, anaknya sakit, ayahnya koq kelihatan tak peduli.

Lama saya tak melihat lelaki itu. Tetapi saya mendengar kabar tak sedap tentangnya. “Ia suka main perempuan,” kata seseorang yang bisa saya percaya. Astaghfirullah, padahal ia sudah memiliki tiga orang anak yang sehat dan lucu!

Beberapa bulan kemudian, saya bertemu dengan perempuan itu bersama suami barunya dan seorang bayi mungil – buah cinta mereka. Kali ini perempuan itu menyapa saya dengan hangat, ia tak sembunyi-sembunyi lagi. Saya tak bertanya apa-apa tentang pernikahan keduanya. Saya hanya menanyakan usia si mungil. “Satu bulan,” jawabnya.

Seminggu kemudian saya bertemu lagi dengannya. Kali ini ia bersama suami barunya dengan dua orang anak dari pernikahan terdahulunya. Anak-anak itu memanggil suami barunya dengan sebutan khas suatu daerah yang berarti ‘Ayah’. Lelaki ini bercerita tentang kebiasaan baru putra tirinya dengan hangat, seolah anak usia lima tahun itu anak kandungnya sendiri. Saya sungguh tergugah melihat kebersamaan mereka yang indah itu.

Saya mengenal beberapa orang yang memiliki takdir serupa perempuan itu. Seperti perempuan itu, mereka pun memilih berpisah. Tak mempertahankan hal yang tidak mendatangkan kenyamanan. Untuk apa suatu hubungan yang timpang dipertahankan? Toh seyogyanya hubungan antara dua insan saling memberi manfaat, saling menenteramkan. Jangan mimpi bahagia akan tergapai jika salah satunya selalu merasa terzalimi.

Mereka memilih tak kembali bersama karena mantan mereka tak menyediakan peluang untuk meraih sakinah bersama. Sakinah ma waddah wa rahmah bukan slogan semata. Ia harus diwujudkan dengan sadar oleh kedua belah pihak, bukan hanya dari satu pihak.

Jika ditimbang mudharat lebih berat daripada manfaat, penderitaan lebih banyak daripada kebahagiaan. Apalagi jika pasangan tak bisa sama sekali diajak berkomunikasi dan berkompromi. Untuk apa kembali kepadanya? Lebih baik memilih bahagia di kesempatan kedua, dengan orang yang berbeda!

Makassar, 20 Februari 2012

Silakan dibaca juga:

Wednesday, February 15, 2012

Berulang Kali Terhindar dari Ketakberuntungan

Pernahkah anda mengalami hal-hal yang nyaris membawa anda kepada ketakberuntungan namun anda kemudian mendapatkan keberuntungan?

Saya pernah mengalaminya beberapa kali:

Terhindar dari Kecelakaan

Sumber:
http://cupjogjarevolution.multiply.com
Becak yang saya tumpangi bersama Athifah dan Afyad melaju pelan. Tiba-tiba saja dari arah belakang, sebuah becak melaju agak cepat kemudian menabrak sisi kanan becak yang kami tumpangi. Tukang becak kami segera mengerem becaknya dan becak itu berhenti persis dekat sebuah got besar yang airnya berwarna hitam. Bagian depan becak hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari tepi got besar itu.

“Alhamdulillah,” ucap saya sambil menoleh kepada becak yang menabrak. Tukang becak sepuh yang mengendarainya hanya cengengesan, tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Seorang pemuda berkulit gelap – penumpang becak itu yang sekilas kelihatan sangar, menatap kami. Sepertinya ia hendak memastikan kami tak apa-apa. Pemuda itu kemudian berkata, “Maaf, Bu.”


Saya mengangguk. Tukang becak kami tak berkata apa-apa. Tukang becak sepuh itu juga masih keukeuh tak berkata apa-apa. Pemuda sangar dan tukang becak sepuh itu pun melanjutkan perjalanan, becak kami menyusul di belakangnya. Tujuan kami searah sepanjang lima ratus meter ke depan. Jantung saya tak berhenti berdegup kencang hingga dua puluh menit kemudian.

Tak terbayang apa yang terjadi jika:
Becak kami melaju cepat.
Atau remnya blong.
Tentu kami bertiga terlempar masuk ke dalam got berair hitam itu.

