Friday, February 25, 2011

Warna-Warni Perbedaan Suku

          Di negeri yang diberkahi dengan banyak suku ini, bicara tentang perbedaan suku adalah hal yang cukup tabu. Sering kali ada peringatan semisal ‘tulisan yang mengandung SARA (suku, agama, dan ras) dilarang keras’. Tapi begitulah realitanya. Seperti juga realita saya yang sejak kecil berada di lingkungan yang berbeda suku karena orangtua saya berasal dari suku yang berbeda. Bapak saya bersuku Bugis (nenek saya orang Soppeng, kakek saya orang Wajo) sementara ibu saya bersuku Gorontalo (kakek saya bermarga Usman – dari Suwawa, nenek saya bermarga Nento – dari kota Gorontalo). Saya lahir dan besar di Makassar sehingga bahasa Indonesia dialek Makassar sangat lekat dengan saya. Saya tidak begitu paham bahasa Bugis, tetapi – mudah-mudahan – saya tidak mudah ‘dijual’ dalam bahasa Bugis karena setelah menikah dengan suami yang bersuku Bugis (ibunya orang Sidrap campur Malimpung, bapaknya orang Tolotang), pemahaman saya akan bahasa ini bertambah (bahasa Bugis adalah ‘bahasa ibu’-nya suami saya). Sementara bahasa Gorontalo, saya cukup memahaminya secara pasif (mendengarkan pembicaraan orang) meski saya tidak menangkap detil pembicaraan tetapi saya mengerti garis besar pembicaraan tersebut. Jadi, sering kali saya ‘aman’ menguping pembicaraan ibu saya dengan seseorang dalam bahasa ini karena ibu saya yakin saya tidak mengerti bahasa ini .... he he he (padahal berulang kali saya katakan pada beliau saya mengerti bahasanya, tetapi mungkin karena saya sama sekali tidak berbicara secara aktif dalam bahasa Gorontalo, beliau tetap dengan keyakinannya bahwa saya tidak mengerti).
            Inilah uniknya Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke warganya berbahasa Indonesia tetapi dialeknya beragam. Telinga saya menikmati percakapan dalam bahasa Indonesia dialek Bugis Soppeng yang mengalun saat berada di tengah keluarga bapak di Soppeng, juga menikmati percakapan bahasa Indonesia dialek Gorontalo saat berada di tengah keluarga ibu. Kekayaan Indonesia pun bisa dinikmati oleh telinga saya.
            Di Gorontalo, rupanya bahasa Gorontalo bukan merupakan satu-satunya bahasa daerah. Di kampung kakek saya, ada bahasa Suwawa yang dipakai oleh warga daerah sana, selain bahasa Gorontalo. Dan uniknya, bahasa Suwawa berbeda dari bahasa Gorontalo. Begitu pula di kampung ibu mertua saya, di Malimpung yang letaknya di pedalaman kabupaten Pinrang, bahasa Malimpung dipakai di kampung itu sebagai bahasa daerah selain bahasa Bugis. Bahasa Malimpung pun berbeda dari bahasa Bugis.
            Masalah SARA memang peka. Di Papua sering terjadi pertikaian antara warga pribumi dan pendatang, di daerah lain pun sering ada peristiwa perkelahian yang dipicu oleh perbedaan suku. Jika sedang berada di komunitas yang mayoritasnya merupakan orang-orang yang berasal dari suku tertentu, sering ada perbincangan membandingkan suku mereka dengan suku lain dengan kesan  suku mereka lebih bagus. Ada ponakan saya, anak dari sepupu yang menikah dengan suku lain (bukan dari Sulawesi), mati-matian ditentang keras oleh saudaranya untuk menjalin hubungan dengan laki-laki yang berdarah Sulawesi. Katanya, karena orang Sulawesi kasar-kasar. Saya membantah, “Bukan kasar, mungkin lebih tepatnya, karakternya keras, nada berbicaranya keras/tegas”. Suami saya orang Sulawesi, lebih tepatnya lagi orang Bugis, walaupun power suaranya keras, ia tidak pernah sama sekali kasar pada saya. Bapak saya juga orang Bugis, tetapi suaranya pelan, orangnya kalem. Orang kasar ataupun halus, di mana-mana ada, tidak peduli sukunya apa. Akhirnya ponakan saya itu menikah dengan orang yang katanya berasal dari suku yang perangainya lemah lembut – menurut saudaranya, tapi nyatanya ia kerap mendapatkan KDRT. Pukulan dan tendanga akrab dengannya. Nah, bagaimana kalau begini?
