Showing posts with label Gelitik. Show all posts
Showing posts with label Gelitik. Show all posts

Tuesday, January 10, 2012

Di Mana, ke Mana, yang Mana ...

Sumber gambar:
attracthealing.wordpress.com
Kemampuan navigasi saya parah. Sepertinya kecerdasan ruang-spasial saya memang rendah (hiks).  Waktu masih kuliah, saya ke mana-mana seorang diri, termasuk menelusuri pasar Sentral untuk membeli sesuatu. Jalan masuk/keluar di/dari pasar itu ada pada keempat sisinya. Saya tak pernah bisa masuk dan ke luar di pintu yang sama. Setelah berputar-putar di dalam, saya tak pernah bisa menebak dengan benar arah yang harus saya tuju dengan singkat untuk sampai ke jalan ke luar yang sama dengan yang saya masuki sebelumnya (pentingkah? Tidak hehehe).

Kalau saya dan suami bernostalgia mengenai tempat-tempat yang pernah kami datangi, lalu ia menyebutkan sebuah tempat diiringi dengan pertanyaan, “Ingat, tidak?” Biasanya saya menjawabnya dengan, “Tidak.” Oya, saya punya jawaban lain selain kata ‘tidak’, yaitu: menggeleng-gelengkan kepala (haish ... sama saja!!)


www.sandersconsulting.com
Pernah, seorang tante yang baru datang dari Jawa minta ditemani mengunjungi kerabat yang tinggal di jalan Onta Baru yang panjangnya cuma sekitar 200 meter. Saya mengiyakan saja, lalu kami pergi ke sana naik becak. Sampai ke tempat yang dituju, saya bingung rumahnya yang mana ya ... untung tante itu sabar jadi ia diam saja. Apa saya baru kali itu mendatangi rumahnya? Tidak, sebelumnya saya sudah empat atau lima kali ke sana. Tapi anehnya saya tidak bisa hafal juga yang mana rumahnya.

Kalau jalan Onta Baru itu panjangnya dua kilo meter mungkin masih wajar ya kalau saya lupa. Ini hanya dua ratus meter, ada landmark (sesuatu yang mudah dijadikan pengingat) pula berupa pekuburan umum. Seharusnya bagi orang yang memiliki taraf kecerdasan ruang-spasial yang normal ini hal yang sangat mudah, tinggal mengingat-ingat bentuk rumah dan kira-kira berapa jauh dari pekuburan itu tapi nasib saya sungguh malang. Setelah berputar-putar di situ-situ saja akhirnya kami menuju tempat lain ... ha ha ha (eh lucu ya ... lucu kan ... KD K DK D .... ).

Akhirnya saya menyadari dari mana bakat kelemahan pengetahuan arah dan tempat ini, rupanya warisan dari ayah saya! Genetika? Mungkin juga. Soalnya ayah saya ternyata seringkali lupa jalan padahal jalan itu sering dilaluinya. Ibu saya pernah mengeluhkannya. Saya pun pernah mendapatkannya sedang menjadi korban atas kelemahan ini sewaktu saya membonceng skuter hijaunya ke suatu tempat bertahun silam.

Untungnya saya masih bisa pergi dan pulang kampus atau ke tempat-tempat lain sendiri. Meski sering menemui hal-hal yang memalukan seperti kisah di atas. Yah, anggap saja itu bumbu perjalanan. Perjalanan dengan bumbu seperti itu asyik juga lho (idih kata siapa ... ngelesdotcom).

Pada suatu sore ... Pulang dari kampus, seperti biasa saya menggunakan angkot nomor 07. Seperti biasa pula turun di jalan A.P. Pettarani, di seberang masjid H. M. Asyik. Dari sini saya masih harus menyewa becak untuk sampai ke rumah. Kali itu saya takjub karena menemukan kemudahan. Kami tak harus memutar sepuluh meter di depan. Di dekat pangkalan becak itu sudah ada jalan memotong ke seberang.

“Ajaib,” pikir saya. “Kapan ya ini dikerjakan?” saya masih asyik dengan percakapan di benak sendiri. “Pemerintah tahu saja kebutuhan Kami,” kata suara di benak saya.

