Showing posts with label Seputar Celebes. Show all posts
Showing posts with label Seputar Celebes. Show all posts

Thursday, March 8, 2012

Kopdar IIDN – ke Panti Asuhan

Andika - salah seorang
penghuni panti
Lanjutan dari tulisan sebelumnya ...

(Kopdar IIDN - di Rumahku)

Teman-teman setuju berjalan kaki menuju panti asuhan Annur yang terletak dekat kanal Rappocini. Panti asuhan itu hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah. Titik-titik air hujan menemani langkah kami di bawah naungan payung-payung reyot. Payung-payung di rumah nyaris tak ada yang beres karena terlalu sering dipakai bermain kemah-kemahan sejak Affiq belum memiliki adik. Dari 7 payung, hanya satu yang anatominya masih bagus.

Sebuah becak yang mengangkut aneka barang sudah berangkat duluan ke panti. Sempat terbersit ketakutan si pengayuh membelokkan becaknya entah ke mana karena ia mengemudi begitu cepat meninggalkan kami. Ayu, Icha, dan Uty yang berada lima meter di depan menunjuk arah yang dituju becak itu. “Sepertinya lurus,” kata Uty. “Belok kiri,” kata saya. Memang bisa lurus ke depan tetapi itu hanya memperpanjang waktu tempuh karena jalan yang diambil jadi memutar.

Untungnya pengemudi berkaus kuning itu akhirnya terlihat juga. Ia menunggu kami di depan tempat yang dituju sambil memasukkan barang-barang itu ke dalam panti.

Panti asuhan ANNUR. Saya sudah pernah menuliskan tentangnya di blog ini, pada tulisan berjudul Mendulang Amal Melalui 63 Orang Anak. Saya sudah pernah ke sini, jadi saya langsung mencari ibu Hj. Mari - pendiri sekaligus pengelolanya, karena sudah pernah bertemu sebelumnya.

Papan yang memuat data
para penghuni panti
“Ada Haji?” tanya saya pada seorang pengurus.
“Keluar ki,” jawabnya, sambil mempersilakan kami duduk di kursi usang yang berderet di situ.
“Kalau anaknya?”
“Keluar juga.”

Ya sudah. Tanpa mereka pun tak apa. Maka kami berbincang dengannya mengenai keadaan panti yang menampung 63 orang anak itu. Di antara mereka ada 9 anak yang belum sekolah, 20-an duduk di bangku SMP. Ada juga yang duduk di bangku SD dan SMA.

Status mereka, ada yang yatim, piatu, yatim-piatu, dan tidak mampu. Ayu sempat berbincang dengan seorang gadis yang masih duduk di bangku SMP. Ia berasal dari Majene (Sulawesi Barat) dan masih punya orangtua. Kemungkinan orangtuanya tak sanggup menyekolahkannya.

Andika berkaus tangan agar
kukunya tak melukai dirinya
“Mana Andika?” saya menanyakan seorang anak usia 8 tahun. Ia penyandang disabilitas. Matanya sudah tak berfungsi dengan baik, ia lumpuh, dan tak mampu berbicara layaknya anak normal. Ia hanya bisa bereaksi seperti bayi, menangis, tertawa, atau diam.

Pengurus panti itu masuk ke dalam sebuah kamar dan menggendong Andika. Ia memangku Andika sambil berbincang dengan kami. Sepertinya Andika mengerti sedang dijenguk, ia sering sekali tertawa, bahkan sampai terkekeh-kekeh.

Tak lama kemudian ibu Hj. Mari datang. Ia menyalami kami. “Baru-baru ini Andika tiga kali masuk rumah sakit,” katanya. Hj. Mari tak segan membawa Andika ke rumah sakit untuk berobat walau harus diopname sekalipun. Kasih sayangnya kepada Andika begitu tulus, jauh melampaui kasih sayang keluarga kandung anak berhidung mancung lagi berkulit putih bersih itu.

