Friday, December 30, 2011

Ketika Pengajar Agama Tidak Mampu Bijak

Dengan adanya program pemberantasan buta aksara al-Qur’an yang dicanangkan oleh pemerintah kota Makassar, sekolah-sekolah harus membuat program untuk membantu terlaksananya program ini. SMA saya juga memiliki program pemberantasan buta aksara al-Qur’an yang harus diikuti oleh semua siswa kelas tiga.
Program ini berlangsung selama beberapa hari, dari pagi hingga sore hari. Semua peserta harus ikut kegiatan dalam kelas juga ceramah agama dan shalat dhuhur/ashar berjama’ah di aula sekolah yang sekaligus berfungsi sebagai musala sekolah. Saya senang mengikuti kegiatan ini karena menyegarkan pengetahuan tentang tajwid yang sudah banyak terlupakan, di samping itu banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan.

Suatu hari saya yang sedang menstruasi hanya mengikuti ceramah setelah kegiatan dalam kelas. Karena setelah waktu ashar tidak ada kegiatan lagi, saya memberanikan diri meminta izin untuk pulang lebih dulu kepada guru agama. Bersama seorang teman berjilbab yang juga sedang berhalangan (ketika itu saya belum mengenakan jilbab), saya menghadap pak K di ruang guru.
Kami melewati pintu berwarna hijau dan memasuki ruang guru yang lengang. Di sebuah kursi kami mendapati pak K sedang mengepul-ngepulkan asap rokok yang diisapnya. Ia memandang kami dan bertanya, “Ada apa?” Kami menjelaskan maksud kami menghadapnya. Seketika terlihat ada perubahan dalam sorot matanya. Ia menatap kami lekat-lekat dengan lebih tajam.
Ia mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah saya lupakan hingga saat ini karena menggambarkan ketidakbijakan dirinya. Sangat kontras dengan profesinya sebagai guru agama. Ia berkata, “Betul? Tidak bohong? Jangan-jangan Kalian minta izin pulang cepat supaya tidak ikut shalat ashar berjama’ah!” Sungguh kata-kata yang menikam jantung. Seandainya tidak melanggar etika dan norma agama, ingin rasanya saya memperlihatkan noda berwarna di celana dalam saya saat itu juga!
***
Tahun pertama kuliah di fakultas Teknik, ada mata kuliah agama Islam yang disajikan. Mata kuliah itu disajikan sekali dalam sepekan. Dosen yang memberikan mata kuliah ini adalah sosok yang berperawakan kecil dan tegas, pak A namanya.
Suatu waktu pak A memberikan tugas membuat kliping yang harus diketik menggunakan mesin tik. Saat itu komputer masih sangat langka. Saya mengumpulkan bahan dengan mendatangi perpustakaan daerah milik pemerintah. Di sana saya meminjam dua buah buku agama. Saya juga mengumpulkan bahan dari majalah-majalah Suara Masjid milik paman saya yang kala itu berprofesi sebagai dosen di IAIN (Institut Agama Islam Negeri).
Saya menikmati tugas membuat kliping. Semua buku dan majalah yang saya dapatkan saya pelajari. Saya memilih topik dan menarik benang merah dari artikel-artikel yang sesuai. Berhari-hari, sampai begadang saya memikirkan struktur logika dalam isi kliping, mengetikkannya ke dalam berlembar-lembar kertas, dan kemudian menjilidnya. Tak lupa saya mengetikkan sederetan referensi yang saya gunakan. Ketika waktu yang ditetapkan tiba, saya mengumpulkan kliping hasil kerja kerasa saya itu dengan perasaan puas.
Hingga suatu ketika pada jadwal pelajaran agama ...
Ruangan PB (Perkuliahan Bersama) yang memuat sekitar 120 orang mahasiswa tahun pertama fakultas Teknik yang didominasi laki-laki itu terasa sesak. Saya duduk di antara sedikit teman-teman perempuan dalam ruangan itu. Pak A terlihat sedang mengamati tumpukan kliping hasil kerja kelas besar ini.
Pak A membolak-balik sekilas setiap kliping yang dipegangnya. Sesekali ia berkomentar. Lama juga menunggu ia memegang kliping saya. Akhirnya, hasil kerja saya terpegang juga olehnya. Dari tempat duduk saya, saya bisa melihat ia sedang memegang kliping yang saya buat. Ia kelihatan serius menyimak kliping saya selama beberapa menit. Betapa tegang perasaan saya. Jantung saya berdebar-debar, telapak tangan dan telapak kaki saya terasa dingin.
Kemudian pak A mengangkat wajahnya dan menatap kami. Ia bertanya, “Siapa punya ini?” Sekilas, terbit keinginan untuk memperkenalkan diri saya kepadanya sebagai pemilik kliping itu. Siapa tahu saja ia akan memuji karya saya yang cukup tebal itu. Rupanya ia hanya melontarkan pertanyaan retorika. Bibirnya lalu mengeluarkan kalimat, “Ini pasti dikerjakan oleh orang lain. Tidak mungkin di antara kalian ada yang bisa membuat kliping seperti ini.”
Bagai dipukul dengan palu godam lalu ditabarak truk kontainer kemudian kejatuhan meteor, sekujur tubuh saya terasa lemas. Jantung saya makin berdegup kencang dan telapak tangan serta telapak kaki saya makin terasa dingin padahal di ruang itu saya harus berebut oksigen dengan lebih seratus orang lainnya. Harusnya ruangan itu terasa panas. Tetapi kali itu tidak. Beruntung jantung saya sehat hingga saya tidak terkena serangan jantung. Ini kali kedua saya kecewa dengan seseorang yang berprofesi sebagai pengajar agama. Profesi itu ternyata tidak menjamin mereka menjadi bijak.
Makassar, 31 Desember 2011

Baca juga yang ini yaa:

No comments:

Post a Comment