Sunday, December 25, 2011

Atas Nama Om Pai

       Ada suatu masa di mana Athifah sering sakit kaki. Biasanya mama memperingatkannya supaya tidak banyak melakukan gerakan meloncat dan berlari. Seperti hari itu, Athifah sangat bersemangat sehingga banyak meloncat dan berlari-lari saat bermain. Karena capek peringatannya tak diindahkan Athifah (ya, namanya juga anak-anak, lari dan loncat adalah bagian dari ‘pekerjaan’ mereka) mama berkata, “Jangan mengeluh kalau sakit kaki ya. Tidak boleh menangis!”
Malam harinya ia mengeluh sakit kaki. Bukan hanya mengeluh, Athifah juga menangis bahkan dengan suara yang amat keras. Sebelum menenangkan Athifah, mama mengeluarkan kata-kata keras kepadanya, “Sudah dibilang jagan menangis. Itu akibatnya kalau tidak mau mendengarkan!” Athifah pun berusaha menahan isaknya.
Isak tertahannya tak berlangsung lama. Athifah kemudian meledak lagi. Kali ini ia mengganti topik tangisannya, “Huuuuu Saya rindu om Pai.”

Mama terbengong-bengong. Sekarang sakit kakinya hilang dan berganti dengan perasaan rindunya yang teramat sangat kepada om Pai-nya? Ah, anak ini sudah pintar bersilat lidah. Agar bisa tetap menangis ia mengganti obyek tangisnya!
Mama merasa harus mulai bisa mewaspadai akal-akalan Athifah. Gadis mungil ini telah pandai bersilat lidah.
            Waktu tante Mirna (adik mama) beserta suaminya (om Pai) dan anak-anaknya (Ifa dan Faqih) baru datang dari Sorowako dua hari yang lalu, ia makan siang dengan semangatnya bersama tante, om, dan ato’ (kakek – red)-nya. Ia makan sendiri, tanpa disuap sama sekali (biasanya masih disuap, paling tidak di beberapa suapan terakhir). Sebuah prestasi bagi Athifah!
            Betapa sumringahnya wajah Athifah ketika mama memujinya. Tak berapa lama kemudian ia berkata kepada mama, “Mama, rasanya Saya mau makan sendiri kalau ada om Pai. Kalau tidak ada om Pai Saya maunya disuap.” Lho?
Makassar, 25 Desember 2011
Bagaimana menurut pembaca yang budiman, tampaknya Athifah seorang calon ahli retorika kan? J

No comments:

Post a Comment