Showing posts with label PPD Dunia-Akhirat. Show all posts
Showing posts with label PPD Dunia-Akhirat. Show all posts

Friday, October 28, 2011

Pemuda, Ayo Berjuang Tentukan Pilihan, Kejar Impianmu

Seorang kerabat di sebuah pulau di Indonesia timur pernah minta dicarikan bimbingan belajar untuk persiapan masuk UNHAS (Universitas Hasanuddin) untuk salah seorang gadis - kenalan baiknya.
Saya bertanya, “Mau masuk jurusan apakah?”
Kerabat saya menjawab, “Hubungan internasional.”
Kerabat itu kemudian berkata lagi, “Kalau bisa carikan kalau membayar tanpa tes, bagaimana caranya. Katanya susah masuk UNHAS, harus ada channel di dalam baru bisa lulus.”
Saya menjadi geregetan. Ini pemikiran beracun dari mana? Siapa bilang demikian? Idealisme saya terusik. Saya sangat menyukai anak-anak muda yang mempunyai daya juang tinggi. Yang rela mempersiapkan dirinya untuk menggapai mimpi terindahnya dengan berjuang sekuat tenaga.

Saya berkata, “Anak muda koq pikirannya begitu, langsung mau cari yang bayar, tidak perlu tes. Kenapa dia tidak bimbingan dulu, persiapkan diri untuk tes?”
Kerabat saya hanya bisa menjawab, “Saya tidak tahu, dia hanya minta tolong kepada Saya.”
Bukan hanya anak gadis itu yang berpikiran seperti itu. Beberapa orang saya ketahui berpendapat seperti itu. Menurut mereka masuk UNHAS itu susah, harus ada yang bantu dari dalam kalau mau lolos. Sama persis dengan yang disangkakan anak gadis tadi.
Saya bilang, “Salah!” Kawan-kawan satu jurusan seangkatan saya di UNHAS dulu sebagian besar malah dari daerah, dan mereka lolos dengan perjuangan murni tanpa mengeluarkan duit hingga jutaan rupiah. Juga tanpa kenalan ‘orang dalam’.
Kasihan juga. Adanya pemikiran ini mungkin karena persiapan siswa-siswa SMA  di daerah tidak seperti persiapan siswa-siswa SMA di Makassar. Saya dan adik-adik dulu beruntung karena kami mengikuti bimbingan belajar jauh beberapa bulan sebelum ujian masuk perguruan tinggi dilaksanakan. Selain itu sekolah kami juga menyelenggarakan bimbingan secara intensif. Adanya banyak toko buku juga membantu kami untuk mencari bahan-bahan latihan guna menghadapi ujian. Sementara di banyak daerah belum ada bimbingan belajar sehingga untuk mengikuti bimbingan belajar mereka harus hijrah ke Makassar secepat mungkin selepas SMA. Tetapi itu pun waktu yang tersisa hanya sebulan sebelum ujian, dan sudah tentu butuh biaya yang tidak sedikit.
Lama kami tak mendengar kabar tentang anak gadis itu. Hingga suatu saat kerabat saya berkata bahwa anak gadis tersebut masuk UNHAS.
Saya bertanya, “Oya? Fakultas apa?”
Kerabat saya menjawab, “Kedokteran umum, sama-sama sepupunya, ada sepupunya yang sudah lebih dulu masuk di situ.”
Saya terkejut tetapi saya tak berkata apa-apa. Hanya ada monolog dalam pikiran saya, “What, kedokteran? Kedokteran dan HI kan bagaikan bumi dan langit? Perbedaannya signifikan sekali. Bagaimana dia bisa mengikuti pelajaran di fakultas kedokteran sementara minat awalnya sama sekali tidak ada di situ?”
‘Fakultas kedokteran’ adalah pilihan yang harus betul-betul masak pertimbangan dalam memilihnya. Terus terang tidak masuk di kepala saya ada seseorang yang tadinya memilih HI (Hubungan Internasional) yang kemudian dalam jangka waktu kurang dari sebulan memutuskan masuk fakultas kedokteran. Bukan berarti saya merendahkan HI lho. Tapi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa, jurusan itu sangat jauh berbeda dengan dunia kedokteran. Kalau misalnya dari pilihan awal FKM (fakultas Kesehatan Masyarakat) menjadi Kedokteran masih wajar. Atau dari Sospol menjadi Ekonomi, masih wajar. Ini dari HI menjadi Kedokteran?
Memang sih sekarang ada jalannya orang-orang yang berduit bisa masuk fakultas Kedokteran tanpa tes. Mereka menyiapkan duit yang cukup besar saja, sedikitnya sekitar seratus jutaan. Mereka hanya melalui serangkaian proses seleksi berkas dan wawancara, tanpa mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi lagi. Bisa jadi pilihan gadis itu adalah: tes untuk masuk ke HI atau tanpa tes untuk masuk ke Kedokteran?
Sebenarnya ini merupakan suatu pertanda kelemahan sistem pendidikan di negara kita karena selepas SMA kebanyakan orang tidak bisa menentukan dengan yakin hendak meneruskan ke jurusan apa. Yang harus dipelajari selama di bangku sekolah SD hingga SMA terlalu banyak. Beda dengan di negara-negara lain seperti Jerman dan Amerika, lulusan SMA di sana biasanya sudah tahu hendak melanjutkan ke mana.
Seperti diri saya misalnya, karena sangat gemar dengan pelajaran matematika dan bahasa Inggris serta sangat membenci pelajaran hafalan, saat di bangku SMA saya memilih jurusan Fisika. Alhamdulillah nilai-nilai saya sangat memadai untuk masuk ke jurusan itu sehingga menimba ilmulah saya di situ selama dua tahun. Nah, tamat SMA, tujuan saya hanya satu yaitu fakultas Teknik.
Tapi mau ambil jurusan apa? Saya pun mempersempit pilihan dengan menimbang-nimbang pelajaran apa yang saya sukai dan apa yang tidak saya sukai. Saya masih sangat menyukai matematika dan bahasa Inggris tetapi saya sangat membenci menggambar. Jadi, beberapa jurusan yang cukup banyak pelajaran menggambarnya sudah tentu tak masuk dalam daftar pilihan saya (Arsitektur, Sipil, Perkapalan, dan Mesin).
Saya tak berminat sama sekali masuk jurusan Geologi. Untung juga saya tak memilih Geologi karena ternyata jurusan itu memerlukan stamina fisik yang tangguh, sangat tak cocok dengan diri saya yang memiliki stamina fisik ‘ala kadarnya’ ini. Akhirnya, meskipun saya tak menyukai pelajaran fisika, pilihan saya jatuh pada teknik Elektro. Itulah satu-satunya pilihan yang sangat masuk akal bagi saya. Selanjutnya dalam menentukan pilihan kedua dan ketiga, saya pun memiliki rumus tersendiri. Tapi tak usahlah saya ceritakan di sini karena keputusan memilih pilihan kedua dan ketiga waktu itu bukan karena minat tetapi karena alasan ‘daripada tidak kuliah’ he he he.
Waktu itu saya sudah mengeset diri saya untuk hanya berusaha masuk universitas negeri. Jika tahun itu saya tak lulus, saya sudah punya plan B yaitu mengikuti bimbingan belajar selama satu tahun atau sepuluh bulan untuk mempersiapkan diri mengikuti tes di tahun berikutnya. Masuk swasta bukan pilihan bagi saya karena sudah tentu akan memberatkan kedua orangtua saya. Alhamdulillah saya diterima di pilihan pertama: jurusan Elektro. Beberapa pemuda sekarang malah tidak mau ikut ujian masuk perguruan tinggi dengan alasan: susah lulusnya, mereka langsung saja memilih universitas swasta yang bertebaran di Makassar.
Bukannya mengecilkan universitas swasta tetapi saya sangat menyayangkan mental mereka yang kalah sebelum berperang. Apalagi faktanya – bukan rahasia, dunia kerja masih mempertimbangkan asal almamater pelamarnya, mereka tentu saja lebih memilih pelamar yang berasal dari universitas negeri yang punya ‘nama’. Bukan berarti universitas swasta mutunya rendah lho, saya hanya mengemukakan fakta di lapangan. Ada juga universitas swasta yang bersaing dengan universitas negeri yang alumninya sudah merupakan jaminan mutu.