Sesampainya di rumah saya menceritakan hal itu kepada adik saya, Mirna.

“Sejak kapan ya, ada jalan pintas di situ?” tanya saya.

Mirna yang semula terbengong-bengong mendengar cerita saya lantas terbahak-bahak. Saya bingung. Apa yang lucu? Ini kan bukan cerita lucu?

“Hei, jalan itu kan sudah empat* tahun seperti itu. Masak sih Kamu baru sadar?” tukas Mirna.

“Ah, masak sih sudah 4 tahun? Rasanya baru-baru ini saja ...”

Mirna makin hebat terbahak-bahak nyaris terbatuk-batuk.

Sudah 4 tahun? Ke mana saja saya selama ini?

Saya tak punya pilihan lain selain ikut terbahak-bahak bersamanya hingga air mata kami keluar.

Makassar, 10 Januari 2012

Mugniar berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia, disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, dan Kios108”





NB:


*Setelah posting tulisan ini. Saya jadi ragu, saat itu Mirna bilangnya sudah 4 tahun atau sudah 2 tahun ya? Kejadian ini ril, fakta, kenyataan (haduh segitunya penekanannya hehehe). Tapi kemampuan mengingat detil saya kadang-kadang di bawah garis normal (suami saya sering menertawakan saya karena hal ini ... hiks). Jadi maafkan saya mak-mak kecebong tiga warna dan para pembaca.  Hanya saja saya minta .... minta dengan sangat: biarkanlah yang tertera di situ tetap 4 tahun (dibulatkan ke atas gitu) soalnya kisah ini lebih lucu dengan bilangan 4 tahun itu (bukan begitu? begitu bukan?)  ...  ^_*


Setelah baca yang ini ... boleh koq baca yang lainnya juga :

Kamar Mandi is Affiq’s Favorite
Perjalanan Menuju Trans Studio
Birokrasi dan Sistem Administrasi Sepanjang Zaman?

Sunday, December 25, 2011

Rem Darurat Ala Kakek

Suami saya sedang di lampu merah persimpangan jalan Monginsidi - Ratulangi - Haji Bau ketika tiba-tiba ada motor bebek yang menabrak knalpot motornya dari arah belakang.

Spontan ia menoleh. Seorang kakek berusia di atas 55 tahun pengendara motor yang sedang membonceng cucunya itu menyambut tatapan suami saya dengan tawa. Ia berkata, "Maaf Nak, tidak ada remnya motorku."
"Apa? Kakek ini mengendarai sepeda motor yang remnya tak berfungsi dan menggunakan motor lain untuk menghentikan laju motornya?" suami saya membatin.


Alhasil suami saya hanya bisa tertawa kecut menanggapinya. Antara merasa keki dan merasa lucu.
^__^
Makassar, 26 Desember 2011

Rayuan Maut SPG Kacamata

Suami saya (S) dibujuk-bujuk oleh seorang sales promotion girl (SPG) kacamata anti sinar ultra violet yang mendadak mangkal di sekolah Affiq saat ia hendak menjemput Affiq pada suatu hari.

SPG     : “Beli kacamatanya, Pak. Harga normalnya seratus dua puluh sembilan ribu rupiah. Untuk minggu ini – hanya minggu ini saja, ada diskon sehingga bapak bisa membelinya dengan harga lima puluh ribu rupiah saja.”

S          : “Saya sudah pakai kacamata, Mbak. Tidak bisa pakai kacamata lagi.” (Suami saya memang mengenakan kacamata minus)

SPG     : “Tidak apa-apa Pak, kan minus, bukan hitam.”


S          : “Saya pakai helm Mbak, helm-nya ada penghalangnya. Kalau Saya pakai kacamata anti ultra violet lagi, bagaimana Saya bisa melihat jalan?”

SPG     : “Kan bisa dikasih temannya, Pak.”

