Wednesday, March 23, 2011

Membesarkan Sesosok Monster? Jangan Sampai!

             Pernah dengar kisah Malin Kundang? Saya kira iya. Siapa sih di negara ini yang tidak kenal Malin Kundang, tokoh legenda yang kerap dijadikan bahan untuk mendoktrin anak kecil perihal keharusan berbakti kepada orangtua, terkhusus ibu. Saya pernah melihat sebentuk patung manusia yang tengah bersujud di pantai Air Manis, Padang yang konon merupakan patungnya. Malin Kundang adalah sosok monster yang menjadi legenda. Bukan monster secara fisik, melainkan secara perilaku.
Benar, anak perlu diajar (atau diharuskan?) berbakti kepada kedua orangtuanya. Tetapi jika merenungkan kisah Malin Kundang terjadi, alih-alih mengatakan “Makanya, jadi anak jangan durhaka” kepada anak-anak, saya lebih cenderung mempertanyakan seberapa besar sebenarnya peran ibu dan juga ayahnya dalam pembentukan kepribadian Malin Kundang semasa kecil? Karena secara psikologis, peran ibu dan ayah amat sangat besar bagi kepribadian anaknya, entah itu melalui genetika mereka yang menurun ke anak, melalui hal-hal yang memang sengaja dicontohkan oleh mereka, melalui hal-hal yang tidak sengaja (secara spontan) dilakukan, bahkan melalui hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan.
Saya beberapa kali menyaksikan orang-orang yang sejak kecil selalu saja diikuti kemauannya, saat besar menjadi orang-orang yang berusaha mendapatkan segala keinginannya, dengan segala cara walaupun mengorbankan saudara kandungnya sendiri. Mereka berubah menjadi sesosok monster! Misalnya saja, ada suatu kejadian sepasang kekasih terpaksa batal menikah karena uang simpanan sang lelaki sebanyak dua puluhan juta rupiah ludes dilalap kakak kandungnya sendiri. Dan ada anak yang tega mengusir ibunya dari rumah padahal rumah itu milik ibunya. Bukankah ini perilaku monster?
Ada laki-laki yang tumbuh menjadi seorang bapak yang sangat kikir bahkan kepada anak dan istrinya, ada suami yang suka memukuli istrinya padahal ia seorang ustadz di pesantren, ada istri yang meninggalkan suaminya begitu saja kemudian memperoleh anak dari laki-laki lain, ada ibu yang dengan bangga menceritakan bahwa anak-anaknya bisa sekolah tinggi karena hasil korupsi kecil-kecilannya sewaktu kerja (kalau tidak demikian, tidak mungkin ia bisa menyekolahkan anak-anaknya, katanya). Bukankah mereka berubah menjadi monster?
Anak-anak bisa mengalami kesukaran emosional, karena perubahan tuntutan hidup dan perubahan sikap orangtuanya, di samping pertumbuhan diri pribadi mereka, yang kadang-kadang tidak dimengerti orangtuanya. Memang ada anak-anak yang bernasib baik, karena dilahirkan dalam keluarga yang hidup tenang, penuh penghargaan satu sama lain, dan mengenal betul sifat serta ciri-ciri pertumbuhan yang dilalui anak-anak. Tetapi banyak pula anak yang dilahirkan dalam keluarga yang penuh pertentangan, ketegangan, dan percekcokan antara kedua orangtuanya, serta tidak mengerti pertumbuhan yang dilalui anak-anaknya, tidak tahu tuntutan dan kebutuhan pokok anak, seperti kebutuhan akan rasa aman, ketenangan, dan kasih sayang. Maka anak-anak seperti itulah yang sering mengalami penderitaan emosi atau kelainan kelakuan[i]. Penderitaan emosi ataupun kelainan kelakuan  yang tidak tertangani sedini mungkin tentu saja akan berpengaruh terhadap kepribadian anak pada masa dewasa, dan tidak akan berubah tanpa yang bersangkutan menyadari dirinya tengah mengalami masalah emosional/perilaku.