        Tak lama setelah lulus dari jurusan Elektro, visi dan misi saya dalam berumahtangga membuat saya akhirnya memutuskan tidak mengambil jalur karir di sektor publik. Minat saya malah makin menguat dalam dunia psikologi populer, pendidikan praktis, dan parenting. Nah lho, sangat tidak nyambung dengan sekolah saya kan? Kalau mau berandai-andai (meski tak ada guna), jika seandainya dari lepas SMA dulu saya bisa memindai minat saya yang sebenarnya kan saya tak perlu ‘buang waktu’ kuliah di fakultas Teknik yah? 
         Ah, tapi itu pengandaian yang tak ada guna. Karena saya beruntung di fakultas Teknik logika saya terasah apalagi saya aktif di lembaga mahasiswa jurusan, lingkungan di sana membuat logika saya semakin terasah. Logika yang cukup terasah itu bekal yang besar dalam menjalani bahtera rumahtangga bersama suami dan anak-anak. Sekarang saya jadi terbiasa mengasah logika, selain itu senantiasa berusaha juga mengasah hati. Dan satu hal, saya ketemu jodoh di kampus merah tepatnya di jurusan Elektro, fakultas Teknik. Jadi, tak rugi saya kuliah di jurusan itu  J J J.  



Makassar, 29 Oktober 2011 (pukul 01:00 jiaaaa hari Sumpah Pemuda sudah lewat)

Saturday, October 15, 2011

'Benang Merah' Antara 'Kelebihan' dan 'Kurang' Bergaul

Pagi hari itu, sepulang dari mengantar Athifah, saya bertegur sapa dengan tetangga depan rumah – ibu Hj. Timang. Haji Timang (dalam dialek Makassar/Bugis, gelar ‘haji’ baik bagi perempuan maupun laki-laki disebut sebelum namanya dengan ‘haji’, bukan ‘hajah’, biasa juga disebut ‘aji’). Mulanya saya hendak bertegur sapa sekedarnya saja mengingat saya masih harus masak. Tetapi seorang ibu yang sedang mengobrol dengannya memanggil saya, “Dipanggil ki’ “ (maksudnya, saya dipanggil oleh H. Timang).
Saya pun bergabung dengan mereka lalu mengalirlah pembicaraan seputar Amir – anak semata wayang Hj. Timang. Hj. Timang bercerita bahwa sehari sebelumnya, suami saya mengajak Amir menghadiri sebuah acara – semacam pelatihan yang diadakan di sebuah hotel yang terletak di jalan Jendral Sudirman. Mengetahui Amir telah mengucap, “Insya Allah,” kepada suami saya, Hj. Timang mendesak Amir untuk memenuhi janjinya.

Rupanya Amir tak tahu jalan. Pemuda yang baru tamat SMA yang tergolong anak rumahan ini akhirnya mengaku kepada ibunya setelah didesak oleh Hj. Timang yang menyuruhnya mencukur rambutnya dahulu sebelum pergi. Mengetahui hal itu, Hj. Timang tak tinggal diam, ia hendak bertanya di mana tepatnya letak hotel itu kepada suami saya namun urung karena dilarang anaknya.
Ia juga hendak membayarkan Amir becak supaya Amir bisa tiba di tujuan tetapi sang anak menolak. Ia bahkan menawarkan hendak mengantarkan Amir (dengan becak) supaya sang anak menepati janjinya kepada suami saya. Amir tetap menolak. Hj. Timang akhirnya menyerah. Ia berkata kepada saya, “Amir pemalu sekali. Ia memang tidak tahu jalan-jalan di kota ini karena sangat jarang keluar rumah. Kalau Saya membelikannya baju baru, tak mau dipakainya, ia tetap memakai baju tuanya. Begitu pun HP, ia tak mau memakai HP. Ia sangat suka bermain dengan anak-anak. Ia bahkan sangat menyukai anak-anak seperti itu,” ucap Hj. Timang seraya menunjuk Afyad – bungsu saya berusia dua tahun yang berada dalam gendongan saya.
Haji Timang terus bercerita tentang Amir. Dari kata-katanya tersirat kekalutannya akan masa depan Amir yang kurang bergaul itu. Bisa dipahami, kalau seseorang terlalu pasif, bagaimana ia bisa maju? Hingga sekarang pun ijazah SMA belum juga diurusnya, padahal sekolahnya sangat dekat, hanya di lorong (gang) sebelah. Kalau tiba-tiba ada lowongan pekerjaan yang mencari tamatan SMA, bagaimana ia bisa segera bersaing dengan mereka yang sudah punya ijazah di tangan?
Saya berkata, “Wah, kalau anak terlalu bergaul susah. Kalau kurang bergaul juga susah ya?” Ibu yang berdiri di sebelah saya menimpali, “Iya. Kalau anak terlalu bergaul tosseng, nakal ki,” maksudnya ‘anak yang terlalu bergaul bisa jadi nakal’. Hj. Timang berucap, “Iya. Saya syukuri Amir yang tak macam-macam. Tapi kalau sikapnya begini, bagaimana? Kalau Saya banyak bertanya, ia marah. Katanya ‘Sembarangnya mo Mama’. Masak saya dikatakan omong sembarang? Padahal kan bagaimana Saya bisa tahu apa maunya kalau ia tak bicara? Tentu saya harus menanyakannya. Tapi kalau ditanya, ia marah.”
Pembicaraan kami putus saat ada orang yang hendak membeli sesuatu di warung Hj. Timang. Saya pun pamit pulang untuk melanjutkan pekerjaan di dapur. Hari ini ada wacana baru dalam benak saya, bahwa baik anak yang kurang pergaulan maupun yang ‘kelebihan’ pergaulan bakal sama-sama menyusahkan. Ini salah satu tugas orangtua, bagaimana membuat anaknya ‘cukup’ bergaul. Jangan sampai hal itu baru disadari saat usia anak sudah delapan belas tahun, di saat ia sudah mulai mantap dan nyaman dengan karakter ‘kurang bergaul’-nya atau ‘kelebihan bergaul’-nya.
Berkaitan dengan hal ini, ingatan saya melayang pada tulisan dalam sebuah buku:
Tujuan pendidikan seharusnya mempersiapkan individu agar cakap hidup pada zamannya, mampu menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah. Proses pendidikan harus dapat membentuk manusia untuh berwawasan holistik, yang seluruh potensinya berkembang secara optimal (whole person). Manusia seperti ini adalah pembelajar sejati yang selalu sadar bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah sistem kehidupan yang luas (the person within a whole). Dia selalu ingin memberikan kontribusi positif (added value atau beramal saleh) kepada lingkungannya, baik itu sosial, ekonomi, budaya, maupun alam[i].
Pendidikan holistik dimaksudkan agar orang berkembang secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif, motorik, emosional, maupun spiritual. Dampak yang akan muncul apabila anak tidak mendapatkan pendidikan holistik adalah anak ‘pintar’ (secara intelektual/akademik, sebagai produk sistem pendidikan kita) tapi kecerdasan emosinya tidak ada (sementara kecerdasan emosi lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam bermasyarakat). Tetapi itu kalau anak jadi pintar, lha kalau anaknya tidak pintar-pintar juga, nilainya jeblok semua plus kecerdasan emosinya tidak ada, bagaimana?
Ini PR maha besar buat saya yang memiliki tiga orang anak. Belum terlambat tentunya mengarahakan anak-anak sejak sekarang. Mudah-mudahan Allah membantu dan meridhai. Apa yang akan saya katakan kepada Allah di mahkamah-Nya kelak jika saya berpulang dalam keadaan anak-anak saya ‘tak pintar secara akademik’ plus ‘tak cerdas emosi’ pula?  
Makassar, 16 Oktober 2011


[i] DR. Ratna Megawangi, “Character Parenting Space – Menjadi Orangtua Cerdas untuk Membangun Karakter Anak”, Mizan Media Utama, 2007.

Wednesday, October 12, 2011

Bagai Dua Kutub Magnet yang Tarik-Menarik

“Ma, Saya juga mau punya blog. Bikinkan Saya blog.” Kalimat ini kerap diucapkan Affiq (10 tahun) ketika melihat saya sibuk dengan blog saya di depan komputer. Bukan hanya kepada saya, ia juga kerap meminta kepada papanya. Karena didesak terus, saya pun membuatkannya melalui blog saya (Blogger/Blogspot memungkinkan penggunanya memiliki beberapa blog dari satu akun). Saya berusaha menyembunyikan password-nya supaya Affiq tidak bisa leluasa menggunakannya, juga supaya saya bisa mengontrolnya memasukkan tulisan.