Menyimak penuturan pengurus panti
“Dulu di mata Andika hanya ada sedikit bintik putih,” ujar Hj. Mari. “Saya bawa ke rumah sakit. Dokter yang menangani mengatakan ia bisa mengoperasinya. Setelah operasi dan kami pulang ke rumah malah tambah parah. Sepertinya dokternya bukan dokter spesialis,” kata Hj. Mari.

Cacat pada mata Andika tambah menjadi setelah beberapa lama ia keluar dari rumah sakit. Sekarang nyaris semua bidang di matanya seperti tertutup selaput. Sesekali kami melirik Andika. Sepertinya teman-teman sedang merasakan hal yang sama dengan saya, terharu dan terenyuh melihatnya. Ia tampak bahagia. Suara tawanya sering sekali terdengar.

Kami meminta izin untuk melihat-lihat kamar anak-anak panti. Haji Mari mempersilakan kami naik ke lantai atas panti yang berdinding dan beralaskan lantai papan.

Seperti inilah sebuah kamar di lantai atas
Sumber gambar: hasil jepretan Marisa (Icha)
Melalui tangga kayu yang cukup curam, aroma apek tercium dengan jelas. Sirkulasi udara di situ tidak begitu bagus. Di atas ada 5 kamar tidur, tempat anak-anak itu beristirahat. Selasar yang mengantarai kamar-kamar yang berhadap-hadapan itu tampak gelap karena cahaya matahari tak masuk ke dalamnya. Hanya ada sedikit cahaya matahari yang menerobos ke dalam tiap kamar. Suatu hari nanti jika dana memadai, haji Mari pasti akan merenovasi lantai ini.

Dengan ketulusannya yang bersahaja haji Mari berani menampung sebanyak itu anak-anak orang lain di rumahnya, mengurus mereka, mengusahakan mereka menempuh jenjang pendidikan formal hingga SMA, dan merawat mereka jika sakit selayaknya ibu kandung sendiri.

Hal berat ini dijalaninya tanpa beban. Hanya berdasarkan keyakinan bahwa Allah SWT akan membukakannya jalan. Pembaca, mari kita do’akan ia supaya senantiasa diberi kesehatan dan keridhaan oleh Allah SWT dan segala yang dilakukannya membukakan jalan ke surga-NYA. Aamiin yaa Rabb.

Ibu Hj. Dg. Mari


Makassar, 8 Maret 2012

Sehari setelah kopdar, Nunu mempublikasikan tulisan Mendulang Amal Melalui 63 Orang Anak ke beberapa grup FB. Alhamdulillah ada seorang dermawan yang langung tanggap dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening ibu haji Mari guna dibelikan kursi roda bagi Andika. Supaya ia tak perlu lagi digendong ke sana ke mari oleh ibu haji. Alhamdulillah. Semoga Allah meridhaimu, dermawan yang baik hati.

Jika Anda ingin berpartisipasi dengan menyumbangkan sebagian rezeki Anda kepada Panti Asuhan An-Nur ini, donasi Anda dapat ditransfer ke nomor rekening berikut:
0082854865, BNI cabang Mattoangin, atas nama Hj. Dg. Mari
0050-01-053078-50-8, BRI Ahmad Yani, atas nama panti asuhan An-Nur



Silakan dibaca juga yang berikut:

Tuesday, March 6, 2012

Terminal Daya ... Riwayatmu Dulu dan Kini

Terminal Daya
Sumber: http://fajar.co.id
Sudah hal biasa bagi saya semenjak kecil, jika hendak ke kampung bapak di kota Watansoppeng (± 180 kilometer dari Makassar), ibukota kabupaten Soppeng menggunakan mobil antarkota melalui terminal antarkota. Kami tak memiliki kendaraan beroda empat maka mau tak mau cara ini adalah cara terindah yang bisa kami gunakan.