Suami saya hanya tertawa ..
Makassar, 25 Desember 2011

Tuesday, November 15, 2011

Permen

Kalau ingat gaya saya dan adik-adik dulu saat makan permen 'rokok', rasanya geli.
Karena kami akan memperlakukan permen itu seolah-olah rokok, mengepitnya di dua jari (telunjuk dan jari tengah), memasukkan di mulut sesaat, kemudian berlagak menghembus-hembuskan asap.
Saya tergelak mengingat hal ini.
Aih ... padahal tidak ada bagusnya yang namanya rokok, hanya menebar penyakit.
Maaf ya buat yang pro rokok.
Anak-anak lain pun demikian kalau sedang makan permen 'rokok' ini.
Ternyata dari tahun ke tahun ada saja produsen yang membuat permen 'rokok', dengan berbagai rasa.
Sekarang pun masih ada rupanya.

Ini permen lho ...
Makassar, 15 November 2011

Saturday, October 22, 2011

Tiga Pilihan di Pagi Hari

Di sebuah SD Inpres:
Yang datang tepat waktu harus ikut apel pagi.
Yang terlambat datang, dihukum dengan membersihkan sekolah.
Yang sangat terlambat datangnya, langsung disuruh masuk kelas (untuk belajar).
Jadi, kesimpulannya lebih baik tepat waktu, terlambat datang, atau sangat terlambat?

Sunday, October 9, 2011

Antara Kompor dan HP

Saat lagi masak, saya menerima telepon.
Meski ada yang memperingati, tidak baik menerima telepon seluluer sementara kompor gas sedang on, saya masih belum mengindahkannya.
Yah, habis bagaimana lagi jika keadaan menuntut harus menelepon di saat sedang masak?
Yee ... excuse niiih
Seperti hari itu, jadilah saya menerima telepon sementara kompor di dekat saya sedang menyala.
Saat pembicaraan selesai, saya pun mematikan ...
Eh ... kenapa api di kompor tiba-tiba mati? Saya kan belum selesai masak?
Saya perhatikan lagi baik-baik HP di tangan saya.
Oalah, ternyata HP belum saya matikan padahal pembicaraan sudah usai.
Dan yang saya matikan adalah : kompor.
Meski hanya sendirian di dapur, saya jadi malu sendiri .... :))
Makassar, 10 Oktober 2011

Tuesday, September 6, 2011

Kan Belum Minum ?

Ini kejadian yang sudah lamaaa sekali.
Berapa tahun lalu ya?
Kira-kira 32 tahun yang lalu ...
Saya dibawa sepupu saya - kak Suja, bertamu ke rumah seseorang.
Saya duduk manis di samping kak Suja di ruang tamu. Tenang memperhatikan kak Suja berbincang dengan sang empunya rumah.
Setelah bermenit-menit menunggu, kak Suja menyudahi urusannya dan pamit pulang pada tuan rumah.
Saya protes tak rela, "Pulang? Kita kan belum minum teh!"

Terpaksa tuan rumah masuk ke ruang dalam untuk membuat teh dan menyuguhi kami.

Makassar, 6 September 2011

Zaman dulu, biasanya kalau ada tamu disuguhi teh. Sirup yang sebenarnya lebih praktis belum selazim teh. Baru terpikir sekarang, kalau tuan rumah memiliki termos air panas, ia bisa langsung menyeduh teh untuk kami. Tetapi kalau ia tak memilikinya, berarti ia harus memanaskan air dengan kompor minyak tanah (waktu itu belum ada kompor gas). Waduh, betapa merepotkanku yah .... ???

Wednesday, August 31, 2011

Beda Selera

Wali kelas 5 tahun ini memerintahkan para muridnya untuk tidak mengenakan parfum ke sekolah karena ia merasa mau muntah jika mencium semarak parfum menyeruak di antara bau anak-anak ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya: wali kelas 4 memerintahkan para murid untuk mengenakan parfum ke sekolah karena ia merasa mau muntah jika mencium semarak bau anak-anak ini tanpa parfum
Lain padang lain belalang.
Lain wali kelas lain seleranya.
Makassar, 31 Agustus 2011