Terhindar dari Kebakaran

Saat itu anak saya baru satu. Karena capek, saya tidur lebih awal, pada pukul sembilan malam. Suami saya belum masuk kamar. Ia masih berbincang dengan tamunya di ruang tamu. Menjelang pukul sepuluh malam, dari tempat duduknya, suami saya mengira melihat saya melintas dari kamar ke ruang tengah. Sekilas ada sosok dilihatnya melintas. Karena tamunya sudah pulang, ia menyusul ke dalam rumah hingga ke dapur namun ia tak mendapatkan siapa pun di situ, hanya asap yang membumbung dari panci berisi air yang telah mendidih di atas kompor minyak tanah.

Ia membuka tutup panci, air di panci itu tinggal setengahnya. Buru-buru ia matikan kompor dan menuju kamar tidur kami. Di kamar ia mendapati saya tengah pulas di dekat Affiq.

Tak terbayang apa yang terjadi jika:
Ia tak melihat sosok yang dikiranya saya, ia tentu tak mengecek masuk ke dapur.
Sementara kompor minyak itu menjadi sangat panas.
Ah, kebakaran bisa saja terjadi.

Bertahun-tahun kemudian.
Malam itu suami saya gelisah. Ia tak bisa tidur hingga pukul satu dini hari. Diperiksanya seisi rumah. Semua pintu sudah terkunci rapat dan tak ada apa-apa yang mencurigakan. Lalu ia duduk di ruang tengah. Namun perasaan gelisah tak bisa ditepisnya. Pukul dua lewat, ia berjalan ke arah ruang makan. Sayup-sayup terdengar suara mendesis. Makin lama suaranya makin jelas. Di dapur, suara desisan itu keras sekali. Rupanya bersumber dari tabung gas yang bocor.

Kejadian kompor gas itu bukan hanya sekali. Ada dua kejadian lain yang serupa.
Namun lagi-lagi Allah Yang Mahamelindungi mengasihani kami seisi rumah dengan memberikan rasa gelisah yang berlebihan kepada suami saya.

Apa jadinya jika kebocoran itu tak cepat terdeteksi hingga mengakibatkan ledakan gas?
Saya tak berani membayangkan.

Sumber:
http://epitemnein-epitomic.blogspot.com/ 

Terhindar dari Kecurian

Dari pengeras suara masjid terdengar kegiatan shalat subuh berjama’ah. Saya bangkit dari pembaringan dan menengok ke ruang tamu. Saya mendapat dua orang laki-laki tak dikenal di situ. Di belakang mereka, pintu yang menghubungkan ruang tamu dan teras terbuka lebar. Tatapan mata mereka beradu dengan tatapan mata saya. Saya melihat dengan sangat jelas wajah mereka karena lampu yang menyala di ruang tamu cukup terang. Salah seorang dari mereka berkulit terang, bertubuh kecil, dan berambut lurus. Yang satunya berkulit gelap, bertubuh gempal, dan berambut keriting.

Dengan bingung, tanpa berkat sepatah kata pun, saya kembali masuk ke kamar. Otak saya yang masih bekerja lima puluh persen karena baru saja bangun masih mencerna, siapa gerangan orang-orang tak dikenal itu yang bertamu pada subuh hari? Butuh sekian menit bagi saya untuk menyadari bahwa kedua laki-laki itu berniat tak baik. Sebelum bertatapan dengan mereka, saya sempat memergoki salah seorang dari mereka sedang memeriksa tas ransel hitam – tas sekolah milik Affiq yang menyerupai tas ransel laptop yang tergeletak di kursi tamu kami.

Beruntung setelah bertatapan dengan saya mereka langsung kabur.
Beruntung tas ransel Affiq tergeletak di ruang tamu, jika di ruang tengah – mereka tentu sudah masuk lebih dalam lagi.
Beruntung saya bukan jenis perempuan yang suka menjerit jika bertemu dengan hal-hal yang mengagetkan. Kalau saya menjerit, bisa saja mereka kalap.
Segala puji bagi Allah.

Terhindar dari Kemandulan

Saya dan suami memiliki cerita yang amat panjang tentang perjuangan kami hingga dikaruniai tiga orang buah hati. Kami berdua bermasalah dengan kesuburan. Kami nyaris mandul, bahkan mungkin saja sudah mandul. Pasangan suami-istri yang hanya bermasalah salah satunya saja sulit memiliki anak, apalagi kami yang keduanya bermasalah.

