Monday, June 13, 2011

Cerianya Kelompok Bermain Babul Jannah

Kelompok bermain Babul Jannah yang dulu beraktivitas hanya sekali dalam seminggu, kini 4 kali dalam seminggu. Digawangi oleh pak Haryadi Tuwo, sekolah informal ini tetap berjalan meski ia sendiri yang mengajar anak-anak sepeninggal istri tercinta beliau. Sesekali Odha – putri beliau, turut mengajar anak-anak berusia di bawah 5 tahun ini. Anak-anak yang bertempat tinggal di sekitar Jl. Rappocini Raya lr. 3D ini masih bersemangat mengikuti kegiatan di kelompok bermain mereka. Sama bersemangatnya dengan orangtua mereka yang memperoleh pendidikan gratis buah kerja keras pak Haryadi. Anak-anak murid kelompok bermain ini hanya dibiasakan berderma semampunya setiap kali belajar, setiap anak menyumbang sekitar Rp.1.000 – Rp. 5.000. Hasil celengan mereka dipakai lagi untuk membiayai pendidikan mereka. Sesekali ada donatur yang berkenan menyumbang untuk kelompok bermain ini. Dana yang terkumpul dipakai untuk membeli kebutuhan anak-anak ini. Di antaranya berupa DVD player yang setiap pagi diputar untuk  menghibur anak-anak sembari menunggu pelajaran dimulai. Ada juga luncur-luncuran yang kini berdiri tegak di halaman rumah pak Haryadi yang sekaligus tempat belajar ini. Pak Haryadi sendiri bisa dibilang tidak dibayar untuk aktivitas yang ia pelopori ini karena untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar, beliau ikhlas merogoh kocek sendiri. Ada yang berminat menyumbang ?
Pak Haryadi senantiasa mencari cara-cara untuk pendidikan anak-anak asuhnya. Untuk TPA yang beranggotakan lebih dari 100 orang anak yang rata-rata usia SD, beliau berencana menyediakan buku-buku cerita agar minta baca anak-anak meningkat. Untuk itu telah terkumpul sekardus kecil buku-buku cerita anak-anak bekas, sumbangan dari murid-muridnya. “Kalau diperhatikan, anak-anak ini sebenarnya senang membaca. Jika ada satu orang yang membawa buku cerita maka buku cerita itu akan berpindah-pindah tangan dari satu anak ke anak lainnya,” kata pak Haryadi. Mereka membacanya sambil menunggu giliran bacaan mereka dinilai oleh guru mereka, atau jika giliran mereka sudah selesai. Lebih baik seperti itu karena saya sendiri sering mendapati anak-anak itu berkeliaran di luar TPA, bermain-main atau jajan di warung-warung yang bertebaran di sekitar TPA. Jika di hadapan mereka terpampang buku-buku cerita yang menarik, mudah-mudahan mereka lebih tertarik untuk membaca ketimbang bermain. Toh sepanjang hari mereka selalu bermain.



Artikel lain yang terkait:

No comments:

Post a Comment