Saya pernah kecolongan, ia memasukkan tulisan berisi ‘bicara sembarang’ ke blog milik saya. Waktu itu dashboard Blogger saya yang sedang terbuka, saya tinggalkan sebentar ke ruang dalam untuk suatu keperluan. Secepat kilat ia menggantikan posisi saya di depan komputer, mengetik, lalu mempublikasikan tulisannya. Untungnya cepat saya ketahui jadi secepatnya bisa saya hapus. Seandainya ada yang melihatnya, waduh alamat hancur reputasi saya di dunia blogging.
Saya masih merahasikan password blog yang saya buatkan kepada Affiq ketika tiba-tiba pada suatu hari ia berkata, “Ma, Saya sudah isi blogku.” Saya bingung, “Lho, passwordnya kan Kamu tidak tahu? Bagaimana bisa?” Ia pun memamerkan sebuah blog http://fiqsalabim.blogspot.com/ yang berisi tulisan-tulisannya kepada saya. Waduh, ternyata diam-diam ia sudah membuat sendiri blog pribadinya, lengkap dengan widget-nya! Rupanya jika sesekali saya atau papanya meninggalkan komputer tanpa mematikan modem, ia menggantikan ‘kedudukan’ kami dan membuat blog itu, mulai dari membuat alamat e-mail hingga membuat akun blog sampai mengunggah tulisan! Ternyata diam-diam ia mempelajari sendiri semua itu dan berhasil mempraktekkannya. Lagi-lagi kecolongan ...
Kami hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Kalau sudah begini, mau tak mau ia harus didukung supaya bisa memanfaatkan dunia blogging dengan baik dan mengasah keterampilannya berkreativitas. Ia mengisi blognya dengan tulisan-tulisannya yang diketiknya di Word kemudian diunggah melalui Blogger. Ia juga membuat gambar-gambar beragam mimik wajah yang dibuatnya dengan Paint. Sesekali saya tautkan link blog Affiq di status Fesbuk saya, memperkenalkan karyanya kepada kawan-kawan dunia maya saya. Total tayangan laman (page views) blognya pun meningkat secara lebih signifikan. Suatu kali Affiq memperlihatkan kenaikan yang cukup besar dari total tayangan laman blognya. Saya berdecak kagum, “Waah nambah banyak ya. Bagaimana bisa?” Ia tersenyum bangga sembari berkata, “Saya klik banyak-banyak.” Kontan saya tertawa geli mendengarnya.
Salah satu efek samping promosi blog Affiq di status Fesbuk saya adalah, ia memiliki tambahan beberapa ‘pengikut’ (folower) lagi setelah saya. Beberapa kawan saya di grup IIDN Makassar secara spontan mendukungnya, dengan sukarela mereka mendaftar sebagai pengikut Affiq. Betapa girangnya Affiq melihat pertambahan pengikutnya, ia makin bersemangat ngeblog. Sebagai ‘ucapan’ terimakasih, saya mengajarinya cara menjadi pengikut di blog kawan-kawan saya. Dengan bersemangat, ia mencari blog-blog lain untuk diikutinya.
Affiq seorang komputer mania. Ibarat udara, komputer adalah nafasnya. Sejak usia 11 bulan ia sudah bisa konsentrasi di depan komputer selama sejam, padahal pada dasarnya ia anak yang super aktif yang jarang bisa konsentrasi cukup lama menghadapai sesuatu. Ternyata komputer merupakan pengecualian. Ia dan komputer laksana memiliki 2 buah magnet beda kutub yang senantiasa saling tarik. Usia 3 tahun, secara otodidak ia sudah bisa membuat sendiri file presentasi menggunakan Power Point. Ia membuat file berisi foto-foto kami – papanya, saya, kakek-neneknya, dan fotonya sendiri beserta tulisan “PAPA”, “MAMA”, “ATO” (sapaannya kepada kakeknya. ‘Ato’ berasal dari kata ‘lato’ yang dalam bahasa Bugis berarti ‘kakek’), “OMA” (sapaannya kepada neneknya yang berasal dari Gorontalo), dan “AFFIQ”. File itu lengkap dengan tampilan gerakan pada tulisan dan gambar, dengan pilihan template yang pas.
Beberapa waktu yang lalu ia pernah mendesak minta dibuatkan akun Fesbuk. Kami tak mengizinkan. Lha usianya baru sepuluh tahun sementara menurut suami saya usia minimal yang disyaratkan untuk bukan akun Fesbuk adalah tiga belas tahun. Sesekali ia mencoba membujuk saya atau papanya, “Bagaimana kalau dua tahun lagi Saya punya Fesbuk?” Saya menukas, “Tidak bisa dong Nak, aturannya memang begitu!” Maksud kami baik, kami mau mengajari Affiq supaya taat menjalankan aturan. Meski banyak orang yang ‘mencuri’ umur supaya dapat mendaftarkan anak mereka menjadi fesbuker (karena kecil kemungkinan hal ini ketahuan oleh pihak admin Fesbuk), kami tak mau melakukan itu karena tak ada urgensinya bagi Affiq memiliki akun Fesbuk saat ini justru hal tidak baiklah yang pasti diajarkan padanya yaitu bahwa ‘melanggar aturan meski tak ada sanksi nyata itu tak apa’. Bukan hal yang terpuji ‘kan?
Walaupun masih lama baru bisa buka akun Fesbuk, ia sudah menimbang-nimbang tampilan seperti apa yang ia harapkan untuk laman Fesbuk-nya. Kepada papa yang sedang memelototi laman Fesbuk di layar komputer, ia berkata: “Saya tidak mau ada yang seperti ini nanti kalau Saya punya Fesbuk!” katanya, seraya menunjuk sisi sebelah kanan yang menampilkan deretan teman Fesbuk papa yang sedang online.
Saat melihat ada pemberitahuan baru di akun Fesbuk saya, ia merasa harus memberitahu saya, “Mama, ada pemberitahuan baru.” Saat ada permintaan pertemanan, ia pun merasa harus mengabari, “Mama, ada yang meminta berteman. Saya klik ya?” Padahal saya sudah lebih dulu mengetahuinya. Fesbuk begitu memesona baginya, saat kami sedang asyik di layar komputer memelototi akun Fesbuk kami, ia selalu antusias memperhatikan sekaligus mempelajari. Terkadang menyebalkan juga, karena dia terlalu sering mengambil posisi bagai pengawal dengan berdiri di samping kami sambil memperhatikan dengan seksama apapun yang sedang kami lakukan. Entah hendak diapakannya akun Fesbuknya jika ia kami bolehkan memilikinya sekarang sementara kawan sekelasnya hanya satu orang yang memiliki akun Fesbuk. Selain itu, kawan-kawannya di luar sekolah tak ada yang memiliki akun Fesbuk!
Suatu ketika, seseorang mengabari kepada saya bahwa usia minimum untuk menjadi seorang fesbuker adalah tujuh belas tahun, bukannya tiga belas tahun. Saya mengujinya dengan cara mencoba membuat akun fiktif seseorang yang berusia tiga belas tahun. Ternyata admin Fesbuk menolaknya. Wah, sepertinya memang usia minimalnya harus tujuh  belas tahun. Saat hal itu saya kabari pada Affiq, ia merengut dan mengomel, “Kenapa lama sekali? Bosan! Saya bosan menunggu tujuh tahun lagi!” Ia pun mengambil gerakan membelakangi saya, ngambek.
Ia juga masih berangan-angan membuat sebuah akun e-mail di Yahoo padahal ia sudah punya di Gmail. Saat saya mengirim tulisan ke VLOG-nya VIVANews, Affiq memperhatikan dengan antusias dan mengatakan keinginannya menjadi anggota VLOG. Ketika melihat saya mengunggah tulisan di akun Kompasiana, ia menyatakan keinginannya menjadi seorang kompasianer. Saat ia melihat saya sedang mempelajari Twitter, ia pun memperllihatkan minatnya. Terakhir, ia membuat satu lagi blog pribadinya di Blogspot. Ck ck ck ... saya saja hanya sanggup mengelola satu alamat blog, sementara dia mencoba membuat satu lagi?
Melakukan instalasi software adalah hal yang biasa bagi Affiq. Ia sudah bisa melakukannya sejak balita. Tanpa diajari, ia mengetahui file mana yang harus diklik untuk meng-install sebuah software game. Bahkan jika folder yang memuat master dari software itu disembunyikan di ‘pedalaman’ ruang hardisk sekali pun, ia bisa menemukannya. Sekarang, ia mencari sendiri di internet melalui Google, installer yang dikehendakinya. Berulang kali harus dijelaskan kepadanya bahwa hal seperti itu dilakukan harus sepengetahuan kami, ia tak boleh sekehendak hatinya melakukan itu (karena akan memakan ruang hardisk, mengganggu kerja komputer, dan dapat mendatangkan virus).
Saat giliran sang adik - Athifah bermain komputer, dalam hitungan menit saja posisi Athifah sudah terganti olehnya, entah bagaimana caranya. Sering kali Athifah mengadukan sang kakak kepada kami. Setelah kami menegur Affiq yang kemudian dengan berat hati meninggalkan posisi strategis di depan komputer, Athifah kembali bermain. Namun seperti yang telah puluhan kali terjadi, setelah itu Affiq kembali berada di posisi strategis menggantikan Athifah. Adegan yang sama pun berulang: menegur Affiq, Athifah kembali bermain komputer, posisinya direbut kembali oleh Affiq, begitu seterusnya hingga berkali-kali. Pokoknya jika sedang giliran menggunakan komputer, jangan sekali-kali tinggalkan tempat duduk karena gaya tarik-menarik antara Affiq dan komputer akan segera bekerja, membuat Affiq sesegera mungkin menempelkan jarinya di keyboard!
Seringkali, saat baru melek di pagi hari yang diucapkannya pertama kali adalah, “Ma, main komputer”. Begitu pun di malam hari, selalu saja ada usahanya untuk bermesraan dengan komputer. Entah sudah berapa kali komputer rusak karena ulahnya, entah sudah berapa puluh kali setting komputer kacau diubahnya. Ia pernah membuat papanya menahan nafas karena mencari file-file kerja yang tak kunjung ketemu. Belakangan ketahuan file-file itu terhapus karena ulah Affiq yang senang sekali menjelajahi seantero ruang hardisk. Namun itu tidak berarti kami boleh menghentikan pembelajaran Affiq melalui komputer, minatnya yang luar biasa terhadap komputer tidak boleh kami cerabut seenaknya karena kesalahan-kesalahan itu. File-file yang hilang tak bisa kembali lagi tetapi masih bisa diusahakan dibuat kembali meski dengan memeras keringat ekstra keras. Ia tetap boleh menggunakan komputer lagi setelah ditegur, diberi peringatan, atau dihukum, tergantung dari kadar kesalahannya.
Lebih ringan baginya dihukum dengan tidak diberi uang jajan selama berminggu-minggu sekalipun. Asal jangan dihukum tidak boleh menggunakan komputer, ia bakal uring-uringan karena dunianya seakan timpang. Ini menjadi pilihan bagi kami dalam menetapkan hukuman kepada Affiq. Jika kesalahan yang dilakukannya besar, hukumannya bisa beberapa hari hingga satu atau dua minggu larangan bermain komputer.
Melalui si sulung Affiq saya banyak belajar tentang pengasuhan anak. Melaluinya saya yakin bahwa mengasuh anak adalah sebuah seni: seni bermain layangan. Ibarat bermain layangan, saya harus tahu kapan mengulurnya dan membiarkannya bergerak-gerak dimainkan angin sekehendak sang angin membawanya. Begitu pun dalam menyikapi gaya tarik-menariknya dengan komputer yang sering kali membuat kami sangat kewalahan. Itu pun sebuah seni.
Makassar, 24 September 2011