Namun Allah sungguh Mahapemurah. Ia mengasihani kami sehingga menitipkan Affiq, Athifah dan Afyad kepada kami melalui sebuah metode pengobatan alternatif. Sehingga kami bisa memiliki ladang amal lebih banyak lagi dengan mengasuh mereka. Dan kami bisa menyelami hidup dengan segala hikmahnya dengan keberadaan mereka. Membuat saya bisa mewarnai blog ini dengan aneka cerita tentang mereka.

Oh Allah, nikmat-Mu yang mana lagi yang pantas didustakan? Walau berlumur dosa, Engkau tak hentinya menganugerahkan keberuntungan kepada diri kami. Padahal untuk menghukum kebebalan kami, bisa saja Engkau membuat ketakberuntungan itu terjadi. Namun Engkau tak membiarkannya.
Maha Suci Engkau ya Allah.
Tiada Tuhan selain Engkau.

Makassar, 15 Februari 2012

Baca juga tulisan-tulisan berikut ya ... J

Tuesday, February 7, 2012

Blogger, are You Cool and Smart?

Sekarang ini blogger semakin banyak. Sepertinya setiap detik – bahkan setiap seper sekian detik, ada saja blog baru terbentuk. Entah itu di blogspot, wordpress, multiply, kompasiana, blogdetik, dan pada hosting berbayar.

Tak semua blog ini asyik dan membetahkan bila dibaca. Kalau bagi saya, yang asyik dan membetahkan ini bolehlah dikatakan cool and smart – meminjam istilah Kaka Akin.

Yang cool and smart itu bila ehm hei .. tunggu dulu, kaka Akin bahkan sudah menuliskannya lho, di persyaratan giveaway ini:
Gunakan bahasa Indonesia yang baik. Jika terdapat penggunaan bahasa asing, silakan disertakan artinya dan tidak mengandung konten yang negatif dan tidak menyinggung pihak manapun.


Apalagi ya ...

Oya, saya sering menuliskan ini saat blogwalking: keep positive blogging. Jadi, blogger yang cool and smart itu selalu menuliskan hal-hal positif. Bukan memuat hal-hal seputar syahwat dan tidak berisi kebencian. Dan saya bersyukur, sekarang ini banyak sekali blogger yang menuliskan hal-hal yang positif.

Sumber: http://penn-olson.com
Lalu, sebaiknya blogger memuat jati diri pribadinya di about me. Agar pengunjungnya bisa mengenalnya dengan baik. Tidak membuat orang bertanya-tanya siapakah dia sebenarnya, apa nyata atau fiktif, dan sebagainya.

Jika berkomentar harus dengan bahasa yang sopan dan meniggalkan nama jelas. Dan ia pun selayaknya menjawab dengan bahasa yang tak kalah sopannya.

Sebagai tuan rumah yang baik, sebaiknya mengunjungi balik pengunjung blognya. Dan juga balik meninggalkan jejak di blog orang lain, untuk menjaga silaturahim. Karena komentar sangat berarti bagi pemilik blog yang bersangkutan.

Terakhir, besar harapan saya agar para blogger belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Eits, tapi saya tak mengatakan harus menguasai lho, juga bukan berarti tak boleh menggunakan istilah asing atau bahasa daerah, atau bahasa gaul. Yang penting di sini adalah ‘mau belajar’, itu dulu. Mengapa? Karena blog juga menjadi sarana para pengunjungnya untuk belajar. Minimal yang bisa kita tawarkan adalah memperlihatkan bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang blogger harusnya merupakan seorang pembelajar karena sekali lagi, blog adalah sarana belajar. Seorang juga bisa belajar berbahasa Indonesia dengan baik saat blogwalking ke blog-blog lain.

So blogger, am I cool and smart?
#introspeksi diri#
^___^

Makassar, 7 Februri 2012

Artikel ini disertakan pada Cool and Smart Blogger Giveaway yang diadakan oleh KakaAkin



Silakan dibaca juga yah:

Lelaki Itu Juga Manusia, Tetapi Ia Hebat!

