Tuesday, July 12, 2011

10 Perilaku Durhaka Istri Terhadap Suami

Sumber gambar:
www.clipartguide.com
Perkenankan saya refresh satu topik ini: perilaku apa saja yang menyebabkan istri durhaka kepada suaminya. Berdasarkan tulisan Drs. M. Thalib, berikut ini 10 perilaku durhaka istri terhadap suami:
      
      1. Mengabaikan wewenang suami.
Dalam suatu hadits disebutkan:
Dari ‘Aisyah ra, sesungguhnya nabi saw. bersabda: “Sekiranya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya. Sekiranya seorang suami menyuruh istrinya memindahkan bukit merah ke bukit putih dan dari bukit putih ke bukit merah, tentu kewajibannya adalah melaksanakan (perintahnya) itu.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Sepanjang tidak melanggar perintah agama, istri harus menuruti suaminya.


2.  Menentang perintah suami.
Dalam suatu hadits disebutkan:
Dari Abdullah bin Abu Aufa, ia berkata: Tatkala Mu’adz tiba dari Syam, sujudlah ia kepada Nabi saw., lalu beliau bertanya, “Apakah ini, hai Mu’adz?” Mu’adz menjawab, “Aku telah datang ke Syam, kemudian kujumpai mereka bersujud kepada uskup-uskup dan panglima-panglima mereka. Lalu aku ragu-ragu untuk berbuat seperti itu terhadap engkau.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah engkau lakukan itu karena sesungguhnya seandainya aku (boleh) menyuruh seseorang sujud kepada selain Allah, tentu aku akan suruh perempuan sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang diri Muhammad dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang perempuan menunaikan hak Tuhannya, sehingga ia menunaikan hak suaminya; dan seandainya suaminya menghendaki dirinya, sedang ia di atas kendaraan, maka tidak boleh ia menolaknya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Jika hak suami untuk ditaati istrinya yang sesuai dengan ketentuan Allah dilanggar oleh istrinya, ini berarti sama dengan istri melanggar perintah Allah sendiri.

3.       3. Enggan memenuhi kebutuhan seksual suami.
Dalam suatu hadits disebutkan:
Dari Abu Hurairah ra, ujarnya: Rasulullah saw bersabda: “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya tetapi ia menolak untuk datang, lalu suaminya tidur semalam dalam keadaan marah kepadanya, maka wanita  itu dilaknat oleh malaikat sampai subuh.” (Bukhari dan Muslim)
Melayani kebutuhan biologis suami adalah kewajiban pokok istri. Menolak melakukannya berarti membuka pintu laknat. Laknat malaikat, berarti laknat Allah juga.

4.       4. Tidak mau menemani suami tidur.
Disebutkan dalam hadits berikut:
“ ... Bila seorang istri semalaman tidur berpisah dari ranjang suaminya, maka malaikat melaknatnya sampai subuh.” (HR. Bukhari)
Juga dalam hadits berikut:
Dari Ibn ‘Abbas, dari Nabi saw., sabdanya: “Tiga golongan yang shalatnya tidak akan melebihi sejengkal di atas kepalanya, yaitu seorang laki-laki yang mengimami shalat suatu kaum, tetapi kaum itu sendiri tidak senang kepadanya, seorang wanita yang semalaman tidur sendirian, sedang suaminya marah kepadanya, dan dua orang yang saling bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dan lafadz hadits ini ada pada Ibnu Hibban)
Istri diperlukan oleh suaminya, antara lain untuk menjadi teman tidurnya baik suaminya memintanya untuk bersebadan atau tidak. Umumnya menemani tidur adalah pada malam hari.  Di dalam hadits tersebut Rasulullah menggunakan kata-kata dalam bahasa Arab dengan lafadz baatat, artinya tidur pada malam hari.

5.       5. Memberatkan beban belanja suami.
QS. Qth-Thalaq (65) ayat 7 :
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”
Istri harus obyektif melihat kemampuan suaminya.