Saat terminal antarkota masih di Panaikang, hal itu masih cara terindah untuk bepergian ke daerah yang berada bagian utara kota Makassar. Namun sejak terminal itu dipindahkan ke Daya, ini merupakan takdir yang amat sangat tidak nyaman sekali (saking tak nyamannya).


Masih nyata dalam ingatan saya, ketika itu anak kami baru Affiq seorang. Mengunjungi ibu mertua di Pare Pare (150 kilometer dari Makassar) adalah sebuah kegiatan yang cukup sering kami lakukan. Untuk itu kami harus ke terminal Daya dulu. Di sana baru menyewa mobil angkutan antarkota.

Bagaimana dengan taksi? Bisa saja, tapi ukuran kantong kami tak memadai untuk itu. Ongkos taksi dari rumah ke terminal Daya jauh lebih besar dibandingkan ongkos mobil dari terminal Daya ke Pare Pare (untuk satu orang). Supaya nyaman di dalam mobil, kami menyewa tempat untuk 3 atau 4 orang.

Bayangkan saja kalau mobil Panther atau Kijang, sekali berangkat memuat hingga 4 – 5 orang dalam satu deret  plus aneka barang di bawah kaki. Amat tidak nyaman kan untuk kami yang membawa seorang anak yang sedang aktif-aktifnya plus segerbong barang. Belum lagi kondisi saya yang gampang dilanda mabuk perjalanan. Itu semua membuat kami membutuhkan ruang lebih luas di perjalanan.

Sumber:
http://cartoonroom.com
Dengan membawa aneka ‘peralatan perang’ selain koper berisi pakaian seperti boks Affiq  berukuran luas sekitar 70 x 120 cm2  dan stroller  kami harus gonta-ganti angkot menuju terminal Daya (sekitar 14 kilometer dari rumah). Mulanya naik becak dulu ke jalan A.P. Pettarani. Dari situ naik angkot nomor 07 jurusan kampus UNHAS. Kemudian kami turun di jalan Perintis Kemerdekaan, ganti angkot yang menuju Daya.

Sampai di terminal Daya, rupanya angkot tidak boleh masuk ke dalam terminal. Kami turun di luar pagar (waktu itu angkot tak boleh masuk, sebulan setelahnya baru angkot diperbolehkan masuk hingga tempat parkir, itu pun setelah menuai protes dari sopir-sopir angkot). Belum apa-apa kami sudah diserbu oleh calo penumpang dan buruh yang tiba-tiba mengangkat barang tanpa persetujuan. Mereka sangat ‘bernafsu’ sehingga saya merasakan mereka memaksa, bukan membujuk kami untuk menggunakan jasa mereka. Melihat kondisi ini tentu saja saya panik, di terminal yang dahulu tak begini situasinya.

Suami saya memilih mengangkat barang-barang sebanyak itu sendiri ke pelataran yang jaraknya 100 meter. Sebelumnya kami harus membayar pajak dulu di loket yang disediakan, baru setelah itu masuk ke dalam terminal.

Masuk ke dalam, suasana masih tak nyaman. Kalau di terminal lama semua kendaraan tertata rapi dalam beberapa pelataran. Di terminal Daya dibagi per area. Kalau di terminal lama, penumpang nyaman menempati tempat duduk di setiap pelataran saat menunggu waktu berangkat, di terminal Daya tak demikian (mungkin saja ada tempat duduk, tapi itu tak ada dekat area kami).

Kami menenteng aneka barang menuju mobil-mobil berplat kuning di area terbuka untuk tujuan Pare Pare, dekat situ ada pula mobil-mobil tujuan Pinrang. Seperti yang sudah saya tuliskan tadi, saya tekankan lagi: tak ada tempat duduk di situ jadi kami hanya bisa berdiri di dekat mobil yang sudah kami sewa joknya, ditemani dengan hawa panas kota Makassar sekaligus hawa panas dan asap knalpot dari mobil-mobil di area itu untuk menunggu waktu keberangkatan yang entah berapa lama lagi. Sungguh suasana yang ‘nikmat’.