Sunday, September 25, 2011

Ketika Maaf Harus Terucap, Maka Runtuhlah Dinding Superioritas Itu

Sumber gambar: towerofpower.com.au
Salah satu hal yang saya ketahui sewaktu masih kecil adalah bahwa sebagai anak, saya tidak boleh marah kepada orangtua. Berdosa. Seingat saya, itu tidak mengenakkan bagi saya. Di usia kanak-kanak, kemarahan itu harus saya telan dan berlaku seperti tidak ada apa-apa. Saya dipaksa untuk menyabarkan diri padahal itu sangat sulit karena kemarahan yang harus saya telan itu meracuni aliran darah dan pikiran saya, menyimpan energi baru yang sewaktu-waktu bisa saja meledak jika bertemu trigger (pemicu) yang serupa.

Mungkin masih termakan doktrin lama, saya pun tak suka jika anak-anak marah kepada saya. Namun saya menyadari sepenuhnya bahwa mereka perlu menunjukkan rasa marah mereka agar mereka bisa menyadari adanya rasa itu dan kemudian belajar mengelolanya sehingga bisa mengendalikan diri, menjadi manusia yang tidak mampu dikuasai oleh rasa marah.
Namun saya yang masih harus banyak belajar ini menyadari, hal ini masih laksana dua sisi mata uang bagi saya. Di satu sisi saya harus bertindak sebagai guru ‘kecerdasan emosional’ bagi mereka yang berarti saya pun harus cerdas secara emosional dalam arti mampu mengendalikan diri, tidak dikuasai oleh emosi dalam menghadapi anak-anak. Sementara di sisi lain ada sisa-sisa doktrin lama yang mewujud dalam superioritas sebagai orangtua sebagaimana yang didengungkan senior saat masa perpoloncoan saat mahasiswa baru dulu:
Pasal 1. Senior (orangtua) tidak pernah bersalah
Pasal 2. Jika senior (orangtua) bersalah, kembali ke pasal satu.
Suatu ketika si sulung Affiq saya larang main komputer karena malam sebelumnya ia tidur di atas pukul sepuluh malam. Maka ngambeklah ia sepagian. Sungguh tak enak melihat mulutnya mengerucut seperti itu, memancing reaksi kesal saya, “Oh begitu ya? Mau memperlihatkan marah sama Mama? Kan Affiq yang salah. Mama sudah bilang, kalau tidurnya di atas pukul sepuluh malam, jangan harap Kamu bisa  main komputer esok harinya!”
Ia masih merengut. Kali ini disertai gumaman tak jelas. Menyebalkan sekali, karena ia melakukannya di dekat saya. Mana boleh ia marah padahal ia yang salah? Saya sudah berkali-kali mengatakan kepadanya, kalau ia bersalah maka ia tak berhak marah. Tetapi ia masih merengut seraya bergumam. Saya istighfar dalam hati, “Astaghfirullah, ya Allah mungkin Saya membuat kesalahan?”
Saya pun mendesaknya mengulangi dengan lebih jelas gumamannya. Setelah beberapa kali desakan jelaslah bagi saya. Malam sebelumnya ia minta dimasakkan lauk kesukaannya oleh saya. Karena sedang flow menulis, saya menyuruhnya menunggu hingga saya selesai mengetikkan ide yang berseliweran di benak saya. Akhirnya ia baru makan malam menjelang pukul sepuluh malam. Astaghfirullah, what a mother am I? Ibu macam apa saya ini?
Menyadari hal ini saya pun memeluknya, saya dobrak dinding superior itu dengan mengakui kesalahan saya, “Oooh .. Mama yang salah ya Nak? Mama yang terlambat masak jadi Affiq terlambat makan kemudian jadi terlambat tidur juga?”
Ia mengangguk pelan.
Saya membelai-belai kepalanya, mengecup dahinya, dan mengucapkan, “Maafkan Mama ya Nak?”
Ia menjawabnya dengan anggukan.
Selanjutnya semburat dan celoteh ceria memancar dari wajah dan bibirnya. 
Alhamdulillah, hal ini tak akan menyusahkan saya kelak di akhirat karena ia sudah memaafkan saya di dunia fana ini. Mudah-mudahan besok-besok Allah masih berkehendak menyentil saya sehingga tidak tunduk oleh egoisme berdalih superioritas sebagai orangtua.
Pembaca yang budiman, menundukkan kemarahan, mengakui kesalahan, dan meminta maaf kepada anak adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Tetapi jika saya menginginkan anak-anak saya mampu melakukan hal-hal ini maka sayalah orang yang pertama kali harus mereka saksikan mampu melakukannya. Dan tahukah Anda, hal ini adalah momentum yang sangat berharga dalam pembentukan jalinan hati – ikatan batin antara saya dan Affiq. Momentum yang hanya datang pada saat itu saja, bukan pada saat-saat lain. Terimakasih Allah, saya ada di dekatnya saat momentum itu datang. Terimakasih, Engkau gerakkan hati saya untuk bersikap seperti ini saat ia butuh menyaksikan saya berbesar hati mengakui kesalahan dan meminta maaf padanya.
Makassar, 26 September 2011

Ketika Emosi (Tak) Berbalas Emosi

Sumber gambar:
school-psychology.com.au
           Perbedaan generasi antara saya dan ibu memperlebar perbedaan pola pengasuhan yang kami anut secara signifikan. Affiq kerap tak cocok dengan ibu saya, mereka berdua memiliki watak sama-sama keras. Saat berumur 3 tahun, Affiq pernah mencoba naik tangga kayu yang disandarkan di tembok luar rumah kami. Ia hendak mengikuti ayah saya yang sedang berada di ujung atas. Ibu saya tergopoh-gopoh keluar rumah, berteriak-teriak dan memarahi ayah sekaligus Affiq. Mendapati reaksi seperti itu, Affiq terus memanjat. Ibu mencubit betisnya sambil terus marah-marah, menyuruhnya segera turun. Affiq akhirnya ‘menyerah’, ia turun sambil menangis keras. Walau cubitan  yang diperolehnya tidak begitu keras, rasa sakit yang nyata ia rasakan adalah dalam hatinya.  Sejak saat itu, Affiq kelihatan anti terhadap beliau.