Friday, July 15, 2011

Got Pembawa Petaka

Ini kejadian sewaktu masih kuliah ...
 Seperti biasa, saya naik pete’-pete’ (istilah untuk angkot di Makassar), ke kampus UNHAS. Turun di depan PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa), di sebelah selatan fakultas Teknik, saya menyeberang jalan menuju gedung fakultas.
Tiba di got selebar sekitar 70 sentimeter meter, saya berhenti sejenak. Tidak ada jembatan di situ, untuk memutar, jujur .. saya merasa malas mengambil jalan memutar. Saya ragu-ragu mengukur kemampuan melompat dengan lebar got itu karena saya memakai rok yang agak sempit. Tetapi saya meyakin-yakinkan diri, mengambil ancang-ancang lalu .... hop ... saya melompat. Sukses. Sukses, "selamat" sampai di seberang? Ooo tidak mungkin ... sukses jatuh ke seberang. Lurus badan saya, merapat dengan bumi.

Seorang mahasiswa yang berada dengan jarak 1 meter di depan saya berhenti. Ia menoleh ke arah saya, menawarkan bantuan. Saya berdiri dengan rasa malu, kembali meyakin-yakinkan diri untuk kembali melangkah mantap. Pura-pura cuek. Saya hanya menepis sekedarnya pakaian saya yang pastinya berdebu, lalu melanjutkan perjalanan meski dengan kaki agak gemetar karena jantung berdebar kencang.
Masuk dari sisi selatan gedung fakultas, adalah jurusan Arsitektur. Saya berusaha menengkan langkah. Agak gemetar tapi lumayan kelihatan mantap, saya menyusuri jurusan Arsitektur, menuju tangga ke lantai dua. Naik ke lantai dua, adalah jurusan Mesin. Masih beberapa menit untuk sampai di tempat kuliah saya di lantai tiga, jurusan Elektro.
Saya masih sibuk menenangkan debaran jantung dan getaran langkah kaki melewati jurusan Mesin. Hingga tiba-tiba ada suara yang menyapa saya yang sedang melangkah menunduk, “Niar ... Kamu habis merayap ya?” Saya tersentak kaget. Seketika saya meneliti jilbab hitam dan baju kaus hitam yang saya kenakan dengan rok span berwarna hijau. Alamak ... betapa kumalnya saya ditutupi debu yang lumayan banyak dan sangat kentara di jilbab dan baju saya!
Dengan rasa malu yang memuncak, saya mempercepat langkah gemetar disertai jantung yang berdegup lebih kencang, sambil menepis-nepis debu yang tersebar di pakaian saya, menuju tangga naik ke lantai tiga.
Makassar, 16 Juli 2011

Monday, May 16, 2011

Kursi Pembawa Petaka

Satu cerita saat masih mahasiswi:

Saat itu, baru setahun menjalani perkuliahan, seorang senior meminta saya menjadi MC pada sebuah seminar yang diadakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Teknik. Entah apa yang mendorongnya meminta saya, padahal saya belum pernah satu kali pun menjadi MC dalam acara apa pun. Dan anehnya lagi, saya mengiyakan. Maka jadilah saya bersama seorang sahabat, dengan mengenakan jaket merah almamater hadir sepagi mungkin di lokasi seminar. Nanni – sahabat saya itu, sama juga seperti saya, tidak pernah menjadi MC. Berani sekali kami. Sebelum mulai, seorang pengurus senat memberi wejangan singkat  kepada kami tentang bagaimana menjadi MC yang baik. Hmmm .. lumayan, dapat satu ilmu yang bermanfaat.
Seperti biasa dalam seminar kampus, acara itu dihadiri oleh pejabat-pejabat fakultas, dan dibuka oleh ketua senat. Meski gugup, saya dan Nanni berusaha menjalankan tugas sebaik mungkin. Beruntung tempat duduk kami berada di belakang meja yang agak tinggi, jadi hanya bagian kepala kami saja yang tampak oleh sebagian hadirin di ruangan itu sehingga rasa kikuk sedikit terobati. Setiap jeda, kami berdua duduk di kursi-kursi beroda itu.
Untuk lebih merilekskan diri, sambil bersandar dan berbisik-bisik dengan Nanni, saya iseng menggerak-gerakkan kursi ke belakang hingga kaki kursi bagian depan terangkat sedikit. Satu kali, aman. Dua kali, aman. Gerakan saya makin kencang ke belakang. Ke sekian kali ... “BRAK” ... Saya terjengkang ke belakang, lurus merapat di lantai. Aduh mak .. malunya. Seandainya saya tahu mantera untuk menghilangkan diri seketika, pasti buru-buru saya gunakan. Nanni membantu saya duduk kembali. Beberapa pasang mata menangkap kejadian memalukan itu. Tetapi karena seminar tengah berlangsung, mereka tetap di posisi semula. Sebagian hadirin yang lain mungkin tidak sadar dengan kejadian itu karena posisi saya terlindung oleh meja tinggi. Syukurlah ... Dengan rasa malu yang amat sangat besar, saya memohon-mohon pada Nanni supaya ia membiarkan sayamelarikan diri dari tempat itu, dan supaya ia sudi menyelesaikan tugas sebagai MC sendiri. Nanni yang baik, ia tetap tenang dan terus membesarkan hati saya, sehingga saya bertahan di tempat itu hingga acara selesai dengan rasa malu yang masih amat sangat besar. Nanni yang baik, bertahun-tahun kemudian  mengingatkan saya kejadian itu dengan tertawa geli... hhhh... untung saat kejadian ia bersikap tenang, jika ia tertawa seperti  itu saya pasti sudah lari meninggalkannya seorang diri. Beruntung peristiwa itu tidak berekor panjang.Mungkin hanya Nanni dan saya yang masih mengingatnya hingga kini. Ah .. mudah-mudahan Nanni sudah lupa.

Makassar, 16 Mei 2011

Sunday, May 1, 2011

Siapa Ya ... ?

Ini kejadian waktu masih kuliah.

Suatu siang, seperti biasa saya berniat pulang dengan pete-pete (pete-pete = angkot, istilah di Makassar). Saya ke terminal kampus, mencari pete-pete jurusan kampus UNHAS - Veteran. Di atas pete-pete, sejumlah penumpang sedang menunggu kendaraan tersebut membawa mereka pulang.

Saya mengenali wajah salah seorang penumpang sebagai teman sekelas di SD. Namanya pun masih saya ingat. Saya menegurnya dengan menyebut namanya, dan memperkenalkan diri saya, "Saya Niar, teman SD-mu .. ", begitu sapa saya (dalam hati saya merasa, dia pasti mengenali saya .. ehm .. agak narsis ... karena saya dulu sering ranking 1 di kelas). Namun ia kelihatan bingung. Dengan jujur ia balik bertanya, "Niar siapa ya?". Saya mulai keki, "Kamu tidak ingat saya? Teman SD-mu?". Dia masih menggeleng. Dalam hati saya berujar, "Please deh, kan Kamu bisa pura-pura mengenali Saya. Biar nanti sampai di rumah baru Kamu pikir-pikir lagi siapa sebenarnya Saya ini...". Sampai beberapa menit kemudian, dan sampai saya turun lebih dulu dari dia bermenit-menit kemudian, ia masih tak mengenali saya. Waduh .. kekinya ... mana percakapan kami didengar oleh penumpang-penumpang lain lagi ..
Makassar, 2 mei 2011

Friday, February 11, 2011

Kita Atau Kita' ?

Ini cerita bapak saya sewaktu masih sekolah di SAA (Sekolah Asisten Apoteker) pada tahun 1950-an silam (SAA ini bertahun-tahun kemudian berganti nama menjadi SMF (Sekolah Menengah Farmasi), letaknya di jl. Baji Gau Makassar, depan SMPN 3) ....
Suatu ketika terjadi percakapan bapak saya dengan temannya, orang Manado. Temannya itu tengah mencari mistarnya, ia bertanya apakah mistar yang berada di depan mereka adalah mistarnya, “Ini kita pe belebas?” (dalam dialek Manado, kata kita mengacu pada kata ganti orang pertama tunggal, yaitu ‘saya’). Bapak saya menjawab, “Bukan, ini kita’ punya belebas” (dalam dialek Bugis/Makassar, kata kita’ mengacu kepada kata ganti orang kedua, yaitu ‘anda’). Selama beberapa menit kemudian percakapan itu berulang karena tidak akan selesai kalau tidak ada yang menjelaskan perbedaan dialek itu karena teman bapak mengira bapak saya mengakui mistar itu milik bapak tetapi bapak saya mengira yang dimaksud temannya adalah apakah mistar itu milik bapak saya padahal di benak mereka adalah yang sebaliknya ...
Bingung membacanya ... ? pahami dulu dialek Bugis/Makassar dan dialek Manado ... kalau sudah paham ... terlalu deh kalau anda masih bingung ...
11 Februari 2011