Sumber:
http://dreamstime.com
Karena kebelet pipis, saya ditemani suami dan Affiq pergi ke WC yang letaknya puluhan meter dari situ. Sekembalinya dari WC, saya panik lagi karena mobil yang tadi sudah tak ada di tempatnya. Haduh, bagaimana ini? Jangan-jangan kami ditinggal?

Setelah mencari-cari, akhirnya mobil itu terlihat. Rupanya ia berpindah tempat parkir sejauh 50 meter dari tempat semula. Masih di area itu, masih dengan ketidaknyamanan yang sama pula. Kami pun menunggu lagi sekian menit di situ hingga mobil meninggalkan terminal (saya selalu penasaran: siapa sih yang mendisain terminal Daya menjadi tempat yang amat sangat tak nyaman sekali ini?).

Hal ini tidak berlangsung sekali ini saja, melainkan beberapa kali pula setelahnya. Namun setelah itu kami memilih menggunakan cara lain yang jauh lebih nyaman. Yaitu melalui biro travel. Lebih nyaman. Tidak perlu lagi mengalami hal-hal seperti di atas.

Itu keadaan bertahun silam. Lalu bagaimana keadaan baru-baru ini? Sama saja. Terakhir suami saya mengantarkan kerabatnya ke terminal Daya beberapa bulan yang lalu, ketidaknyamanan itu masih saja terasa.

***

Seorang kerabat yang berdomisili di Luwu juga mengalami ketaknyamanan di terminal Daya. Saat terakhir kali naik bis beberapa bulan yang lalu, ia dan keluarga kecilnya masih bisa naik di ‘kantor perwakilan’ bis (masih dekat pusat kota). Namun kali ini berbeda. Jika dahulu mereka langsung berangkat ke tujuan, kali ini mereka harus turun di terminal Daya.

Shelter bis di terminal Daya
Sumber: http://jotravelguide.com

Tanpa diberitahu sebelumnya, di terminal mereka diturunkan di pekarangan, hanya barang yang masuk ke dalam ikut dengan bis. Itu karena mereka harus membayar ‘pajak’ di sebuah loket di luar. Setelah itu mereka berjalan kaki masuk ke dalam dan mengubek-ubek terminal mencari di mana gerangan sang bis berada. Berhubung ini pengalaman pertama setelah sekian tahun, itu bukan pengalaman yang menyenangkan. Dan rupa-rupanya mulai tahun ini tak bisa lagi mereka naik bis dari kantor perwakilan. Mereka harus melalui terminal Daya.

Ada lagi cerita kawannya yang dari Sorowako menuju Makassar. Tanpa pemberitahuan terlebih dulu, mereka dionggok diturunkan di pekarangan terminal, lengkap dengan barang-barang yang dibawa. Tiba-tiba saja barang-barangnya ditarik-tarik oleh lelaki-lelaki kekar tak dikenal sekaligus tak diharapkan. Untung saja ia orang Makassar, meskipun kaget ia berusaha mengantisipasi keadaan mengejutkan itu dengan baik. Namun setelah itu ia kelimpungan, dengan barang banyak bagaimana pula caranya memanggil taksi yang hanya boleh berada di luar pagar terminal?

Bagaimana kalau itu terjadi pada turis? Apa kata dunia? Apa kira-kira mereka akan mengatakan: “Pelayanan di terminal Daya sungguh mengagumkan?” (coba deh dipikir sendiri para paduka yang mulia yang bertanggug jawab atas hal ini!)

So, kesimpulannya:
Di terminal Panaikang (terminal lama) hanya ada 4 pelataran, tidak begitu luas tetapi rapi dan nyaman.
Di terminal Daya, jauh lebih luas, tetapi di situ semrawut dan amat sangat tidak nyaman sekali! (Please jangan katakan sedang diusahakan ya karena setelah delapan tahun masak masih tak nyaman?)
Belum ada tindak serius dari yang berwenang dalam mengusahakan kenyamanan bagi penumpang di terminal Daya (kenyamanan hanya milik satu pihak, dan itu bukan milik penumpang!).