Saat usianya 6 tahun, Affiq pernah membuat kekacauan di rumah. Suatu ketika tanpa sepengetahuan saya, ia bermain bedak bubuk di kamar ibu saya. Bedak itu dihambur-hamburkannya di lantai. Lalu ia menulis surat yang berisi tulisan “NENEK GILA” dan menyimpannya di situ. Betapa murkanya ibu saya. Ia memarahi Affiq dan saya di depan ibu mertua yang tengah berkunjung, “BERMAIN BEDAK SEPERTI ITU BUKAN KELAKUAN ANAK UMUR ENAM TAHUN. KALAU DIA MASIH BERUMUR DUA TAHUN MASIH PANTAS. SEKARANG TIDAK LAGI!” Kami hanya bisa diam mematung.
Tidak hanya sampai di situ, ibu juga mengatakan, “IA TIRU DARI MANA MODEL SEPERTI INI? TIDAK ADA DI ANTARA ANAK-ANAKKU YANG SEPERTI INI!” Pfuh, sepertinya kata-kata itu ditujukan kepada suami dan ibu mertua saya. Untungnya ibu mertua saya sangat sabar sehingga beliau diam saja mendengar semua itu dan rentetan bom amarah ibu setelahnya. Suami saya pun diam saja, sudah biasa baginya menyaksikan hal ini sehingga ia tahu ‘diam’ adalah sikap yang sangat tepat.
Setelah merasa cukup mendengarkan amarah ibu, saya menarik Affiq ke dalam kamar. Saya marahi ia dengan keras. Saya memilih tidak bersikap lembut dulu padanya karena sudah berulang kali saya beritahu ia supaya tidak menujukan kata “GILA” kepada siapapun, karena tidak ada orang yang senang dikatai seperti itu, setiap orang akan marah jika kata itu ditujukan kepadanya. Affiq diam mendengar kemarahan saya.
Lalu suara saya melunak. Sambil membelainya, saya tekankan kepadanya bahwa yang barusan ia sakiti itu adalah ibu saya, saya tidak menyukai ada orang yang menyakiti ibu saya, dan ia pun pasti tidak suka jika ada yang menyakiti saya. Saya terus menasihati dia dengan suara yang masih lunak. Kemudian, tanpa terasa air mata saya tumpah, saya katakan betapa saya menyayanginya dan kesedihan saya atas sikapnya. Melihat saya menangis, ia tertegun beberapa saat.
Kemudian saya bertanya, “Kenapa Affiq menuliskan itu?”
Ia diam mematung.
Saya mengulangi pertanyaan saya.
Ia menjawab, “Saya tidak suka sama nenek. Nenek suka marah-marah!”
Ada pilu di sudut hati saya. Saya peluk ia dan berbisik, “Affiq bisa bilang atau tulis kalimat ‘Nenek, saya tidak suka nenek karena nenek suka marah-marah’, lebih  baik seperti itu, bukannya menuliskan ‘Nenek Gila’. Jangan lagi lakukan itu ya Nak? Itu salah!”
Ia mengangguk.
Kemudian saya menghela nafas dan mengatakan, “Affiq harus minta maaf sama nenek!”
Ia menolak.
Saya bilang, “Affiq harus mau karena Affiq salah mengatai nenek ‘gila’!”.
Ia diam.
Saya membujuk, akan menemaninya meminta maaf.
Ia masih diam.
Saya lalu menyarankan, “Bagaimana kalau Affiq tulis saja permintaan maafnya? Nanti Mama temani Affiq menghadap nenek.”
Ia bersedia.
Akhirnya ia menuliskan kata-kata permintaan maaf itu. Saya menunggu saat yang tepat untuk memberikan surat itu kepada ibu saya. Sejujurnya, saya takut menghadapi ibu saya. Beliau bukan orang yang bisa memaklumi latar belakang perbuatan Affiq. Bagi beliau itu adalah hal yang sangat salah. Kata-kata yang dilontarkannya sebelumnya, menyiratkan beliau menyalahkan ‘sifat’ Affiq yang seperti itu mengikuti papanya. Diawali membaca do’a nabi Musa, saya menarik Affiq menghadap ibu saya, lalu menuntunnya mencium beliau, dan menyerahkan surat permintaan maaf itu. Jantung saya berdegup kencang. Di wajah ibu yang masih ada gurat kesal, perlahan berubah ketika membaca surat itu. Beliau menasihati Affiq panjang lebar denga suara lunak. Alhamdulillah.
Setelah kejadian itu, saya masih harus sport jantung dua kali lagi. Seperti kejadian terdahulu, ia kembali membuat ibu saya marah besar dan membuat saya harus memaksanya meminta maaf. Terakhir (ya Allah ... mudah-mudahan ini benar-benar yang terakhir kali), pada Ramadhan tahun lalu (saat itu Affiq berusia 9 tahun). Pada suatu siang ia menyetel TV ke saluran yang menayangkan acara yang disenanginya kemudian ia meninggalkan televisi dan masuk ke kamarnya sehingga ayah mengganti saluran TV untuk menonton siaran yang diinginkannya. Tiba-tiba Affiq muncul dan marah-marah di situ, ia membentak ayah dan ibu yang sedang duduk menonton.
Karena hal itu, ibu saya memarah-marahi saya di dapur. Ya Allah, jantung saya serasa mau jatuh ke lantai! Selesai ibu memarahi, saya panggil Affiq dan menariknya masuk ke dalam kamar. Saya lalu memarahinya dengan keras karena kesalahannya sangat jelas sejelas terang matahari siang itu, setelah itu baru saya menasihatinya dengan suara lunak tetapi tegas. “Mama malu sama Nenek dan Kakek. Mereka mungkin mengira Mama tak pernah mengajari Affiq padahal ‘kan Mama tidak pernah mengajari Affiq untuk berlaku seperti itu,” kata saya lagi. Saya mengharuskan ia meminta maaf setelah buka puasa. Saya berharap, setelah buka  puasa nanti hati  ibu saya sudah melunak. Kali ini ia harus melakukannya sendiri karena saya tak mau menemaninya. Kalau ia tak mau minta maaf, ia tak akan saya perbolehkan bermain game komputer.
Bukannya menunggu sore, Affiq malah menawar: langsung meminta maaf saat itu juga. Kali ini ia memperalat adiknya (ia sudah sering menggunakan adiknya untuk mendapatkan keinginannya), ia menyuruh Athifah mendatangi ibu saya untuk mengatakan kehendaknya.
Athifah melakukannya. Ia melapor, “Nenek, kakak Affiq mau minta maaf.”
Ibu saya menjawab, “Suruh Affiq sendiri yang datang ke sini!”
Sebagai kurir yang amanah, Athifah menyampaikannya kepada Affiq, “Kakak, minta maaf sendiri sama nenek.”
Sendirian, tanpa ditemani siapapun, Affiq mendatangi ibu saya. Ia mendekati beliau dan meminta maaf. Alhamdulillah, walaupun saat itu belum berbuka puasa, hati ibu saya sudah melunak, mungkin karena sudah menumpahkan kekesalannya kepada saya sebelumnya. Beliau memaafkan Affiq dan memberikan petuah-petuah kepadanya. Affiq tersenyum lega. Entah karena dimaafkan oleh neneknya atau karena terhindar dari hukuman.
Setelah itu, masih ada konflik-konflik kecil antara ibu saya dengan Affiq. Namun Affiq kelihatannya sekarang lebih memahami neneknya. Di mata ibu saya, selalu ada kesalahan yang terjadi di dalam rumah, entah itu dari saya, penghuni rumah lainnya, ataupun dari Affiq walau pada kenyataan yang sebenarnya tak ada kesalahan sama sekali.
Jika Affiq memang tak melakukan kesalahan apa-apa tetapi dimarahi oleh beliau, saya diam dulu menunggu ibu selesai marah-marah karena tak ada gunanya mengatakan satu kata pun – hanya akan memperkeruh keadaan. Setelah beliau berlalu baru saya dekati Affiq dan membelai-belai kepalanya. Saya membesarkan hatinya, mencoba membuatnya merasakan bahwa saya mempercayainya, dan memintanya untuk bersikap lebih sabar kepada neneknya.
Ada kalanya saya harus ‘membela’ Affiq seperti suatu ketika saat Affiq sedang menikmati kegiatan menyeterika pakaian-pakaian kepunyaannya dan adik-adiknya. Sudah tiga kali sebelumnya ia membantu saya menyeterika. Saya membiarkannya walaupun hasilnya tidak begitu rapi. Bagi saya kerapian bukanlah hal yang penting. Ia mau membantu saja, saya sudah sangat bersyukur dan berterimakasih padanya.
Saat ibu saya melihat aktivitas Affiq, tak ada angin tak ada hujan, beliau langsung ngomel-ngomel, menuduh Affiq hanya sedang bermain-main dengan seterika. Affiq diam saja. Wajahnya yang semula ceria menjadi cemberut. Saya membelanya, “Affiq lagi menyeterika, Bu. Ia tidak sedang bermain!” Ibu tetap mengomel, tidak peduli dengan penjelasan saya. Saya menghela nafas panjang. Untung omelan ibu tidak berlangsung lama, setelah itu beliau meninggalkan ruangan itu. Untung pula Affiq masih diam, ia tak mengatakan sepatah kata pun, masih tetap menyeterika dengan wajah cemberut.
Kini usia Affiq sudah sepuluh tahun. Kelihatannya ia lebih mengerti keadaan ibu saya. Namanya anak-anak, sesekali ia masih mengeluarkan lontaran tidak senang terhadap sikap beliau. Saya masih harus selalu ‘meluruskan’ sikapnya karena tak mungkin meminta ibu saya untuk melunak, kamilah yang harus mengikuti ‘alur’ beliau, dan itu bukan hal yang mudah bagi kami. Meskipun demikian Affiq tahu bahwa sesungguhnya neneknya sayang padanya karena sesekali ia diberi hadiah oleh beliau. Dan yang paling penting, ia tahu bahwa ia bisa mempercayai kami – bahwa kami bisa menilainya secara proporsional, tentang kapan ia melakukan kesalahan sehingga harus ditegur/dimarahi, dan kapan ia melakukan sesuatu yang baik sehingga ia layak dipuji/diberi hadiah.
Makassar, 23 September 2011

