Wednesday, June 15, 2011

Motivasi Ia Agar Percaya Dirinya Menawan

Seorang anak, sebut saja namanya Cindy – tumbuh menjadi wanita yang sangat tidak percaya diri dan minderan. Ia selalu merasa tak pernah bisa melakukan apapun, serba takut salah dalam memutuskan apa-apa. Ia selalu merasa ‘aman’ berada di belakang orang lain atau memiliki pendapat yang sama dengan kebanyakan orang. Ia takut membela pendapatnya jika pendapatnya akan menimbulkan kontroversi, untuk itu ia rela ‘berganti’ pendapat. Pada saat-saat kritis kemalangan psikisnya, ia merasa tidak memiliki harga diri, merasa hanya sebagai sampah yang tidak akan bisa melakukan apa-apa (kasihan yah L). Usut punya usut, ini karena dalam banyak hal ia terlalu banyak menerima kritik dari orangtuanya, bahkan saat ia dewasa. Pujian (baca: motivasi) dan kritik tak berimbang dalam hidupnya, mungkin 10% pujian, 90% kritik – jika di persentasekan. Misalnya saja dalam hal berpakaian, bisa saja ia tiba-tiba dikritik dengan, “Mengapa Kamu memakai baju itu? Jelek sekali.” Padahal tak ada yang salah dengan bajunya. Baju yang ia kenakan sopan dan masih sangat layak pakai. Sungguh disayangkan akhirnya, karena sebenarnya ia adalah seorang wanita yang cerdas jika teman-teman seusianya sudah sangat matang emosinya dengan rasa percaya diri dan harga diri yang mantap maka ia terpuruk dengan kerendahdirian dan harga dirinya yang serasa mati (suri).
Sekarang mari kita simak kisah salah satu orang besar di negeri paman Sam sana:
[Di sekolah] untuk pertama kalinya Lincoln mempunyai kesempatan bertemu dengan anak dari keluarga-keluarga lain dan mengukur kecerdasannya sendiri dibanding kecerdasan mereka. Dengan perawakan yang lebih tinggi dibanding siswa lain, dan kebiasaannya mengenakan topi bulu dari kulit racoon dan celana dari kulit rusa yang selalu kependekan, ia mudah diingat teman kelasnya sebagai “Si Abe Lincoln yang tulang keringnya selalu kelihatan.” Kendati penampilannya ganjil, ia dengan cepat dapat mengumpulkan siswa-siswa lain sebagai teman, membuat mereka tertawa dengan leluconnya, bercerita, dan menyusun rencana. Sejak awal ia telah menempatkan diri sebagai pemimpin. Teman-teman kelasnya mengagumi kemampuannya bercerita dan bersajak, dan mereka menikmati penampilan pertamanya berpidaro di depan umum. Di mata mereka ia betul-betul istimewa dan dari pengalaman bersekolahnya yang pendek, ia memperoleh bekal sifat percaya diri orang yang tidak pernah mendapat lawan setimbang. ( _ LINCOLN_ David Herbert Donald).
Anak-anak yang memiliki motivasi diri berharap akan berhasil dan tidak mengalami kesulitan dalam menetapkab sasaran yang tinggi bagi diri sendiri. Sebaliknya, anak-anak yang tidak termotivasi hanya mengharapkan keberhasilan yang seadanya dan, menurut psikolog Martin Covington, mereka menetapkan sasaran mereka di “tingkat prestasi terendah yang dapat diraih oleh seseorang hampir tanpa pengorbanan.” Seorang anak yang percaya bahwa ia seorang siswa yang ‘rata-rata’ saja dan tidak mampu mencapai nilai lebih dari itu akan secara sadar atau tidak sadar menggelar usahanya hanya untuk tingkat sedang-sedang saja, tidak peduli potensi intelektual yang mungkin dimilikinya[i].
Sejalan dengan yang dikatakan oleh Jane Nelsen, seorang family terapist dan co-author buku Positif Discipline, mengatakan bahwa 'rasa percaya diri tumbuh dari rasa memiliki, percaya bahwa kita mempunyai kapabilitas dan mengetahui sepenuhnya bahwa apa yang kita kerjakan adalah sebuah karya yang berharga[ii].
Orangtua sejatinya adalah sosok tempat anak-anak bergantung, bukan hanya secara fisik (untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka), tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka, seperti ‘pengakuan’ dan pujian yang kelak merupakan bekal berharga bagi mereka untuk memantapkan kepercayaan diri dan  harga diri sehingga mampu bersaing di kerasnya kehidupan pada zaman mereka nantinya. Motivasi orangtua perlu bagi mereka agar memiliki rasa percaya diri yang ‘menawan’. Sadarkah wahai ayah dan bunda?


[i] Lawrence E. Shapiro, Ph. D., “Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak”, Gramedia Pustaka Utama, 2001.

No comments:

Post a Comment