Teman dan Saudara Kandung

Ini masih cerita bapak saya. Bapak saya dahulu bekerja di rumah sakit Hikmah. Adik bapak yang namanya om Jasmin tinggal di jl. Maipa, dekat rumah sakit Hikmah.
Suatu ketika, bapak saya mendapati om Jasmin tengah bercakap-cakap dengan seorang dokter di rumah sakit itu. Dokter tersebut teman om sewaktu masih sekolah di Soppeng puluhan tahun silam. Bapak mendekati mereka. Begitu sadar ada bapak di situ, pak dokter itu berkata kepada om, “Ini orang Soppeng juga, namanya pak Marakarma” (maksudnya memperkenalkan bapak saya kepada om). Bapak saya yang memang kalem hanya tersenyum kalem diperkenalkan pada adik kandungnya sendiri.
11 Februari 2011

Tanggal 10 Atau 14 ?

Ini cerita ibu saya.
Suatu ketika bapak dan ibu pergi ke acara keluarga di Sungguminasa, Gowa. Acara naik rumah barunya mertua kak Jaya. Kak Jaya itu anak dari kakak perempuan bapak saya. Hari itu tanggal 10 Juli 2010. Ibu memberitahukan kepada keponakan-keponakan bapak yang ada di acara itu bahwa hari itu hari ulang tahun bapak. Mereka menyelamati bapak dan menanyakan kapan acara makan-makannya. Bapak saya yang memang kalem, seperti biasa ... hanya tersenyum kalem ... tidak mengiyakan, tidak membantah, dan tidak pula mengatakan sepatah kata pun padahal hari ulang tahunnya sebenarnya empat hari kemudian, 14 Juli, bukannya 10 Juli. Ibu saya lupa tanggalnya (karena faktor umur, biasanya sih setiap tahun beliau ingat, akhir-akhir ini beliau sering lupa tanggal ulang tahun kami). Keponakan-keponakan bapak percaya saja yang bilang kan istrinya.
11 Februari 2011

Tuesday, February 1, 2011

Kolostrum Atau Skrotum ?

             Saya ingat pernah menonton kuiz Siapa Berani di salah satu TV swasta. Saat itu sudah babak akhir. Di antara soal yang diberikan oleh Helmi Yahya – sang presenter, adalah pertanyaan “Apa nama air susu yang keluar pada hari-hari pertama setelah persalinan?”. Peserta kuiz – seorang ibu, di depan Helmi menjawab dengan lantang dan haqqul yakin, “SKROTUM!”. Kontan di studio yang saat itu berisi lebih dari 100 orang, meledak oleh tawa penghuninya. Si ibu peserta kuiz kelihatan bingung, ia belum  menyadari kesalahannya. Helmi hanya menyuruhnya untuk mencari kembali jawaban yang benar sesampainya di rumah ....
31 Januari 2011

Beli Minuman Atau Game ?

              Suatu hari saya ke warung, hendak membeli minuman ‘pengganti ion tubuh’. Tetapi saya jadi salah tingkah sendiri saat menanyakannya pada empunya warung, “Pak, ada Time Zone ?” .... kedengarannya koq aneh ya .. pikir saya. Empunya warung kelihatan bingung. Untung hanya beberapa detik saya mampu meralat pertanyaan saya dengan mengganti ‘Time Zone’ dengan salah satu merek minuman pengganti ion tubuh.
31 Januari 2011