Terminal Daya
Sumber: http://makassar.tribunnews.com

Dengan semua ketaknyamanan itu, saya nyaris yakin bahwa penentu kebijakan plus perancang terminal Daya adalah orang-orang yang (nyaris) tak pernah merasakan suka-duka naik angkutan antarkota. Saya jadi ingin memberikan tantangan ini, bagaimana kalau Anda mencoba merasakan seperti yang kami rasakan: dari rumah Anda harus naik angkot (boleh juga naik taksi, tapi kalau mau merasakan yang dirasakan ‘akar rumput’ supaya kebijaksanaan nurani dan benak Anda lebih teruji, coba naik angkot dulu) ke terminal kemudian menyewa tempat di angkutan antarkota di terminal menuju sebuah kabupaten di mana saja – semakin jauh semakin baik.

Dan jangan hanya mencobanya sekali seumur hidup. Minimal Anda mencobanya dua kali dalam setahun. Coba lakukan itu selama tiga tahun berturut-turut lalu simpulkan, apa yang Anda rasakan dan pikirkan? Oya, satu lagi, bertindaklah seperti khalifah Umar yang berkeliling wilayah yang dipimpinnya tanpa membuka identitas dirinya guna merasakan penderitaan rakyatnya.

Terakhir, saya menyayangkan sekali mengapa model terminal lama tak dipindahkan saja ke terminal baru? Seandainya modelnya persis sama, meskipun jauh tak mengapa karena poin pentingnya di sini adalah kenyamanan. Sebagai warga negara, kami harus menerima kenyataan bahwa dengan perkembangan sekarang terminal memang harus bertambah jauh dari pusat kota (pengandaian tak ada guna L). Tetapi sekali lagi, tolong dong kenyamanan kami diutamakan!

Makassar, 6 Maret 2012

Silakan juga dibaca yang lain yaa ... :

Sunday, February 26, 2012

Bissu pun Berkarnaval - Kemeriahan Cap Go Meh (4)

Bissu  dari Bone
Bissu pun memeriahkan karnaval Cap Go Meh tahun ini. Dengan dandanan apik, mereka ikut berjalan kaki seperti peserta karnaval yang lain.

Saya mendapatkan sedikit penjelasan tentang bissu di buku Manusia Bugis[i] sebagai berikut:

Berdasarkan sumber-sumber Portugis yang ditulis pada abad ke-16 dapat diketahui bahwa paling tidak, sejak abad itu, bissu adalah wadam yang biasanya berperilaku homoseksual. Bissu menempati posisi tersendiri di luar sistem kemasyarakatan dengan berperan sebagai pendeta, dukun, serta ahli ‘ritual trance’ (kerasukan olehmakhluk halus) yang dalam bahasa Bugis disebut a’soloreng. 
Menjadi bissu seringkali bukan sebuah pilihan, tetapi  merupakan panggilan makhluk ghaib yang kelak akan menjadi ‘mempelai ghaib’ sang bissu. Bahkan para bissu, meski dalam kehidupan sehari-hari mempunyai pasangan, kelak tetap saja akan memiliki pasangan ghaib. “Panggilan ghaib” untuk menjadi bissu ditandai dengan sebuah gejala psikosomatis seperti tiba-tiba menjadi bisu atau tiba-tiba tak sadarkan diri sehingga memerlukan penyembuhan ritual. Setelah itu diikuti dengan tahap berikutnya, yakni masa pembimbingan oleh seorang bissu pembimbing, dan diakhiri dengan upacara pelantikan. Hingga kini, sebagian besar ritual tersebut masih dijalankan oleh kaum bissu. Upacara adat yang dipimpin bissu antara lain upacara perkawinan dan kelahiran.
Bissu dari Bone
Bissu dari Pangkep
Bissu dari Pangkep
Bissu dari Pangkep


