Sunday, May 29, 2011

Mengabsen Anak (???)



Dulu, jika ibu memanggil: “Uyi, Mirna, Niar”. Nah, itu berarti saya yang dipanggil. Jika perintahnya seperti ini: “Niar, Uyi, Mirna, ke sini!”. Itu berarti Mirna, adik yang usianya selang 1 tahun 3 bulan dari saya yang diinginkan oleh ibu untuk menghadap beliau. Jika urutannya, “Niar, Mirna, Uyi”, itu berarti adik saya yang bungsu yang dimaksud. Akhirnya sudah menjadi hal lumrah, jika ada tanda-tanda ibu akan menyuruh kami melakukan suatu pekerjaan, bukannya suka rela mendekat menawarkan bantuan, kami malah memasang kuping baik-baik, supaya bisa mendengarkan dengan baik nama siapa yang disebutkan terakhir. Jika bukan nama kami yang disebutkan terakhir, itu berarti aman ... (he he he).

Dulu hal itu terdengar aneh. Kenapa bisa ya, ibu ‘kan hanya perlu menyebut satu nama saja. Kenapa buang-buang energi mengabsen kami bertiga? Setelah menikah, saya pernah bercerita tentang hal ini dengan suami saya. Ternyata ia yang bersaudara tiga orang juga mengalami hal yang persis sama. Jika ibunya mengabsen .. eh .. memanggil nama mereka (Solihin, Suleha, atau Saleh), barang siapa yang namanya disebut terakhir maka dialah yang beruntung mendapatkan job description baru J.
Hal ini masih terasa aneh saat saya belum memiliki anak. Setelah Affiq lahir, mulai terjadi keanehan sehubungan dengan hal tersebut kepada saya. Affiq yang kala itu masih jadi anak tunggal, sering saya sapa dengan “Uyi”, nama adik laki-laki saya. Bukan hanya saya, suami saya juga mulai mengalami keanehan. Dia sering memanggil Affiq dengan “Saleh”, nama adik laki-lakinya! Aneh kan?
Begitu pun setelah Athifah, lalu Afyad lahir. Saya ketularan kebiasaan ibu saya mengabsen anak. Kadang-kadang, jika memanggil Athifah, saya menyebutkan, “Affiq, Afyad, Athifah”. Atau menyebutkan, “Athifah, Afyad, Affiq” saat memanggil Affiq. Aneh ya?
Sekarang, giliran Affiq yang terheran-heran, ia pernah protes karena saya melakukan hal itu.
Di masa yang akan datang, kira-kira hal ini akan terjadi pada anak-anak saya atau tidak ya?
Makassar, 25 Mei 2011

No comments:

Post a Comment