Wednesday, June 8, 2011

Anak-Anak Dilarang Berpakaian Minim!

            Inggris melarang penjualan baju anak-anak yang modelnya ‘minim’, katanya untuk mencegah kejahatan seksual pada anak-anak. Ini salah satu berita di TV, bukan kata saya.
            Logikanya begini, berarti anak-anak berpakaian minim bisa menimbulkan kejahatan seksual. Kejahatan seksual timbul dari (maaf) nafsu syahwat yang tidak terkendali. Begitu kan? Nah, kalau anak-anak berpakaian minim saja bisa menimbulkan kejahatan seksual, apalagi perempuan dewasa yang berpakaian minim?
            Eh, Italia melarang warganya berpakaian minim lho. Sekali lagi, itu bukan kata saya. Coba cari di mesin pencari, di Google misalnya. Pasti anda akan menemukannya.
            Lantas, bagaimana dengan orang Indonesia yang katanya masih kental dengan adat ketimuran yang sangat menjunjung tinggi norma kesopanan ini? Mau kalah dengan orang-orang Inggris yang mulai ‘dipaksa’ oleh keadaan untuk tidak mengenakan pakaian minim bagi gadis-gadis kecilnya? Makin maju zaman, orang Indonesia justru makin kebarat-baratan. Tengok saja tayangan-tayangan audisi pencarian bakat di berbagai stasiun televisi. Banyak tuh yang ibu-ibunya rapat menutup aurat, mengantar gadis-gadis mereka yang mengumbar paha dan dada. Jangankan di TV, di mal pun demikian. Bagi banyak orang Indonesia, tidak mengapa gadis-gadis mereka mengikuti mode yang sedang in, terlebih lagi gadis-gadis mungil (balita – usia SD), sangatlah wajar berpakaian minim. Untuk mencari pakaian anak-anak perempuan saja (bahkan yang usia bayi, batita, hingga balita) sering kali kita harus mengobok-obok barang dagangan di pasar/mal karena untuk anak-anak kecil saja sulitnya minta ampun mencari pakaian yang tertutup, yang wajar-wajar saja. Yang melimpah justru model pakaian minim, yang blus setali/tank top dan rok/celana pendek.
            Sering kali dalih yang dikemukakan orang-orang yang pro dengan pakaian minim adalah bahwa itu adalah hak asasi setiap orang untuk menentukan pilihannya. Namun sayang, ada hak orang lain yang bersinggungan dengan itu.
            Adalah naluri yang lumrah bagi kebanyakan laki-laki, jika melihat (sekali lagi maaf) perempuan yang berpakaian minim, terpancinglah nafsu syahwatnya. Hayo para lelaki ... ngaku deh ... atau malu ngaku? Tidak apa-apa, syukurlah kalau rasa malu masih ada dalam diri kita. Kecuali bagi orang-orang yang imannya kuat, mereka bisa meredamnya, mengalihkannya ke hal-hal lain yang positif. Tetapi orang yang imannya kuat tidak banyak. Hanya sedikit. Kalau banyak pasti kasus-kasus kejahatan seksual sedikit sekali atau malah tidak ada. Yang dilupakan oleh orang-orang pro berpakaian minim adalah, hak asasinya itu menimbulkan hak asasi ‘syahwat’ laki-laki yang otomatis naik demi melihat mereka. Belum lagi dampak globalisasi sekarang ini yang menyebabkan gambar/video porno menjadi sangat mudah diakses siapa saja, maka makin naiklah nafsu syahwat lelaki yang imannya buram. Lantas jika karena ada ‘api’ maka ada ‘asap’, setelah itu terjadi kejahatan seksual misalnya diremas, atau bahkan diperkosa, bagaimana? Biasanya mereka tidak mau disalahkan. Itu ‘kan ibarat memajang barang berharga kita yang berharga jutaan rupiah di depan rumah tanpa penjagaan, dan jika barang berharga itu dicuri orang, siapa yang salah? Kan salah kita juga karena lalai menjaganya ...
            Menurut Prof. Wimpie Pangkahila, guru besar Kedokteran Universitas Udayana, Bali : Dorongan seksual, dipengaruhi oleh 5 faktor. Pertama, hormon seks. Kedua, keadaan kesehatan tubuh. Ketiga, faktor psikis. Keempat, pengalaman seksual sebelumnya. Kelima, rangsangan seksual dari luar. Rangsangan seksual dari luar dapat berupa rangsangan yang bersifat fisik ataupun psikis. Rangsangan fisik, misalnya, ciuman dan rabaan, sedangkan rangsangan psikis, antara lain, khayalan dan pornografi[i].
            Banyak laki-laki suka melihat gambar/tayangan pornografi, termasuk perempuan sungguhan yang berpakaian minim. Mengapa? Para ahli mengatakan, bagaimana gairah yang timbul setelah melihat materi pornografi berkaitan dengan banyak bagian di otak. Salah satu teori menyebutkan, saraf mirror berperan penting dalam timbulnya gairah pada pria. Sel otak ini akan bereaksi tidak hanya saat sebuah tindakan dilakukan, tetapi juga saat kita hanya mengamati. Itu sebabnya, memandangi gambar porno bisa menimbulkan gairah seperti halnya jika ada obyek sungguhan di depan mata. Teori lain mengatakan, secara alamiah otak pria sangat mudah terangsang sehingga pria siap melakukan hubungan seks setiap saat. Karena itu, saat melihat materi pornografi, saraf mirror di otak akan menangkapnya sebagai hal yang nyata. Para ahli juga menyatakan bahwa pornografi bisa menimbulkan efek kecanduan yang prosesnya sama dengan kecanduan kokain dan zat adiktif lainnya. Kecanduan mengakibatkan otak bagian tengah depan mengecil. Penyusutan sel otak yang memproduksi dopamine, zat kimia pemicu rasa senang, itu mengacaukan neurotransmitter atau pengirim pesan[ii].
Eits, jangan berdalih pemakai pakaian minim tidak melakukan pornografi, mengapa saya mengaitkannya dengan hal ini. Mungkin kalian hanya sekedar menampilkan sedikit lekuk tubuh, sedikit belahan dada, atau sedikit paha tetapi jumlah kalian cukup banyak, di kendaraan umum, di jalan-jalan, di pasar, di mal, di mana-mana, kemudian dengan otak manusia (lelaki, khususnya) yang kreatif ditambah hembusan pengaruh setan yang berada di mana-mana dapat menwujudkannya menjadi kejahatan seksual! Sekali lagi, tidak semua lelaki begitu, lelaki yang kuat imannya tidak mudah tergoda (kalaupun tergoda, mereka dengan cepat bisa menguasai diri) tetapi yang tidak beriman jauh lebih banyak jumlahnya dari mereka.
            Sekarang, anda bisa berpikir. Sejak SD, kita diajarkan bahwa batasan hak kita adalah hak orang lain. Jika hak orang lain terzalimi karena kita semena-mena menjalankan hak kita, maka zalimlah kita. Dalam hal ini, malah yang ada kita saling menzalimi satu sama lain hanya dengan dalih hak asasi berpakaian. Please, saudari-saudariku seIndonesia, bantulah dirimu, kaummu dan lawan jenismu dengan menjaga dirimu, menjaga pakaianmu.
Makassar, 9 Juni 2011
          


[ii] Sumber: http://health.kompas.com/read/2010/01/04/13295487/Mengapa.Pria.Hobi.Melihat.Situs.Porno


No comments:

Post a Comment