            Bapak dan ibu saya kadang-kadang saling mengolok (sambil bercanda tentu saja) dialek daerah satu sama lain dalam berbahasa Indonesia. Misalnya ibu saya selalu saja protes dengan cara orang Bugis memakai kata ‘tanya’ untuk membahasakan ‘bertanya’ dan juga ‘bilang’ atau ‘mengatakan’ (jadi sinonim, satu kata memiliki banyak arti). Misalnya untuk membahasakan kalimat, “Nanti saya bilang padanya”, dibahasakan dengan: “Nanti saya tanya’ ki” (artinya: “Nanti saya tanya dia) dalam dialek Bugis. Kalau sudah begitu, bapak saya membalas dengan frase “Bajalan kamari kaki” yang kalau dipahami dalam bahasa Indonesia yang terbayang adalah kaki yang berjalan sendiri (tanpa anggota tubuh yang lain ... J ). Padahal maksud sebenarnya frase ini adalah “Berjalan kaki”. Pada kenyataannya, bagi telinga orang yang memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar, pasti terdapat keanehan dalam bahasa Indonesia dialek daerah (suku)  apapun. Tidak percaya? Coba deh diteliti ....
            Ada satu paradigma aneh yang berkembang di Gorontalo, yaitu bahwa orang Bugis itu ‘tukang kawin’. Saya sering mendengar ada orang-orang yang takut anggota keluarganya menikah dengan orang Bugis. Aneh menurut saya, karena di mana-mana ada tukang kawin, apapun sukunya. Tidak terkecuali di Gorontalo. Bapak saya dan saudara-saudaranya buktinya, juga sepupu-sepupu saya, hanya setia pada satu istri, forever and ever.
            Mungkin paradigma seperti itu muncul karena dalam satu lingkungan terjadi beberapa peristiwa yang mirip. Misalnya saja di tengah keluarga besar ibu mertua saya, orang-orang yang menikah dengan suku tertentu tidak mendapat penerimaan bagus karena istri/suaminya tidak bisa mengambil hati keluarga besar pasangannya. Hal itu menjadi parah karena menyangkut etika bahkan nilai moral. Misalnya saja ada yang mengunci ibu mertuanya di dapur saat ada tamu karena malu dengan ibu mertuanya yang orang kampung. Dan hal seperti itu terjadi bukan hanya pada satu orang, tetapi pada semua kerabat dari suku lain tersebut. Sehingga ada aturan tidak tertulis yang berlaku sewaktu kami belum menikah, yaitu suami saya tidak boleh memilih perempuan dari suku itu. Ini berlaku sebaliknya dalam keluarga bapak saya. Om, dan kakak-kakak sepupu yang menikah dengan pasangan mereka yang berasal dari suku tersebut sangat diterima dengan baik dalam keluarga besar bapak karena mereka menampilkan perilaku yang baik dan pandai mengambil hati keluarga kami.
            Sewaktu masih di Caltex dulu, saya dan suami termasuk suku minoritas di tengah-tengah lingkungan kami. Kami, pada waktu BJ. Habibie menjadi presiden RI, kerap mendengar ia dihujat rekan-rekan yang sukunya mayoritas. Sampai ada yang mengatakan kalau sukunya yang presiden pasti lebih baik (waktu itu sering kali kebijakan beliau mengundang pro dan kontra). Yah, apa hubungannya? Lagi pula kalau mau diusut-usut beliau bukan murni orang Sulawesi. Tapi sekali lagi apa hubungannya? Amat tidak rasional pernyataan seperti itu!
            Saat beberapa kali pengalaman saya berada di tengah-tengah suku mayoritas, saya sering mendengar perbincangan di antara orang-orang yang memiliki kesamaan ini bahwa suku mereka lebih baik dari suku lain. Saya hanya diam saja, malas menanggapi. Sesekali saya berkata bahwa hal yang mereka cela itu ada di mana-mana, tidak peduli sukunya apa. Orang baik dan orang jahat ‘kan ada di mana-mana?
Seperti peribahasa “Pars Pro Toto”, maksudnya sebagian untuk semua. Sebagian kecil orang dipakai untuk mencap satu suku. Bukan hal yang benar, kan? Dalam menilai orang, kita harus proporsional dan obyektif. Inner beauty tidak dipengaruhi oleh suku. Saya kira kita semua bisa sepakat.



Makassar, 25 Februari 2011

No comments:

Post a Comment