Pendidikan Akhlak, Pengasuhan yang Penuh Pertimbangan

Nabi Muhammad, Pengajar “Pendidikan Akhlak” Terdahulu

Nabi Muhammad saw. (571 – 633) adalah orang yang lemah lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan, dan sabar saat ditekan. Beliau memiliki keberanian, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur. Beliau sangat adil, sangat jujur perkataannya, dan sangat besar amanahnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh beliau mengakui hal ini. Sebelum masa kenabian, beliau dijuluki “Al – Amin” (terpercaya). Abu Jahal bahkan pernah berkata, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi mendustakan apa yang Engkau bawa.” Ini menunjukkan betapa terpercayanya beliau sehingga walaupun orang kafir Quraisy mengingkari ajaran Islam yang beliau bawa, mereka tidak mengingkari akhlak terpuji beliau.

Beliau sangat tawadhu’, tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang penyambutan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk bersama orang miskin dan menghadiri jenazah mereka, memenuhi undangan para budak, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Beliau mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya, dan membereskan urusannya sendiri. Beliau sangat memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, sangat bagus pergaulannya, tidak pernah berbuat (dan menganjurkan) kekejian, bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan mengutuk, tidak membalas keburukan yang ditujukan kepadanya, tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnya, tidak mengungguli budaknya dan pembantunya dalam masalah makan dan pakaian, tidak pernah membentak pembantunya, dan tidak menegur perbuatan pembantunya yang tidak beres[1].
Sifat-sifat di atas yang sejatinya harus diteladani oleh umat Islam hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau.

Pendidikan Akhlak Adalah Tanggung Jawab Orangtua

Sangat ditekankan di dalam Islam, adalah tanggung jawab orangtua dalam mendidik akhlak anaknya, sebagaimana dalam QS. Lukman (31) ayat 17, yang artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat, biasakanlah mengerjakan yang  baik, cegahlah perbuatan yang buruk, dan bersabarlah  (berhati teguhlah) menghadapi apa yang menimpa engkau, sesungguhnya (sikap) yang demikian itu termasuk perintah yang sungguh-sungguh.”
Ada hadits mencontohkan hal ini: Dari Abu Hafsh ‘Umar bin Abu Salamah, anak tiri Rasulullah saw., ia berkata: Sewaktu saya dan anak-anak dulu tinggal di bawah asuhan Rasulullah saw. dan pada saat itu tanganku meraih (makanan) dalam baki besar, Rasulullah saw. berkata kepadaku: “Wahai bocah, sebutlah nama Allah ta’ala, makanlah dengan tangan kananmu dan ambillah yang ada di depanmu.” Lalu selanjutnya begitulah caraku makan. (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjelaskan bahwa ketika anak tirinya berbuat keliru, dengan spontan Rasulullah menegurnya dan sekaligus membetulkannya[2].
Di sinilah seringkali kesalahan besar orangtua bermuara. Anak-anak seringkali ‘dimaklumi’ jika berbuat kesalahan, misalnya saat seorang anak balita yang ceria secara tiba-tiba menampar teman bermainnya,  ditanggapi dengan tawa geli orang dewasa yang melihatnya termasuk orangtuanya sendiri karena merasa tengah menyaksikan atraksi lucu. Padahal meskipun dilakukan sembari bermain, tindakan itu salah dan harus segera diluruskan. Justru karena ia masih sangat kecil, adalah saat yang tepat mengajarkannya tentang mana yang benar dan mana yang salah.

Orangtua Ikut Andil dalam Membesarkan Sesosok “Monster”

Seorang anak yang melihat tawa orang dewasa menanggapi perbuatannya tentu saja akan berpikir tindakannya tersebut disenangi, dan adalah suatu kewajaran ia juga merasa senang karena telah menyenangkan orang lain. Maka masuk akal jika ia akan terus mengulangi perbuatan ‘menyenangkan’ tersebut. Padahal hal ini sama sekali tidak lagi menyenangkan jika ia tetap saja senang melakukannya lima atau sepuluh tahun mendatang. Seharusnya orangtua sesegera mungkin menyadari hal ini: semakin besar anak, kebiasaan yang tidak baik akan semakin sulit dilarang.
Ada kisah nyata, seorang anak yang tega mengusir orangtuanya dari rumahnya sendiri. Orangtuanya pun pasrah saja, keluar dari rumahnya. Sudah barang tentu bukan hal yang mudah bagi orangtua tersebut menanggulangi perbuatan anaknya yang telah  berubah menjadi ‘monster raksasa’. Ada andil orangtua dalam hal ini karena sejak kecil, apapun kemauan anaknya selalu dituruti. Orangtua tak pernah menolak kemauan sang anak, hanya karena alasan ‘kasih sayang’ dan karena ia anak semata wayang.
Ada kisah nyata, mereka yang terbiasa dituruti keinginannya tak berhenti berbuat semaunya kepada orangtua mereka. Kebiasaan ‘merengek’ sejak bayi yang menjadi senjata selalu saja digunakan untuk meluluhkan hati orangtua. Ada yang memaksa menikah padahal tidak punya tabungan sama sekali sehingga membuat orangtua dan saudara-saudara mereka banting tulang memenuhinya sementara yang bersangkutan sama sekali tidak merasa bersalah telah memberatkan orang-orang yang mengasihinya. Ada pula yang terbiasa membentak jika perasaannya sedang tak enak. Ia tak peduli kepada siapa ia membentak bahkan kepada ibu kandungnya sendiri. Ibunya hanya bisa istighfar dan menjauh ketika itu terjadi. Sikap diam diambilnya karena khawatir jika balik marah, anaknya akan menjadi durhaka.
Banyak contoh di sekeliling kita yang akan mengeringkan semua tinta di dunia ini menuliskannya. Seringkali para orangtua menganggap hal-hal ‘remeh’ bisa mereka tolerir karena kasih sayang mereka kepada anak. Padahal perlakuan ‘menolerir’ itu secara perlahan akan membentuk karakter ‘monster’ dalam diri anak-anak mereka. Karakter yang suatu saat di masa depan akan menjadi bom waktu sekaligus senjata makan tuan yang akan menyakiti dan merugikan orangtua. Sementara si anak sendiri kebal dengan perasaan bersalah karena ia menganggap tanggung jawab orangtuanyalah untuk memenuhi segala keinginannya atau untuk menerima segala kelakuannya yang menurutnya ‘wajar-wajar’ saja sampai kapan pun. Itu resiko di dunia. Bagaimana di akhirat nanti ketika semua hal yang ada di bawah tanggungan kita harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik? Pembelaan apa yang akan kita katakan kepada-Nya?