Dalam karnaval kali ini, bissu yang turut dalam karnaval adalah yang berasal dari Pangkep dan Bone. Oya, ada yang unik dalam hal ini, ada atraksi kuda hitam yang ‘menari’ sesuai irigan musik. Kuda hitam ini merupakan bagian dari rombongan bissu.
Atraksi kuda menari
Pawai becak
Barongsai bermobil ... kecapaian :D
Wow Garuda Pancasila dan ABRI ikut karnaval ...
Peserta karnaval yang berasal dari sebuah bank swasta
Tukang kripik ubi (sedang 'halo-halo') yang didanai sebuah bank
berkarnaval  beserta pegawai banknya.

Makassar, 26 Februari 2012

Silakan dibaca juga:







[i] Christian Pelras, “Manusia Bugis”, Nalar – Forum Jakarta – Paris, Jakarta, 2006 

Saturday, February 25, 2012

Atraksi Sepak Raga - Kemeriahan Cap Go Meh (3)

Bola yang digunakan pesepak raga
Sumber gambar: www.wkikipedia.org
Sepak raga merupakan olahraga tradisional masyarakat Bugis/Makassar yang juga memeriahkan karnaval Cap Go Meh tahun ini.


Olahraga yang mirip sepak takraw ini dimainkan oleh dua orang atau lebih. Biasanya dimainkan sebagai hiburan, di mana pemainnya membentuk formasi-formasi tertentu. Dalam hal ini para pemainnya bisa sampai saling bertumpuk, seperti cheer leader. Jika sepak takraw membutuhkan lapangan permainan, sepak raga tidak membutuhkan lapangan. Pemainnya bisa memainkannya di mana saja.


Seperti dalam karnaval Cap Go Meh ini, mereka melakukan atraksi di jalan. Atraksi dilakukan oleh beberapa orang dan mereka sampai membuat formasi 'bertumpuk' dalam memainkan bolanya.

Bola yang dimainkan terbuat dari rotan, tidak hanya boleh dimainkan dengan tangan tetapi tidak boleh disentuh oleh telapak tangan. Boleh disentuh oleh bagian tangan lainnya. Bola tidak boleh menyentuh tanah. Orang  yang piawai bahkan konon bisa memainkannya bolanya selama berhari-hari. Jikalau dikompetisikan, aturan permainannya adalah siapa yang paling lama memainkan dan menahan bola tidak jatuh ke tanah, ia yang menang.


 Video kemeriahan Cap Go Meh

Video atraksi sepak raga

Makassar, 26 Februari 2012

Silakan dibaca juga:



Pesta Budaya - Kemeriahan Cap Go Meh (2)


Berkumpulnya aneka budaya dalam sebuah karnaval adalah peristiwa yang amat jarang. Setidaknya setahun sekali bisa dilihat dalam kemeriahan cap go meh yang dilaksanakan tanggal 5 Februari kemarin.

Aneka ragam pakaian adat dikenakan muda-mudi terlihat di sini. Bukan hanya pakaian adat Sulawesi Selatan, tetapi juga pakaian adat dari daerah lain.

Tampil cantik dan ganteng
tapi rela berpanas-panas
demi kemeriahan karnaval
Karnaval budaya nusantara
Pakaian adat Sulawesi Selatan
Dari Sulawesi Selatan terlihat pula wakil  komunitas suku Kajang yang berasal dari daerah Bulukumba turut meramaikan karnaval. Meski tanpa alas kaki, tanpa mempedulikan sengatan sinar matahari mereka rela berpartisipasi.