Hal ini sangat saya sadari sehingga sering kali saya dan suami harus bersikap tegas terhadap buah hati kami meski ketegasan kami membuat mereka menangis dan menjerit-jerit dan hati kami ikut tersayat pilu  karenanya. Misalnya saja dalam hal pemenuhan keinginan mereka. Jika saat masih kecil saja kami tidak kuasa menolak semua keinginan mereka, bagaimana nanti di saat mereka beranjak remaja lalu dewasa? Saat dewasa nanti mereka tentu sangat menguasai trik-trik menaklukkan (bahkan menguasai) hati orangtuanya untuk mendapatkan keinginannya. Entah itu menginginkan barang atau pernikahan misalnya, banyak kasus di sekitar kita yang memperlihatkan betapa sang anak (yang sebenarnya sudah dewasa) tega berkeras orangtuanya harus menuruti keinginannya walaupun orangtua hingga saudaranya berutang sekali pun sementara ia sendiri tidak punya daya-upaya untuk mewujudkan keinginannnya! Kelemahan orangtua menolak dijadikan senjata oleh mereka. What a monster!
Saya pernah melihat seorang ibu membelikan bola ‘kesekian’ pada balitanya karena balitanya enggan melepas bola itu sesaat setelah tertangkap matanya di sebuah mal. “Padahal di rumah sudah ada 6 bolanya, tapi dia berkeras, ya bagaimana lagi”, kata ibu itu. Seketika saya membayangkan jika minggu depan ke mal dan melihat bola lalu anaknya merengek, dia pasti membelikannya, jika bulan depan, 6 bulan berikutnya, dan tahun-tahun berikutnya sang anak yang memang maniak main bola ini berperilaku seperti itu, apa sang ibu tetap akan membelikannya? Wow ... mereka bisa buka toko khusus menjual bola mainan!
Masih jelas dalam ingatan saya ketika suatu hari saya, suami, dan Affiq – sulung kami – yang sekarang berusia 9,5 tahun, berboncengan ke sebuah toko buku. Kala itu Affiq masih berusia 3 tahun. Begitu mata Affiq melihat mainan kayu, ia langsung menyukainya. Affiq minta dibelikan. Kami menolaknya karena mainan itu sudah terlalu mudah untuknya, tidak ada gunanya. Affiq berkeras menginginkannya, kami pun berkeras menolaknya. Lalu ia kami bujuk dengan buku cerita yang lebih sesuai baginya. Akhirnya ia mengangguk. Affiq pun memilih bukunya. Namun setelah membayar buku dan hendak keluar, kami melewati lemari tempat mainan kayu itu dipajang, minat Affiq terhadap benda itu muncul kembali, ia minta dibelikan. Walau sudah dijelaskan alasannya, dan sudah dibelikan buku, ia tetap ngotot ingin memiliki mainan tersebut. Kami tetap berkeras menolak keinginannya. Affiq mulai menangis, duduk di lantai toko buku. Segala bujukan tak mempan. Tangisnya makin keras, ia bahkan baring, menjerit-jerit. Saya dan papanya sepakat, kami harus segera ‘cabut’ dari situ. Suami saya menggotongnya, mendudukkan paksa di atas motor, saya memegang kuat-kuat badannya, dan kami pun berlalu dari halaman toko. ‘Lumayan’ juga rasanya, jadi pusat perhatian selama kira-kira 15 menit di sana.
Sudah pukul 12 siang kala itu. Matahari tengah terik-teriknya tepat di atas kepala. Affiq masih mengamuk. Saya memakaikan topi. Ia buka topinya, menolak. Karena ada keperluan, kami ke rumah teman yang jaraknya sekitar 6 km dari toko buku. Sepanjang jalan menuju ke sana, Affiq masih berontak. Sampai di tujuan, ia tidak mau masuk. Ia masih menangis, kali ini ia duduk di tengah jalan depan rumah teman kami, untung jalan itu seukuran gang dan tidak ramai. Segala bujuk-rayu kami, teman kami, sampai orangtuanya tidak mempan. Affiq tetap mengamuk. Setelah urusan selesai, kami pun berkendara sejauh  3 km menuju pulang, masih dengan Affiq yang menangis. Sampai di rumah, ia masih saja meraung. Sedikit air untuk membasahi tenggorokan ditolaknya, termasuk sebotol susu kesukaannya padahal sedari tadi ia belum minum. Seperti sebelumnya, segala bentuk bujukan tak mempan. Akhirnya saya mengeluarkan ‘jurus’ pamungkas. Saya mengambil air wudhu, mengambil al-Qur’an, duduk tenang di dekatnya, lalu membaca surah Yasin dengan tartil. Satu kali khatam surah Yasin, Affiq masih menangis keras. Saya ulangi lagi hingga khatam. Suara tangisnya mulai pelan. Ketiga kalinya, saya khatamkan lagi surah Yasin. Affiq diam, ia tidur. Tetapi hanya sebentar, 5 menit kemudian ia bangun dengan segar. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, dengan riang ia minta susu botolnya. Affiq memulai aktifitasnya dengan energi baru seolah habis di-charge padahal hampir 2 jam lamanya ia mengamuk!