6.       6. Tidak mau bersolek untuk suaminya.
Dari Jabir, ujarnya: Kami pernah menyertai Nabi saw dalam suatu peperangan, kemudian tatkala kami pulang kembali ke Madinah, kami meninggalkan tempat tersebut untuk pulang ke rumah, tetapi beliau kemudian bersabda: “Tangguhkanlah sampai masuk malam, yaitu waktu Isya’, supaya (istri-istri) menyisisr rambutnya yang kusut dan (istri) yang lama ditinggal bisa mempercantik diri.” (HR. Bukhari)
Para istri diperintahkan untuk berkhidmat kepada suaminya, termasuk di dalam mengurus dirinya sendiri sehingga dapat menyenangkan hati suaminya dan menimbulkan gairah dalam hidup bersama dirinya.

7.       7. Merusak kehidupan agama suami.
Dalam suatu hadits disebutkan:
Dari Tsauban ra., ujarnya: “Ketika turun (firman Allah surat Taubah ayat 34), yaitu ... dan orang-orang yang menimbun emas dan perak ...,” ujarnya: “Kami pernah menyertai  Rasulullah saw dalam beberapa kali perjalanannya, lalu sebagian sahabatnya  berkata, ‘Telah diturunkan ayat tentang emas dan perak, maka alangkah baiknya sekiranya kamu tahu harta apakah yang lebih baik lagi, tentu kamu akan mengambilnya.’ Lalu sabdanya: ‘Yang lebih baik ialah lidah yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri beriman yang membantu suami dalam agamanya.’” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadits hasan)
Dalam rumah tangga, istri diperintahkan untuk membantu suaminya dalam menegakkan kehidupan beragama, sedangkan suami diperintahkan untuk membimbing istri menjalankan agamanya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Jika istri tidak mau membantu suami menegakkan agamanya, apalagi merusak iman dan akhlak suami, sudah tentu ia menjerumuskan suaminya ke dalam neraka.

8.       8. Mengesampingkan kepentingan suami.
Dalam suatu hadits disebutkan:
Dari ‘Aisyah ra., ujarnya: Saya bertanya kepada Rasulullahsaw., “Siapakah orang yang mempunyai hak yang paling besar terhadap seorang wanita?” Sabdanya: “Suaminya.” Saya bertanya, “Siapakah orang yang paling besar haknya kepada seorang lelaki?” Jawabnya: “Ibunya.” (HR. Bazaar dan Hakim, hadits hasan)
Jelaslah dari hadits ini bahwa kepentingan suami harus lebih didahulukan oleh seorang wanita daripada kepentingan ibunya sendiri.

9.       9. Keluar rumah tanpa izin suami.
Dalam sebuah hadits:
Dari Ibnu ‘Abbas ra, sesungguhnya seorang wanita dari suku Khats’an datang kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sampaikanlah kepadaku keterangan, apa hak suami terhadap istrinya, karena aku seorang wanita janda. Jika aku sanggup, aku akan kawin lagi; jika tidak aku akan tetap menjanda.” Sabdanya, “Sesungguhnya hak suami kepada istrinya yaitu jika suami menghendaki dirinya sekalipun dirinya berada di atas kendaraan, ia tidak mencegah dirinya untuk datang; dan hak suami atas istrinya yaitu, istrinya tidak boleh puasa sunnah tanpa izin suaminya; jika ia terus melakukannya, ia hanya mendapatkan lapar dan haus dan tidak diterima puasa yang dilakukannya itu; dan tidak boleh keluar dari rumah tanpa izinnya; jika ia terus keluar maka malaikat langit dan malaikat rahmat serta malaikat adzab akan mengutuknya sampai ia pulang.” Ujarnya, “Tidak mengapa, tetapi saya tidak akan kawin lagi selamanya.” (HR. Tirmidzi)

10.   10. Melarikan diri dari rumah suami.
Dalam suatu hadits disebutkan:
Rasulullah saw bersabda, “Dua golongan yang shalatnya tidak bermanfaat bagi dirinya, yaitu hamba yang melarikan diri dari rumah tuannya sampai ia pulang; dan istri yang melarikan diri dari rumah suaminya sampai ia kembali.” (HR. Hakim, dari Ibnu Umar)
Rumah tangga merupakan tempat yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja oleh istri tanpa terlebih dulu mendapat izin dan kerelaan suaminya.[i]


[i] Drs. Muhammad Thalib, “20 Perilaku Durhaka Istri Terhadap Suami”, Irsyad Baitus Salam, 1997 (cetakan ke-5)

No comments:

Post a Comment