Monday, May 16, 2011

Lomba Dunia Maya: “Paranoidku di Dunia Maya”

Kala lulus kuliah tahun 1997, media komunikasi yang paling mungkin digunakan dalam berhubungan dengan teman-teman adalah internet. Saya bergabung ke dalam mailing list (milis) alumni jurusan dan alumni SMA agar mengetahui kabar teman-teman di seluruh Indonesia. Hal ini sangat menghibur terutama saat saya mengikuti suami bekerja di Riau. Begitu pun setelah kembali ke kota Makassar, saya masih kontak dengan teman-teman melalui milis.
            Awalnya lancar-lancar saja. Saya sering ke warnet untuk membuka inbox e-mail saya. Namun lama-kelamaan ada hal yang mengganggu, membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Ada seorang kawan lama (laki-laki) yang sering menghubungi saya via telepon rumah atau via sms, untuk sekedar menanyakan kabar dan nomor-nomor telepon kawan-kawan. Meski ia tak pernah akrab dengan saya, mulanya saya anggap hal itu wajar-wajar saja. Suami saya pun selalu saya beritahu tentang hal ini. Bahkan nomor HP yang dihubungi kawan ini adalah nomor HP suami saya. Saat itu memang saya merasa belum memerlukan HP sendiri, nomor HP suami saya ‘akui’ sebagai nomor saya juga.
            Lama-kelamaan koq rasanya tidak wajar. Dia terlalu sering menanyakan nomor HP kawan-kawan, mulai dari A, B, C, hingga H. Dan yang terasa aneh, kawan-kawan A hingga H ini adalah kawan-kawan yang sedang berinteraksi dengan saya di milis, anehnya lagi si kawan ini bukan anggota dari salah satu milis yang saya ikuti. Misalnya, suatu ketika saya bertemu di jalan dengan A, nah di milis saya cerita ke teman-teman yang lain bahwa saya baru saja bertemu dengan A di suatu tempat. Esoknya kawan ini menelepon menanyakan nomor telepon si A. Jika saya sedang bergurau dengan si B di milis, eh malam harinya ia menelepon menanyakan nomor telepon si B. Di hari lain, saya bercerita di miils bahwa saya telah menjenguk istri si C yang baru saja melahirkan, tak lama kemudian ia sms, minta nomor HP si C. Lalu saat saya sedang menawarkan mainan anak-anak kepada D, esoknya ia menelepon minta nomor telepon si D, begitu seterusnya sampai H. Aneh kan? Seperti orang yang sedang mencari-cari alasan untuk menghubungi saya. Apa hanya saya yang ada di kepalanya untuk ia hubungi menanyakan hal ini? Namun yang paling aneh adalah beberapa bulan setelah ia meminta nomor HP si G, saya mendapat informasi bahwa kawan saya ini ternyata satu kantor dengan G! Betapa tidak nyaman perasaan saya. Untuk apa ia meminta nomor HP teman sekantornya sendiri kepada saya? Bukankah ia bisa langsung minta kepada yang bersangkutan? Apa maksud orang ini?
            Saya kemudian berdiskusi dengan suami saya. Suami saya meminta saya untuk tidak aktif dulu di milis. Suami saya berkata, “Kalau Kamu mau menghubungi salah seorang teman di milis-milis itu, japri saja, jangan secara terbuka!”. Oya, saya pernah mengecek salah satu milis yang saya ikuti ini, keanggotaannya bersifat terbuka, artinya siapa pun bisa mengakses konten milis ini, walaupun bukan anggota. Nyata sekali kalau si kawan itu merupakan ‘penumpang’ gelap di milis. Suami saya juga mengganti nomor HP-nya untuk menghindarinya. Yang tidak mungkin diganti adalah nomor telepon rumah. Karena kami tinggal di rumah orangtua saya. Dan karena satu dan lain hal, saya tidak bisa terbuka mengenai hal ini kepada kedua orangtua saya. Sejak saat itu saya membatasi aktivitas di milis. Jika ke warnet saya hanya membaca-baca e-mail saja, sekedar mengetahui kabar teman-teman lama. Sejak itu pula, si kawan ini tak pernah lagi menelepon ke rumah untuk menanyakan nomor telepon.