Saat usianya 4 tahun, Affiq lebih ceriwis dan lebih komunikatif. Kalau dibawa ke mana-mana ia sering mengatur apa yang harus kami lakukan dan yang tidak boleh kami lakukan. Kalau ke toko ia sering mengatur apa yang ‘boleh’ dan ‘tidak boleh’ kami beli karena harganya yang “mahal”. Begitu pula kali itu, saat melihat susu bubuk putih kemasan 1 kg yang saya pilih, Affiq mulai bertingkah. Dengan super ngotot, ia berkata tidak menginginkan susu itu. Ia malah menunjuk merk susu lain, untuk usia 6 tahun ke atas sambil berkata bahwa susu pilihan saya “mahal” (padahal ia tidak mengerti harganya!). Dengan tenang, saya dan papanya berusaha membujuknya dengan berbagai penjelasan yang masuk akal. Di wajahnya muncul mimik keras, ia tetap berkeras tidak mau susu itu.
Akhirnya saya dan suami capek membujuknya. Kami berusaha bersabar, Affiq lalu kami tinggalkan di rak susu. Saya kemudian berjingkat-jingkat, bersembunyi pada jarak 5 meter darinya dan papanya menghilang sejauh 10 meter. Saya memperhatikan tindak-tanduknya, ia duduk diam-diam di rak paling bawah, tidak melakukan apa-apa. Sesekali matanya melihat-lihat berbagai macam merk susu di sekitarnya. Menit demi menit saya amati, ia belum juga mencari kami! Sekitar 10 menit kemudian ia mulai celingak-celinguk. Akhirnya ia berdiri dan berjalan, menyeberang menuju rak di depannya. Ia kemudian menelusuri muatan rak itu dengan tatapannya. Pelan-pelan saya mendekati rak itu. Lalu saya mengintipnya. Mendengar suara langkah kaki, ia menoleh dan melihat saya, kami berdua bertatapan dan seketika itu juga saling melempar senyum. Tidak lama suami saya mendekati kami. Kami bertiga saling menatap dengan senyum. Suami saya lalu mengajak Affiq mengitari sejenak sekitar situ sementara saya menunggu di troley. Affiq menurut dengan ikhlas. Selanjutnya kami bertiga menuju kasir. Suami saya berucap, “Affiq tadi mengetes Kita!”. Saya mengiyakan.
Beberapa minggu sebelumnya, di sebuah toko swalayan, Affiq ‘mengetes’ kami dengan kengototannya terhadap salah satu merk jelly yang berusaha kami hindari karena tidak mencantumkan label ‘HALAL’ pada kemasannya. Produk itu mengandung ‘EMULSIFIER’ tetapi tidak mendefinisikan dari mana emulsifier itu berasal. Kami ragu membelinya karena ternyata banyak produk menggunakan emulsifier yang berbahan dasar hewan yang diharamkan dalam Islam untuk dikonsumsi. Dan mungkin saja produk itu salah satu di antaranya. Segala bujuk rayu ditampik oleh Affiq, ia tetap berada di depan rak yang memajang produk itu dengan mimik ngotot sembari merengek. Hendak ditukar dengan apapun, ia menolak!
Akhirnya saya menyerah, kesabaran saya hampir habis. Saya mencoba menenangkan diri dengan melihat-lihat isi swalayan itu sambil berharap semoga suami saya berhasil membujuknya. Lima menit kemudian, suami saya dan Affiq menghampiri saya. Di bibir mereka berdua tersungging senyum tipis. Di dalam keranjang belanjaan di tangan suami saya terdapat sebungkus jelly berlabel ‘HALAL’ yang sedari tadi ditawarkan kepada Affiq tetapi ditampiknya. Dengan heran saya bertanya pada suami saya, bagaimana cara ia membujuk buah hati kami. Suami saya menjawab bahwa penjelasannya simpel saja, ia hanya mencoba menjelaskan bahwa sebagai muslim, kami harus memilih produk yang ada tanda ‘HALAL’-nya. Affiq yang sedang belajar mengeja lalu diajak oleh papanya untuk membaca tulisan ‘HALAL’ sekaligus mengenali huruf Arab-nya. Alhamdulillah, ia mau mengerti penjelasan papanya dan mau menerima merk lain sebagai pengganti.