Lelaki itu dulu harus saya pelajari profilnya di sekolah. Dulu beliau sosok yang begitu heroik, yang seakan terlepas dari kemanusiawian. Namun seiring pencarian saya tentang Islam, perlahan saya menemukan cahaya benderang dari pribadinya yang memancarkan sifat dan perilaku yang demikian memukau. Hingga saya pun bisa menitikkan air mata rindu saat mendengar sebuah nasyid tentangnya. “Ya Rasulullah, ya habiballah, Kami rindu padamu,” penggalan nasyid itu.

Allah, pantas beliau Engkau muliakan. Bukan karena beliau telah Engkau tetapkan mulia lantas beliau layak menjabat menjadi rasul penutup. Tetapi memang pribadinya mulia. Dahulu saya hanya menganggap beliau pantas dimuliakan karena beliau sosok beruntung yang sudah Engkau muliakan. Namun ketika tahu bahwa beliau mencela sikap seseorang yang menarik kasar seorang bayi mungil yang mengincingi jubahnya, saya terpana. Terpana, karena beliau pun menghargai perasaan seorang bayi yang bisa saja terluka karena direnggut dan dibentak dengan kasar. Beliau ternyata seseorang yang berhati lembut!


Sumber:
http://calligraphywallpaper.com
Juga ketika mengetahui riwayat dirinya yang selalu memberi makan seorang nenek Yahudi buta yang selalu mencela dirinya dan Islam secara kasar tetapi beliau tetap diam, tidak lantas membentak atau menyuapinya dengan kasar, saya juga terpana. Adakah orang yang dihina diri dan agamanya masih sanggup berlaku lemah-lembut kepada orang yang menghinanya bahkan masih rela setiap waktu menyuapinya hingga ajal menjemputnya? Setiap kali menyuapinya pula?

Nenek itu pun akhirnya terkejut setelah tahu siapa yang selama ini dihinanya ketika beliau meninggal dan ganti seorang sahabat yang menyuapi nenek itu. Suapan sang sahabat tidak seperti suapan orang yang dahulu menyuapinya. Ia tahu itu meski dirinya buta.

Juga saat mengetahui bahwa beliau adalah seorang pendengar yang baik. Beliau mendengarkan seseorang berbicara dengan tidak menyelanya sampai orang itu berhenti berbicara. Bahkan ketika seseorang berulang kali menceritakan dengan antusias mengenai cucunya – yang bagi sebagian orang itu hanya pembicaraan sepele, beliau mendengarkannya dengan seksama, dengan sepenuh hati.

Bukan hanya itu. Beliau pun senantiasa membantu pekerjaan rumahtangga. Dan jika ada bagian yang sobek di pakaiannya, beliau tak sungkan menjahitnya sendiri padahal ia bisa saja memerintah istrinya untuk melakukannya.

Dalam sebuah buku dituliskan:
Nabi Muhammad saw. (571 – 633) sendiri sebagai pembawa ajaran Islam merupakan sosok yang memiliki akhlak yang sangat terpuji. Beliau adalah orang yang lemah lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan, dan sabar saat ditekan. Tentang kemurahhatian beliau, digambarkan oleh para sahabatnya bahwa beliau adalah orang yang memberikan apapun, tidak pernah menolak permintaan seseorang, dan tidak takut menjadi miskin.Beliau memiliki keberanian, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur. Beliau sangat berani, terus maju pantang mundur di medan perang. Bahkan para sahabat berlindung di belakang beliau kala musuh sudah sangat dekat.
Beliau adalah orang yang sangat adil, sangat mampu menahan diri, sangat jujur perkataannya, dan sangat besar amanahnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh beliau mengakui hal ini. Jauh sebelum masa kenabian, beliau dijuluki “Al – Amin” (orang yang terpercaya). Sebelum Islam dan pada masa jahiliyah beliau ditunjuk sebagai pengadil (hakim). Abu Jahal (orang kafir Quraisy) bahkan pernah berkata, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi mendustakan apa yang Engkau bawa.” Ini menunjukkan betapa terpercayanya beliau sehingga walaupun orang kafir Quraisy mengingkari ajaran Islam yang beliau bawa, mereka tidak mengingkari akhlak terpuji beliau. 
Nabi Muhammad saw. adalah orang yang sangat tawadhu’ (merendahkan diri) dan jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang penyambutan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama orang miskin dan menghadiri jenazah mereka, memenuhi undangan para budak, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah – istri beliau berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya sendiri, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan salah seorang kalian di dalam rumahnya.
Beliau mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya, dan membereskan urusannya sendiri.” Beliau adalah orang yang sangat memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, sangat menyayangi dan bersifat lemah lembut terhadap orang lain, sangat bagus pergaulannya, sangat lurus akhlaknya, tidak pernah berbuat (dan menganjurkan) kekejian, bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan mengutuk, tidak membalas keburukan dengan keburukan yang serupa (keburukan dimaafkannya dan ditanggapinya dengan lapang dada), tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnya, tidak mengungguli budaknya dan pembantunya dalam masalah makan dan pakaian, tidak pernah membentak pembantunya, dan tidak menegur perbuatan pembantunya yang tidak beres[1].

