Monday, March 28, 2011

"Ma, Suap!"

           "Ma, Suap!". Sulung saya, Affiq – yang sekarang berusia 9 tahun 8 bulan, masih suka mengucapkan kata-kata itu. Sering kali saya tolak dengan alasan dia sudah kelas 4 SD, koq masih disuap? Tetapi sesekali saya suap juga ia bersama kedua adiknya Athifah (4,5 tahun) dan Afyad (1,5 tahun). Merupakan kenikmatan tersendiri bagi saya jika menyuap ketiga buah hati ini, dan mereka makan dengan lahap. Kenikmatan karena masakan saya ternyata sangat dihargai oleh mereka dan kenikmatan bagi naluri keibuan saya.
            Suatu kali saya bertanya kepada sulung saya, “Kenapa sih Kamu suka sekali minta suap? Memangnya kalau Mama yang suap rasanya jadi lebih enak?”. Spontan ia mengangguk. Sekali lagi, satu kenikmatan bagi naluri keibuan saya membungkus hati saya.
            Saya ingat, dahulu pun saya senang sekali jika ibu saya menyuap saya, apalagi jika langsung dengan tangan beliau (tidak pakai sendok). Kenapa ? Ada dua alasan. Yang pertama, praktis saja, tidak repot (he...he), dan yang kedua, rasanya koq lebih nikmat ya disuap oleh ibu? Tidak sama rasanya jika saya yang menyuapkan sendiri ke mulut saya, padahal jenis makanannya sama. Begitu pun dalam hal masakan. Saya suka sekali telur dadar buatan ibu saya. Walaupun telur dadar yang saya buat tidak kalah enaknya (cie ... merasanya ..) dengan buatan beliau, tetapi bagi lidah saya, masakan beliau lebih enak dari masakan saya. Padahal bumbunya sama saja, bawang merah dan tomat yang ditumis! Kembali ke soal ‘suap-menyuap’. Mau tahu kapan terakhir kali saya disuap oleh ibu saya? Jawabannya adalah: sehari menjelang pernikahan saya. Saat itu usia saya 25 tahun. He .... he ... he.
Makassar 29 Maret 2011

No comments:

Post a Comment