            Saat Facebook booming, saya tidak tergerak untuk ikut menjadi fesbuker. Tanpa asisten rumah tangga, rutinitas saya padat dengan ketiga anak saya dan pekerjaan rumah tangga. Selain itu, saya masih paranoid dengan kawan ini. Milis pun sudah sangat jarang saya tengok.
            Tiba-tiba suatu hari, di tahun 2010. Suami saya yang sedang ke warnet dan sekalian saya minta untuk mengecek inbox e-mail saya menelepon, “Niar, akun e-mailmu dimasuki orang. Ada orang yang menghubungkan akun fesbuknya dengan akun e-mailmu!”. Ada tanda-tanda, seseorang pernah masuk ke dalam alamat e-mail saya. Pemilik akun FB yang tega ini memiliki nama depan yang sama dengan 5 huruf awal nama saya (Mugni) dan ia berjenis kelamin laki-laki. Aduh, apa pula ini. Saat itu suami saya langsung mereset password e-mail saya.
            Perasaan paranoid saya membesar. Bisa-bisanya ada orang setega itu. Alamat e-mail kan sangat pribadi. Alamat e-mail ini sudah saya gunakan sejak tahun 1998. Kenapa bisa ia menerobos masuk? Harusnya kan ia mengecek dulu apakah alamat e-mail yang ingin ia gunakan di FB-nya sudah ada yang punya atau belum. Kalau ia orang baik, sudah seharusnya ia melakukan hal itu. Apakah dia bukan orang baik? Atau ia orang yang sangat gaptek atau sangat naif, sehingga tidak mengecek alamat e-mail itu? Betapa banyak tempat membuat alamat e-mail gratisan di dunia maya. Mengapa ia tidak menggunakan yang lainnya saja?
            Saya mendapatkan data teman-teman FB si Mugni. Jumlahnya tidak banyak, tidak sampai 50. Tetapi latar belakangnya sangat beragam sehingga sulit disimpulkan latar belakang Mugni yang sebenarnya. Mugni menggunakan foto profil bayi, mengaku lahir tahun 1980-an. Tiga orang teman Mugni juga merupakan teman-teman saya. Dua orang teman kuliah saya. Yang satu lagi sahabat saya semasa SMP. Berharap memperoleh informasi, saya menanyakan tentang si Mugni ini kepada sahabat SMP saya dan kepada salah seorang teman kuliah yang menjadi teman Mugni di FB. Teman yang seorang lagi tidak saya tanyai karena saya tidak memiliki alamat e-mailnya. Tetapi saya tidak mendapatkan apa-apa karena kedua teman saya ini sama sekali tidak mengenal siapa Mugni. Jangan-jangan ... ia fiktif? Entahlah. Yang jelas sejak itu, hingga saat ini saya beberapa kali perang reset-mereset password dengannya. Beberapa hari yang lalu ia masih berusaha menguasai akun e-mail saya. Ia bahkan pernah berupaya menghapus alamat e-mail saya dan menimpanya dengan alamat e-mail lain supaya ia bisa mengambil isi inbox saya. Betapa menyebalkannya! Ia berupaya menggusur saya dari salah satu kediaman saya di dunia maya. Dan ini tidak akan saya biarkan karena akun e-mail ini sudah sangat lama saya miliki. Akun ini sudah menjadi bagian dari identitas saya di dunia maya.
            Anehnya, dahulu akun FB orang ini terbuka bagi semua orang, akhir-akhir ini tidak lagi, ia mengubah seting privasinya menjadi ‘hanya teman’. Yang lebih aneh lagi, jika mencari akun FB orang ini melalui akun FB suami saya, tidak ketemu akunnya. Tetapi jika saya mencarinya melalui akun-akun lain, saya berhasil  mendapatkan akunnya. Apakah ini indikasi bahwa ia sengaja, memblokir nama suami saya di akun FB-nya? Apa maksudnya?
            Alamat e-mail yang hendak diserobot orang itu tetap saya pakai. Saya menambah milis-milis yang saya minati. Suatu hari, saat sedang membaca-baca e-mail, tiba-tiba seseorang mengajak saya chatting. Seseorang ini tidak ada di dalam daftar buku telepon saya. Siapa dia ya? Mungkin salah seorang teman SMA atau teman kuliah, saya berprasangka baik. Saya meladeninya. Ia menyapa, “Assalamu ‘alaikum”. Saya menjawab, “Wa ‘alaikum salam”, kelihatannya ia tahu identitas saya. Siapa ya orang ini? Ia menanyakan kabar saya, suami, dan anak-anak, seolah ia mengenal saya. Saya hanya menjawab sekedarnya tidak detil, dan saya menanyakan jati dirinya. Ia tidak mau menyebutkan namanya, saya memutuskan offline. Esoknya, saya melanjutkan membaca-baca e-mail. Ia kembali mengajak chatting, saya mengajukan syarat akan meladeninya jika ia menyebutkan jati dirinya. Ia mengatakan, “Tetapi kalau Saya menyebutkan nama, jangan offline yah?”