Pengasuhan yang Penuh Pertimbangan

Ada bayi berusia enam bulan yang memiliki kebiasaan menampar pipi orang yang menggendongnya. Orang-orang dewasa di sekelilingnya tertawa senang jika sang bayi melakukan hal itu. Suatu saat, seorang nanny (pengasuh) kondang mengoreksi hal ini. Ia menepis dengan halus tangan si bayi setiap kali hendak menampar wajahnya. Nanny itu tidak membenarkan perilaku tersebut – meski dilakukan oleh hanya seorang bayi karena kebiasaan yang berkelanjutan akan berdampak tidak baik di masa mendatang[3].
“Jadilah orangtua yang penuh pertimbangan” adalah sebuah ide yang digagas oleh seorang profesor psikologi dari Temple University, Amerika Serikat. Orangtua yang penuh pertimbangan mempraktekkan pola pengasuhan “penuh pertimbangan”. Pengasuhan “penuh pertimbangan” adalah pengasuhan yang memiliki tujuan tertentu, yaitu akibat dari tindakan orangtua kepada anak telah dipertimbangkan oleh orangtua, bukan merupakan suatu kebetulan [4].
Kebanyakan orangtua tidak menyadari, mereka menjalankan peran mereka sebagai orangtua dengan membiarkannya mengalir begitu saja, mengikuti bagaimana orangtua mereka ataupun orangtua-orangtua lain menjalankan peran. Tidak salah mencontoh hal-hal baik yang dimiliki orang lain dalam pengasuhan anak-anak mereka. Namun sebaiknya orangtua memiliki pola pengasuhan yang khas mengingat anak-anak mereka unik dan mengingat sekecil apapun perlakuan orangtua kepada anak, tetapi karena itu dilakukan secara intens dapat membentuk karakter anak di kemudian hari.
Bukan hendak mengatakan saya dan suami saya sempurna dalam menjalankan peran kami sebagai orangtua – sebagai manusia biasa kami memiliki banyak kekurangan, dalam hal ini saya hanya ingin berbagi cerita mengenai sulung saya Affiq yang sekarang berusia 10 tahun. Kami menyadari Affiq memiliki sifat bawaan yang keras. Ini ditunjukkan sejak ia masih sangat kecil, saat menginginkan sesuatu. Jika ia menginginkan A, tak bisa ditawar menjadi B. Suatu perjuangan berat jika mencoba mengganti pilihannya.
Saat ia masih berusia 3 tahun, kami bertiga ke toko buku. Di situ ia tertarik dengan mainan edukasi berbahan kayu yang sebenarnya sudah sangat mahir ia mainkan sehingga sama sekali tak ada gunanya ia miliki. Ia meminta mainan itu. Kami menawar dengan buku cerita anak-anak. Ia menolak. Dengan bujukan, ia akhirnya mau melihat dan memilih buku yang kami maksud.
Tak disangka saat kami berjalan menuju kasir, matanya tertumbuk lagi pada mainan kayu itu. Ia mendekati lemari tempat memajangnya lalu mulai merengek. Usaha kami membujuknya sia-sia. Ia tetap minta dibelikan. Bukan hanya merengek, ia berguling-guling di lantai dan menangis. Kalau hanya untuk menghapus rasa malu mungkin mainan itu sudah kami belikan. Tetapi kami tidak melakukannya. Kami menahan rasa malu yang memuncak pada tatapan mata orang-orang. Suami saya membopong Affiq keluar, mendudukkannya di atas motor. Saya menahan dirinya yang masih mengamuk, sembari kami naik ke atas motor. Kami berkendara di bawah terik matahari, ditingkahi Affiq yang tak mau dipakaikan topi karena masih tetap mempertahankan amukannya.
Karena masih ada keperluan lain, kami masih harus ke suatu tempat yang jaraknya sekitar 6 km dari toko buku. Sepanjang jalan menuju ke sana, Affiq berontak. Sampai di tujuan, ia tak mau masuk. Kali ini sambil menangis ia duduk di tengah jalan di depan rumah, untung jalan selebar gang itu tidak ramai. Segala bujuk-rayu kami dan orang-orang di situ ditampiknya. Setelah urusan selesai, kami pun berkendara sejauh  3 km menuju pulang, masih dengan Affiq yang meraung.
Sampai di rumah, ia masih saja menangis. Sedikit air untuk membasahi tenggorokan ditolaknya, termasuk sebotol susu kesukaannya padahal sejak tadi ia belum minum. Seperti sebelumnya, segala bujuk-rayu tak mempan. Akhirnya saya mengeluarkan ‘jurus’ pamungkas: membaca surah Yasin sebanyak 3 kali yang membuat Affiq diam, lalu tertidur selama 5 menit. Setelah itu ia bangun dengan segar, seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Dengan riang ia minta susunya dan memulai aktifitasnya dengan energi baru seolah habis di-charge padahal hampir 2 jam lamanya ia mengamuk.
Lama-kelamaan Affiq mengerti bahwa tidak semua keinginannya bisa dituruti. Ia yang dahulu senang mencoba menggeser ‘batas kekuasaan’ kami agar menjadi lebih sempit bagi kami dan lebih lebar baginya, kini sudah mengerti bahwa ada batas otoritas kami sebagai orangtua yang tak boleh ia langgar. Namanya anak-anak, sesekali ia masih mengetes kami. Sepertinya ia beranggapan tidak ada ruginya mencoba, barangkali kami mengalah. Tetapi jika kami konsisten, ia mampu menerima takdirnya.
Bukan hanya Affiq yang belajar. Kami sebagai orangtuanya pun belajar bahwa semuanya butuh proses. Reaksi kami sebagai orangtua sudah seharusnya selalu dipertimbangkan, begitu pun dalam menolerir perilakunya. Seremeh apapun itu, jika reaksi yang sama diperlihatkan kepada anak berulang kali, ia akan ‘belajar’ memperlakukan kami dengan batas-batas yang kami pasang, bukan dengan batas-batas yang ia pasang. Sudah tentu sebelumnya kami harus mempertimbangkan akibat dari batasan itu baginya ke depannya. Hal ini jauh lebih mudah diprediksi ending-nya ketimbang menyerah kepada batasan yang ditetapkannya. Batasan anak tentu tak bisa diprediksi oleh orangtua bagaimana ending-nya padahal itu bisa saja menjadi akhir mengerikan seperti contoh-contoh di atas karena sang anak telah berubah menjadi sesosok monster!
Makassar, 9 September 2011


[1] Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, “Sirah Nabawiyah”, Pustaka Al-Kautsar, 2000.
[2] Drs. M. Thalib, “40 Tanggung Jawab Orangtua Terhadap Anak”, Irsyad Baitus Salam, 1995.
[3] Deborah Carol, Stella Reid bersama Karen Moline, “Nanny 911”, Mizan, 2008.
[4] Laurence Steinberg, Ph.D. (profesor psikologi dari Temple University AS), “10 prinsip Pengasuhan yang Prima – Agar Anda Tidak Menjadi Orangtua yang Gagal”, Kaifa, 2005.

Thursday, September 15, 2011

Anak Saya Dipukul Dengan Sapu ... Syukurlah

http://shop.waroeng.nl

“Anak saya dipukul dengan sapu ... syukurlah”.
           Saat membaca judul ini anda mungkin berpikir, saya ini ibu yang gila, anaknya dipukul dengan sapu malah bilang “syukurlah”.
            Sabar ... saya kan belum bercerita apa-apa.
            Begini kisahnya.
            Affiq (sulung saya berusia 10 tahun) pulang mengaji dengan wajah muram. Ia langsung masuk kamar. Setelah berganti baju, ia keluar kamar masih dengan wajah muram. Saya yang mengamati buram wajahnya kemudian melihat ia mulai terisak-isak.
            “Kenapa, Nak?” tanya saya.