Sebuah hadits menerangkan:
Dari Anas ra., ia berkata: “Saya belum pernah memegang sutera, baik tebal maupun tipis, yang lebih halus dari tangan Rasulullah saw., dan saya belum pernah mencium bau seharum bau Rasulullah saw. Saya pernah menjadi pelayan Rasulullah saw. selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah mengatakan “Hus” kepada saya, atau menegur saya dengan ucapan “Kenapa kamu berbuat seperti itu” terhadap apa yang saya kerjakan, dan beliau juga tidak pernah menegur dengan ucapan “kenapa kamu tidak berbuat demikian” terhadap apa yang tidak saya kerjakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)[2].

Sumber:
http://ustadchandra.wordpress.com/
Memberi salam (ucapan assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabaraakaatuh, artinya: kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadamu) kepada sesama muslim adalah salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam (QS. An-Nur:27, An-Nur-61, dan an-Nisa: 86). Beliau betul-betul mencontohkan hal ini. Bukan kepada orang dewasa saja, bahkan bila bertemu anak-anak beliau mengucapkan salam untuk mereka terlebih dulu![3]

Sungguh, tak banyak laki-laki dewasa yang begitu peduli kepada anak-anak! Di zaman sekarang, di masjid sekali pun, anak-anak seringkali ‘diusir’, disuruh menempati shaf paling belakang meskipun mereka tak bikin gaduh, meskipun mereka datang ke masjid bersama orangtua mereka!

Ketika orang Quraisy meminta kepada beliau untuk berdo’a kepada Allah supaya bukit Shofa dijadikan emas agar mereka percaya dan beriman, beliau pun berdo’a. Namun Allah memberi pilihan: jikalau ada yang menjadi kafir sesudah mereka beriman maka Allah akan menyiksanya dengan siksa yang teramat pedih yang tak pernah diberikan kepada siapapun atau membukakan kepada mereka pintu taubat dan rahmat, maka beliau memilih meminta untuk dibukakan pintu taubat dan rahmat.

Padahal lebih mudah baginya menggoyahkan iman seseorang dengan emas itu, namun beliau tak melakukannya karena kasih sayang dalam hatinya. Pintu taubat dan rahmat tak bisa dibandingkan dengan gunung emas. Gunung emas tidak bisa menjadi bekal kebahagiaan akhirat, tetapi pintu taubat dan rahmat bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk menuju kebahagiaan akhirat[4].

Oh Allah, lelaki ini memang pantas untuk dicintai oleh siapa pun!
Air mata rindu untuknya pantas dititikkan!
Ingin rasanya bertemu dengannya walau dalam mimpi. Namun sepertinya diri ini masih bergelimang dosa atau masih sangat kurang bershalawat kepadanya sehingga Engkau belum mengizinkannya. Atau mungkin Engkau menganggap saya belum mengenalnya dengan baik atau belum cukup rindu?

Makassar, 7 Februari 2012

Silakan dibaca juga tulisan-tulisan yang ini:



[1] Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, “Sirah Nabawiyah”, Pustaka Al-Kautsar, 2000.
[2] Imam Nawawi, “Terjemah Riyadhus Shalihin”, Pustaka Amani, 1996.
[3] Imam Nawawi, “Terjemah Riyadhus Shalihin”, Pustaka Amani, 1996.
[4] Al-Imam Abi Al-Hasan Nuruddin dan Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qoriy, “Tarjamah Pilihan Hadits Qudsi yang Shahih dan Penjelasannya”, Gema Risalah Press, 2000.