. Saya menjawab, “Tergantung...”. Ia pun menyebutkan nama yang tidak saya kenal. Saya mengatakan, ia salah orang. Ia kemudian menyebutkan ciri-ciri seseorang yang – katanya – ia kira saya. Salah. Itu bukan ciri-ciri saya. Ia minta maaf, katanya ID saya ini adalah ID dari orang yang ia sebutkan tadi. Saya langsung memutuskan offline. Bukan teman ternyata. Dada saya berdebar-debar keras. Apakah orang itu adalah orang yang selama ini berseteru dengan saya di dunia maya? Akun e-mail saya ini sudah saya pakai sejak tiga belas tahun yang lalu. Mengapa ia mengatakan bahwa ia mengira akun milik orang lain? Apa mungkin ia salah orang? Sejak saat itu, saya mengeset “offline” jika sedang masuk ke inbox saya.
Di tengah perang reset-mereset password dengan seseorang dari dunia maya ini, saya memutuskan untuk membuat akun FB. Kebetulan awal tahun ini kami memiliki akses internet sendiri. Saya ingin memanfaatkan hal ini. Saya ingin sekali kembali bersilaturahmi dengan kawan-kawan lama saya. Melalui milis, sekarang ini tidak ada berita apa-apa, kawan-kawan saya aktifnya di FB. Setelah berdiskusi dengan suami, saya pun membuat akun FB dengan tidak menggunakan asli. Awalnya saya yang masih paranoid, masih sering ragu, bagaimana jika ada yang mengganggu saya? Suami saya berkata, “Sebenarnya siapa yang seharusnya dipenjara?” ..... Iya ya, siapa yang seharusnya dipenjara? Saya atau dia? Halah, saya tak mau memenjarakan diri saya hanya gara-gara dia. Saya pun mantap menggunakan akun FB saya. Setelah mengutak-atik seting privasi, saya pun ‘berkelana’ di dunia maya melalui FB. Wah ... ternyata banyak hal menarik yang bisa saya peroleh melalui FB, selain silaturahmi dengan kawan-kawan, saya bisa mengikuti event-event menulis yang bertebaran di FB, dan membaca berita-berita up to date, serta menambah pengetahuan agama saya.
             Selain membuka akun FB, sekarang saya aktif mengisi blog pribadi saya di mugniarm.blogspot.com yang sempat terbengkalai selama 5 tahun. Saya juga mendaftarkan blog saya pada sebuah jaringan blogger. Saya juga berdiskusi dengan suami dan memutuskan untuk menambah teman lebih banyak  lagi. Setelah berpikir panjang, saya memutuskan tidak mau terpenjara oleh sesuatu yang disebut ‘paranoid’. Saya tidak bisa melakukan apa-apa jika terus-terusan paranoid padahal berkelana di dunia maya dan menulis blog merupakan hal yang mengasyikkan bagi saya. Seharusnya saya bisa melakukan banyak hal. Saya akan bersikap lebih hati-hati saja. Ya ... saya akan lebih bersikap hati hati, karena sebenarnya banyak hal positif yang bisa saya lakukan dan dapatkan melalui dunia maya. Sahabat-sahabat saya yang mengetahui cerita saya ini juga memotivasi saya. Daripada menutup diri hanya karena satu atau dua orang, mudah-mudahan dengan demikian saya bisa mendapatkan dan membagikan banyak hal baik kepada banyak orang.

Makassar, 15 Mei 2011

Buat seseorang di luar sana, yang barangkali saja suatu saat Anda membaca tulisan saya ini:

Sekarang, bagi saya pengalaman paranoid itu menjadi salah satu warna dalam catatan perjalanan saya di dunia ini. Saya (harus) memaafkan Anda atas ketidaknyamanan yang Anda buat pada saya agar Allah - Tuhanku (Tuhan Anda jugakah?) sudi memandang saya dengan kemahakasihsayang-Nya di yaumil akhir kelak. Kini, saya bisa menganggap tidak ada apa-apa antara saya dan Anda. Mudah-mudahan Allah sudi memaafkan Anda. Silakan langsung menuju kepada-Nya.

No comments:

Post a Comment