Kemampuan mengendalikan diri erat kaitannya dengan kecerdasan emosional. IQ (kecerdasan intelektual) tinggi hanya menyumbang 20% pada kesuksesan kondisi masa depan, 80%-nya ditentukan oleh kecerdasan emosional.  Ada 5 wilayah utama kecerdasan emosional: mengenali emosi diri (orang yang memiliki kewaspadaan akan perasaan diri sendiri tidak mudah dikendalikan oleh emosinya sendiri), mengelola dan mengekspresikan emosi (orang yang memiliki kemampuan ini, lebih cepat menguasai perasaan-perasaan negatif yang timbul, dan bangkit kembali ke kehidupan emosi yang normal), memotivasi diri sendiri (orang yang memiliki kemampuan ini lebih tekun dan lebih gigih, sigap mencari solusi kehidupan, tidak mudah menyerah), mengenali emosi orang lain (penelitian pada 1011 anak yang memiliki kemampuan ini merupakan anak yang secara emosional paling mantap. Mereka tergolong paling populer di sekolah, lebih berhasil di sekolah meski IQ rata-rata mereka tidak lebih tinggi dari anak yang kurang mampu membaca pesan non verbal), dan membina hubungan (dalam situasi pergaulan sosial, orang yang memiliki kemampuan ini dikenal sebagai kawan yang menyenangkan, mereka membuat orang di sekitarnya merasa akrab dan aman). [ii]
Buku yang saya baca mengatakan bahwa untuk mewujudkan kecerdasan seperti itu pada anak, orangtua bisa mengajarkan dan mengembangkannya sesuai dengan perkembangan usia anak. Itu berarti, kita sebagai orangtua juga harus memiliki kecerdasan ini. Padahal pada kenyataannya, banyak orangtua yang tidak memiliki kecakapan mengenali emosi diri, dengan mudah rasa marah bisa mengendalikan dirinya sehingga bersikap tidak selayaknya orang dewasa. Boro-boro mengenali emosi orang lain, emosinya sendiri tidak bisa dikenalinya, apalagi dikelolanya? Pada akhirnya, bahkan anaknya sendiri pun merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Wah .. tidak mudah ya? Ehm ... saya pun pernah mengalami masalah dengan pengendalian emosi. Setelah membaca buku tentang ini, saya tercenung. Tidak mudah, tetapi sebenarnya tidak sulit. Saya harus mulai dari diri saya dulu, membenahi kecerdasan emosional saya sendiri.  Daripada kelak saya membesarkan sesosok monster? Naudzu billah min dzalik ....
Demikianlah, waktu terasa berlalu cepat. Banyak peristiwa terjadi di mana saya dan suami ‘saling berebut wilayah kekuasaan’ dengan Affiq. Ia mengetes apakah wilayah itu bisa ia geser. Dan kami harus konsisten dengan wilayah itu jika tidak mau di suatu ketika kelak ada ‘monster’ yang mencoba merebutnya. Di antara adik-adiknya, Affiq yang paling keras wataknya. Alhamdulillah, walaupun demikian, ia mulai mengerti bahwa walaupun kami sayang padanya, tidak semua keinginannya serta-merta diikuti. Ia harus belajar mengendalikan diri. Mudah-mudahan Allah meridhai.
Makassar, 21 Maret 2011



[i] DR. Zakiah Darajat, “Perawatan Jiwa Untuk Anak-Anak”, N.V. Bulan Bintang, 1982. Buku ini merupakan terjemahan dari disertasi beliau pada Fakultas Pendidikan, Universitas Ein Shams, Kairo pada tahun 1964 untuk mencapai gelar DOKTOR (Ph.D) dalam pendidikan dengan spesialisasi Psycho Therapy (Perawatan Jiwa).
[ii] Seri Ayahbunda, “Mengembangkan Kecerdasan Emosi”, Yayasan Aspirasi Pemuda, 1997.

No comments:

Post a Comment