Berikut ini cuplikan tentang sedikit hal mengenai suku Kajang (sumber artikel : Suku Kajang: Antara Keterasingan dan Kearifan Lokal)
Peserta karnaval dari suku Kajang
Suku Kajang adalah salah satu suku yang tetap mempertahankan kearifan lokal sampai saat ini. Suku ini terletak di Sulawesi Selatan tepatnya sekitar 200 km arah timur Makassar. Suku ini mendiami sebuah kecamatan yaitu kecamatan Kajang, yang merupakan bagian dari kabupaten Bulukumba (Bulukumba merupakan daerah yang terkenal dengan pembuat perahu pinisi dengan pelaut-pelaut ulung). Di kecamatan Kajang sendiri dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kajang luar (Lembang) dan Wilayah Kajang adat (Kawasan adat Amma Toa / Kawasan ini di pimpin oleh kepala adat yang disebut Amma Toa). Daerah Lembang menyerap kebudayaan luar sama seperti daerah-daerah lain, tidak ada masalah dalam menerima hal-hal yang baru.

Berbeda halnya dengan daerah suku Adat Ammatoa, yang tetap berprinsip bahwa, daerah Kajang adalah daerah “tana kamase-masea” (daerah yang penuh keserhanaan). Bahkan, salah satu contoh program pemerintah adalah memberikan akses penerangan (listrik) di daerah ini, ditolak oleh komunitas adat, sehingga sampai saat ini, daerah adat Kajang Ammatoa masih menggunakan penerangan lampu tembok yang dulunya terbuat dari buah jarak, tetapi sekarang sudah memakai minyak tanah.

Jadi jangan mencari ada alat elektronik di daerah ini. Memasuki kawasan Adat, penduduk tidak boleh memakai alas kaki, termasuk tamu yang datang dari luar, karena itu merupakan suatu penghinaan. Atau jangan sekali-kali memakai pakaian warna merah. Pakaian orang-orang Kajang adalah pakaian serba hitam, yang ditenun sendiri, yang konon harganya sangat mahal, bahkan sampai jutaan rupiah.
 
Tingkat pendidikan masyarakat Kajang khususnya kawasan adat Ammatoa, jarang yang lulus SD, sehingga program melek huruf dari pemerintah mengalami kendala. Walau, didalam kawasan adat sendiri, sekarang sudah berdiri beberapa Sekolah Dasar dan ada sebuah Sekolah Menengah Pertama. Tetapi kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih sangat rendah, bahkan ada yang menganggap sekolah adalah hal yang negatif. Anak laki-laki mulai umur 6 tahun wajib membantu orang tuanya di ladang dengan mengembala sapi atau kerbau.
 
Sumber dari segala kegiatan atau pola hidup atau hukum adat bersumber dari pappasang (semacam undang-undang yang dihafalkan dengan lisan secara turun temurun). Agama mereka adalah Islam, dan akan marah jika dikatakan bukan orang Islam. Tapi jika dilihat lebih dalam, orang-orang Kajang masih menganut animisme, dinamisme ataupun totemisme. Sumbernya adalah “patuntung”, sehingga ada yang mengatakan bahwa agama orang Kajang adalah agama Patuntung. Agama patuntung adalah semacam upacara adat, dan sangat kelihatan pada acara-acara kematian.

Entah mengapa hampir semua foto yang dibidik suami saya kepada orang-orang suku Kajang ini kelihatan blur. Hanya satu yang jelas. Ada seseorang yang juga mengambil gambar mereka, merasa harus meminta izin kepada salah seorang dari mereka. Apa ini karena suami saya tidak meminta izin terlebih dahulu ya? Di blog ini ukurannya saya perkecil sehingga masih kelihatan jelas, tetapi jika dilihat dalam ukuran yang sebenarnya, tidaklah demikian.

Mereka menarik dalam kebersahajaan. Mereka memiliki aura mistis karena masih memegang kepercayaan yang dipegang oleh nenek moyang mereka. Saya memajang foto mereka di sini hanya untuk berbagi saja, mengabarkan kepada khalayak di dunia maya mengenai kekayaan budaya Sulawesi Selatan, mudah-mudahan mereka mengerti.

Aneka simbol mewarnai karnaval

Makassar, 25 Februari 2012

Ini tulisan saya yang lainnya, yuk dibaca J