Friday, May 13, 2011

Bercandanya Jelek!

Lelucon bisa membuat sepasang suami  istri bertengkar hebat. Ini pernah terjadi pada sepasang suami istri berusia di atas 45 tahun, kerabat saya. Hanya gara-gara sms lelucon dari kerabat yang lain kepada sang suami, seolah sms dari perempuan lain yang mempunyai hubungan khusus dengan sang suami, sang istri marah besar. Mereka bertengkar ‘hebat’ yang sebenarnya tidak perlu karena tidak pernah terjadi perselingkuhan yang dituduhkan itu.
Saya pernah jengkel dengan seorang bapak, sebut saja Mr. X, kawan suami saya. Sebelumnya saya sudah tahu sedikit karakternya. Sedikit, namun membuat saya mulai tidak sreg padanya. Pelan-pelan makin terbuka karakter-karakter lain yang makin membuat saya merasa tidak sreg padanya.
Mr. X pernah minta dibakarkan CD oleh suami saya (waktu itu belum zamannya DVD). Kala itu ia belum memiliki komputer. Dari puluhan CD yang dibakarkan, ada yang diberikan secara gratis, ada pula yang ia bayar dengan biaya minim. Suatu hari Mr. X mengutus Mrs. X (istrinya) ke rumah, untuk pesanan berikutnya. Kala itu tidak ada suami saya di rumah, jadi Mrs. X terpaksa berhadapan dengan saya. Ia mengutarakan keinginannya. Namun saya dibuatnya merasa tidak sreg sekali lagi. Bagi saya, apa yang dipintanya itu seperti memerintah. Sama sekali tidak terkandung kata-kata permintaan tolong dalam perkataannya, padahal ia meminta dibakarkan lebih dari 15 CD, dan jika suami saya sedang berhalangan menunggui proses pembakaran CD berlangsung, saya yang menggantikannya, menunggui hingga selesai. Padahal suami saya sama sekali tidak memiliki hubungan koordinasi atasan-bawahan dengan Mr. X. Suami saya bersedia membakarkan CD-CD itu baginya atas dasar keinginannya menolong kawan. Kontan saya menolak, dengan alasan saya sedang menggunakan komputer untuk suatu hal. Terlihat raut kecewa di wajah Mrs. X, ia berpamitan dan mengatakan akan mengatakannya kepada suaminya. Saat suami saya pulang, saya ceritakan kejadian itu beserta alasan saya menolak permintaannya.
Beberapa hari kemudian Mr. X bertemu dengan suami saya. Ia mengompori suami saya, “Mengapa Kamu mau diperintah oleh istrimu? Suami tidak selayaknya seperti itu. Istri yang harus menurut kepada suaminya”. Suami saya hanya menjawab, “Komputer itu memang milik istri saya”. Jawaban suami saya tidak sepenuhnya benar, tetapi tidak salah. Komputer itu bukan milik saya pribadi, tetapi milik kami berdua.
Berbulan-bulan kemudian. Saat saya dan suami berkunjung ke suatu tempat. Kami bertemu dengan Mr. X yang sedang duduk bersama sambil ngobrol dengan 3 orang lainnya. Ketika melihat kami, ia berujar, “Solihin siapa itu perempuan yang Kamu bonceng kemarin?”. Saya berpikir sejenak, saya sudah tahu tabiatnya, saya lalu tersenyum dan berkata, “Tidak ngaruh, Pak!”, maksudnya kata-katanya itu tidak berpengaruh membuat saya bertengkar dengan suami saya. Kemudian kami pun berlalu dari situ.
Suatu hari, saat saya dan suami saya sedang belanja bulanan di salah satu super market, tiba-tiba saja HP suami saya berdering dari nomor yang entah kepunyaan siapa. Saat diangkat oleh suami saya, terdengar suara laki-laki yang tak dikenal di ujung sana berkata, “Pak, mana istrinya?”, lalu klik, dengan semena-mena ia memutus hubungan. Kalau saya dan suami saya tidak betul-betul saling mengenal tentu sudah bertengkar hebat kami.
Sungguh aneh bagi saya, kenapa ada orang-orang yang menyia-nyiakan mulut dan pulsanya untuk hal-hal yang bisa berdampak sangat buruk bagi keutuhan rumah tangga orang lain? Yah, setan ada di mana-mana. Mereka tidak sadar sudah menjadi sekutu setan.  Seleketeb ... bercandanya jelek ! (tokoh ‘Makmur’ yang diperankan oleh Ery Owe)
Makassar, 14 Mei 2011

No comments:

Post a Comment