Monday, October 24, 2011

'Istri Patuh Suami' dan 'Suami Sayang Istri'

      Menurut klub ini, menghibur dan membuat suami merasa nyaman dengannya merupakan kewajiban bagi setiap istri. Mereka juga menilai bahwa terabaikannya kewajiban itu menjadi salah satu penyebab utama mendasar atas munculnya sikap keras, tak betah di rumah atau bahkan penceraian suami atas istrinya.      Kabar terbaru yang datang dari Istri Patuh Klub ini yaitu kini klub itu kembali membuat heboh dengan menerbitkan buku panduan seks Islami. Dalam kata pengantarnya, buku tersebut menuliskan bahwa studi menunjukkan wanita hanya memberi suami mereka 10 % dari apa yang diinginkan pria dari tubuhnya. Karenanya, buku ini dimaksudkan untuk hadir sebagai panduan bagi para istri untuk memberikan ‘pelayanan’ terbaik bagi suaminya. Dalam buku ini juga dimuat satu bab khusus yang membahas bagaimana seks menjadi sebuah ibadah dalam Islam. Namun, buku saku setebal 115 halaman ini sontak menuai reaksi dari banyak Muslim, atau bahkan non-Muslim. Mereka yang Muslim biasanya bereaksi karena klub itu berserta buku yang diterbitkannya bukan merangkum ajaran Islam sebagaimana diklaim oleh klub itu. Adapun para non-Muslim menilainya sebagai suatu langkah yang bias inferioritas jender. Bahkan, Menanggapi buku ini, komunitas yang menamakan dirinya “We do not want sexist nonsense from Global Ikhwan Sdn Bhd” yang dikomandari oleh Matthew Ong angkat suara dengan menyebut Istri Patuh Klub hanya menjadikan wanita sebagai objek seksual. Sehingga, mereka meminta Menteri Wanita, Keluarga dan Pembangunan Komunitas, Datuk Seri Shahrizat Abdul Jalil, untuk melakukan intervensi. Menanggapi hal itu, Shahrizat Abdul Jalil, meminta para pejabat pemerintah untuk memantau klub itu, terutama untuk memastikan tidak akan membuat 'berantakan’ pikiran generasi muda Malaysia. Tapi Shahrizat mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa membatasi kegiatan klub, dengan dalih Malaysia adalah negara demokratis.[i]
Ini adalah cuplikan dari artikel yang saya dapatkan sewaktu browsing di internet. Menurut seorang kawan yang tinggal di Malaysia – negara asal klub ini, para pendahulu jamaah pengajian ini termasuk ahlul sunnah wal jamaah yang sekitar abad 18-19 masuk ke Malaysia dan sebagian besar berasal dari Indonesia keturunan Timur Tengah. Namun semenjak tahun 1980-2004 ajaran yang disampaikan mulai ada penyimbangan dan kultus individu hingga dibubarkan tahun 2004 oleh pemerintah Malaysia. Namun usaha yang dirintis tidak hanya dalam dakwah tapi juga ekonomi yang kini berkembang pesat sehingga banyak yang berubah nama dan bentuk salah satunya sepeti yang ditulis pada artikel di atas. Cara berdakwahnya tidak terbuka namun tetap mempersilahkan siapapun untuk bergabung. 
Saya tak hendak menelusuri asal-muasal ataupun sesat-tidaknya klub itu. Saya pribadi beranggapan, sah-sah saja jika ada sekelompok perempuan berstatus istri dalam sebuah klub yang mencari cara bagaimana membahagiakan suami mereka dalam hal seks. Alangkah bahagianya jika seandainya suami-suami mereka pun berlaku sama: membuat buku panduan bagi para suami untuk dapat membahagiakan istri-istri mereka dalam hubungan intim.
Karena sesungguhnya hubungan intim dalam sebuah rumahtangga adalah kebutuhan kedua belah pihak (suami dan istri). Istri memang berkewajiban memberikan ‘pelayanan’ tetapi ia berhak untuk dipenuhi kepuasan batinnya oleh suami. Oleh karena itu sudah seyogianya pula jika suami sebaiknya berkewajiban memenuhi hak suaminya. Seperti komunikasi verbal yang membutuhkan ‘kesadaran’ kedua belah pihak dalam berkomunikasi, demikian halnya dalam hubungan intim antara suami-istri.
Allah SWT dan nabi kita Muhammad SAW telah memberikan tuntunan dalam ayat al-Qur’an dan hadits-hadits sebagai berikut:
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 222: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah gangguan.’ Oleh karena itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita pada waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang  yang mensucikan diri.” Yang dimaksudkan gangguan di sini adalah keadaan yang membuat kesehatan mereka terganggu karena keluarnya darah kotor dari rahimnya
 “Jika seseorang di antara kamu bersenggama dengan istrinya, hendaklah ia lakukan dengan penuh kesungguhan. Kemudian kalau ia menyelesaikan kebutuhannya (puas) sebelum istrinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (penisnya) sampai istrinya menemukan kepuasannya.” (HR. Abdur Razaq dan Abu Ya’la, dari Anas)
Rasulullah saw bersabda: “Seseorang di antara kamu janganlah sekali-sekali menyenggama istri seperti seekor hewan bersenggama, tetapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan.” Lalu ada yang bertanya: “Apa gerangan perantaraan itu?” Sabdanya: “Yaitu ciuman dan ucapan (romantis).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda, “Barang siapa menyenggamai istrinya pada masa haid atau menyenggamai pada duburnya atau mendatangi dukun, lalu membenarkan ramalan-ramalan itu, maka berarti ia telah kufur kepada syari’at yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Dalam hal ini Rasulullah menyejajarkan kedurhakaan orang yang menyenggamai istrinya pada waktu haid dengan seseorang yang mempercayai ramalan dukun[ii].
Nah, kedudukan istri bukan hanya sekedar obyek kan? Istri pun berhak mendapatkan seperti yang didapatkan suami. Alangkah mulianya istri yang menyadari fungsinya dalam hal ini dan rela berbuat apa saja asalkan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Begitu pun suami yang menyadari kebutuhan istrinya dan memenuhinya, ‘mulia’ pula dirinya.
Makassar 24 Oktober 2011




[ii] Drs. Muhammad Thalib, “20 Perilaku Durhaka Suami Terhadap Istri”, Irsyad Baitus Salam, 1997 (cetakan ke-5)

No comments:

Post a Comment