            Ia mendekati saya, masih dengan terisak-isak. Kali ini dengan suara yang lebih keras, nyaris tersedu-sedu.
            Saya menatapnya, ia belum menjawab. Suara isakannya masih terdengar.
            “Kenapa, Nak?” ulang saya.
            Di sela-sela isakannya ia berkata lirih, “Saya tidak mau mengaji lagi!”
            Lho, kenapa?” tanya saya.
            “Temanku ada yang marahi Saya,” Affiq masih terisak-isak.
            Saya masih harus bertanya kepadanya, sepertinya ada hal yang serius. Atau mungkin ia yang terlalu sensitif. Kadang-kadang Affiq sangat sensitif, ia bisa sedih bahkan sakit hati jika dimarahi sedang ia tak merasa bersalah. “Memangnya kenapa Kamu dimarahi?” tanya saya lagi.
            Kali ini saya menariknya ke dalam kamar, mendatangi papanya. Rasanya lebih mudah menghadapi masalah jika kami berdua.
            Mengapa ia menangis hanya karena dimarahi temannya? Apa ia mungkin dipukul?
            Affiq masih terisak-isak, mulai lagi suaranya mengeras. Ia mencoba menjelaskan. Tetapi yang tedengar di telinga saya hanyalah gumaman. Saya melirik suami saya. Kami serempak berkata, “Bicara yang jelas. Berhenti menangis dulu. Bagaimana bisa didengarkan apa yang Kamu bilang kalau masih terus menangis seperti itu?”
            Affiq berusaha menguasai dirinya. “Temanku main lempar-lempar sapu, saya tanya Puang. Temanku marahi Saya,” jawab Affiq. Puang adalah panggilan masyarakat sekitar kepada pak Haryadi, guru mengaji sekaligus pemilik TPA Babul Jannah – tempat Affiq belajar mengaji.
            “Terus, apa Puang juga memarahi Affiq?” tanya saya lagi.
            “Tidak,” gelengnya.
            “Terus, apa lagi yang terjadi?” saya masih mengejarnya dengan pertanyaan.
            Saya memutar otak mencerna. Saya harus menanyakan lebih jelas maksud kata ‘tanya’ di sini. Kalau dalam dialek Bugis-Makassar, kata ‘tanya’ berarti ‘beritahu’. “Maksudnya, Affiq memberitahu Puang kalau ada teman Affiq yang melempar-lempar sapu?”
            “Iya,” angguk Affiq. Ia masih terisak-isak pelan. “Dia juga memukul Saya,” lanjut Affiq.
            Apa? Anak nakal itu memukul anak saya? Padahal anak saya berniat baik?” Otak saya mulai teracuni rasa kasih sayang. Kalau mendengar ada seorang anak berbuat buruk kepada anak saya, ingin sekali rasanya memukul anak itu. Saya melirik suami saya. Suami saya balik melirik saya.
            “Siapa nama temanmu itu?” saya mengejar detil kejadian ini.
            “Tidak tahu,” jawab Affiq.
            Lho, masak tidak tahu nama temannya?” tanya saya. Suami saya berkata, “Yang namanya teman itu harusnya ditahu namanya dong.”
            Gimana, Pa?” tanya saya. Suami saya hanya mengangkat bahu.
            “Memangnya, temanmu itu memukul pakai apa?” tanya saya lagi kepada Affiq.
            “Pakai sapu,” jawabnya.
            “Bagian apanya sapu yang dipukulkan ke Affiq, kayunya atau rambutnya?” saya mulai panik.
            “Kayunya,” jawab Affiq.
            “Terus, di mananya Affiq yang dipukul? Berapa kali?” kejar saya lagi.
            “Di dada, hanya satu kali,” jawabnya.
            “Hah .. anak model apa ini?” di benak saya mulai berseliweran ide-ide jahat. Selain kepingin memukul balik anak itu dengan sapu, saya memikirkan alternatif lain, melapor kepada pak Haryadi.
            Saya menarik napas panjang. Kembali saya lirik suami saya yang dari tadi membisu sementara saya mewawancarai anak kami. “Bagaimana seharusnya ia menghadapi hal ini, ya Pa?” tanya saya. “Tergantung .. kasusnya bagaimana,” jawab suami saya pendek.
            Terus terang, saya bingung menghadapi hal ini. Saya ini dulu anak rumahan, saya tak pernah bermain intens dengan anak lelaki apalagi yang suka memukul. Affiq pun anak rumahan, ia tidak terbiasa berpetualang di jalan-jalan sekitar rumah kami seperti teman-teman mengajinya yang rata-rata ‘BOLANG’ (BOcah petuaLANG) itu, kegiatannya sehari-hari hanya di dalam rumah atau pekarangan saja. Ia keluar hanya untuk ke sekolah dan mengaji.
Mendapat konflik seperti ini tentu mengagetkan baginya. Terkadang saya gegabah, ingin mengajarinya supaya membalas jika ada teman-temannya yang kasar. Tapi rasanya koq tidak baik ya, membalas pukulan dengan pukulan. Bagaimana nanti jika ia ketagihan jadi tukang pukul? Lagipula pada dasarnya ia tidak terbiasa dengan perkelahian fisik. Hingga saat ini ia belum pernah berkelahi secara fisik ala anak laki-laki.
Papanya dulu tergolong ‘BOLANG’, meski ia termasuk ‘anak bawang’ di lingkungan bermainnya, ia tak takut berkelahi dengan anak-anak yang lebih besar. Ia pernah beberapa kali adu jotos. Tak mungkin juga baginya mengajari sulung kami adu fisik. Lagipula dalam kasus ini Affiq punya kesalahan: ‘mengadu’. Tak ada orang yang suka diadukan kepada ‘yang berwenang’ meskipun ia nyata membuat kesalahan!
            Logika saya masih menuntut saya untuk berpikir lurus dan berperasaan tenang menghadapi masalah ini. Saya mengulangi lagi kronologisnya, “Jadi Affiq tadi memberitahu Puang, temanmu itu bermain lempar-lempar sapu, kemudian karena memberitahu kepada Puang, temanmu itu memarahi Affiq. Lalu setelah itu ia memukul Affiq.”
            “Begitu kan kejadiannya?” saya kembali memuntahkan pertanyaan kepada Affiq.
            “Iya,” jawab Affiq.
            “Jelas saja temanmu marah, Nak. Tidak ada orang yang suka diadukan meskipun ia melakukan kesalahan. Kalau Affiq berbuat nakal, kemudian adikmu Athifah mengadukan kepada Mama, pasti Affiq juga tidak senang, kan? Affiq juga marah sama Athifah, kan?” jelas saya.
            “Affiq pernah pukul Athifah karena mengadu,” imbuh suami saya.
            Affiq diam. Isakannya terhenti. Ia kelihatan menyimak penjelasan saya.
            Saya mengulangi lagi dengan lebih rinci penjelasan saya itu. Affiq terlihat menyimak dengan baik.
            Lalu saya menambahkan, “Affiq, kalau mengadukan kenakalan teman harus siap dengan resikonya, yaitu: teman itu marah kepada Affiq.”
            Suami saya berkata, “Harus juga siap dipukul.”
            Saya mengiyakan, “Iya, itu namanya resiko. Harus siap-siap dipukul teman kalau berani mengadu. Kalau dipukul harus siap menghindar. Ini tak ada hubungannya dengan mengaji, jangan berkata tidak mau mengaji lagi!”
            “Kalau tak siap dipukul, jangan mengadu,” kata suami saya.
            Saya mengiyakan, “Iya, harus siap dimarahi, harus siap dipukul. Kalau tidak siap, jangan berani-berani mengadu.”
            Affiq diam. Tak ada lagi suara isakan itu. Penjelasan saya dan papanya masuk akal baginya. Saya mengelus kepala dan punggungnya, lalu mencium dahinya. “Obati dadanya, ya,” kata saya. Ia mengangguk.
            Tak lama kemudian Affiq masuk ke kamar mandi. Dari dalam kamar mandi terdengar suaranya bernyanyi riang.
            Alhamdulillah satu masalah selesai.
           
Syukurlah, Affiq dipukul dengan sapu.

            Karena:
-          Ia bisa belajar mengatasi konflik yang timbul karenanya. Syukurlah anak saya tidak sekolah ala homeschooling. Sebelum ini sudah beberapa kali ia mendapat konflik dengan teman-temannya, di sekolah dan di TPA, bahkan ada yang lebih berat daripada ini. Dan masalah-masalah seperti ini akan menjadi pembelajaran baginya. Di setiap tahap perkembangan, manusia selalu akan menemui masalah dengan sekelilingnya. Di saat dewasa nanti, konflik yang timbul akan lebih  beragam dan lebih keras. Jika tak terbiasa mendapat konflik sejak kecil dengan teman sebayanya, bagaimana ia bisa mengatasi konfliknya nanti pada zamannya?
-          Saya dan suami saya pun belajar menjadi orangtua yang lebih baik dan juga belajar menjadi tim yang solid. Belajar untuk mencerna baik-baik dengan kepala dingin dan hati tenang masalah yang timbul sehingga bisa membantu Affiq memilah solusi atas masalahnya.
-          Ini adalah salah satu momentum besar yang sangat berharga bagi pembentukan ikatan batin antara saya, Affiq dan juga suami saya. Momentum yang ini hanya datang sekali sumur hidup pada jam, menit, dan detik yang itu saja. Syukur alhamdulillah, saya ada saat ia membutuhkan saya.

Makassar, 15 September 2011